Ujianku.. damn! / Menulis bagiku

Damn damn damn! Tadi ujian Pak Hafiz, bener-bener gak belajar, hanya jawab menurut logika.. well.. pelajaran tentang Sistem Informasi Kesehatan gitu. Tentang database dalam RS. Duuhhh!! Nyesel deh. Besok ada 2 ujian, harus belajar. At least baca laah, biar nempel. Felt sorry to my creator, kenapa gw menjadi orang koq malas seperti ini.

Minggu-minggu ini lagi baca novel Saman – Ayu Utami. Aku kurang suka dengan tidak-kronologisnya cara penulisan. Aku cukup bingung awal-awalnya, bingung siapa yang dimaksud dalam paragraf per paragraf. Tapi so far masih bisa catch-up (ketchup! Hihi). Kemarin aku nulis email buat Fira Basuki, belum kukirim, masih disimpan di draft. Aku jadi mencari-cari lagi bukuku yang Jendela-Jendela, Atap dan Pintu. Yang belum ketemu hanya Pintu.. 🙁 Aku mau baca lagi, biar ingat. Hari minggu besok aku diundang bos ku, Pak Willem Manansang, opening restoran barunya “Bulla” di Fatmawati. Rencananya sih mau pergi sama Jun-Jun, temen kerjaku. Mungkin sekalian hunting cowok lajang. Hahaha. Tapi kalo Jun-Jun gak jadi, aku pergi sama Hans aja (saudara sepupunya Willem), sekalian selesai pulang dari gereja. Makan gratis? Who knows..

***

Sejak 2 Oktober 2004, aku berhenti menulis diary. FYI, aku menulis diary tiap hari (tanpa absen) sejak SMP. Total ya kurang dari 10 tahun aku menulis diary. Sudah ngga tau berapa buku habis, tapi ya banyak. Biasanya aku menulis kronologis kejadian apa saja, yang bagiku mengesankan, dan membuatku mengingat banyak hal. Lebih dari capek yang kadang-kadang aku rasakan saat menulis diary ini, karena setiap sebelum tidur aku selalu menulis kegiatanku hari itu. Kadang juga aku hanya menulis “sekolah” atau “kerja” di tanggal itu, hanya karena memang tidak ada peristiwa yang spesial. Tapi saat ada kejadian yang sangat berkesan (misalnya, ciuman pertama dengan pacar baru – ceile) bisa-bisa aku tulis panjang lebar sampai tidak cukup di kolom hari itu. Hihihi.

Berhenti menulis diary adalah perubahan terbesarku. Bayangin aja selama 10 tahun (10 tahun kurang) aku menulis detail setiap hari apa yang kulakukan. Memoriku tentang masa-masa lalu masih bisa aku recall kembali. Tapi sejak aku berhenti menulis, aku menjadi pelupa dengan waktu, dengan tanggal, dengan memori-memoriku. Seakan-akan aku bukanlah siapa-siapa lagi. Aku tidak ada arsip nya, aku tidak ada catatan pengalaman, tidak ada bukti atas kejadian yang kualami. Sherly, saudara sepupuku yang di Malang meminta aku menulis tentang liburan beberapa hariku di Malang. Jujur saja, aku sudah lupa. Bukan karena aku tidak mau menulis. Maaf ya Sher.. aku kehilangan memoriku. Tapi yang pasti aku ingat adalah: kita dan Tante Henny bergosip seru sekali, kita makan ikan gurame bareng!!

Sekarang ini aku menulis blog, bukan artinya aku menulis kembali diaryku. Ini hanya merupakan coretan-coretan dari keseharianku yang mungkin butuh ku tumpahkan sedikit. Tidak berarti aku akan cerita sedetail mungkin tentang ‘bagaimana cowok ku menciumku’ atau masalah intern rumahku/keluargaku.

Menulis, bagi aku tidak mudah. Aku bukan penulis jagoan. Vocabulary-ku minim. Bahasaku tidak formal. Lihat saja penulisanku di diary ku (eh, ngapain ya aku tunjukkin, karena memang ngga ada orang yang pernah melihatnya). Penulisanku, bahasanya seperti reportase, “dingin” (dikutip dari Monolog E-mail). Sejak SD aku tidak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Nilaiku selalu pas-pasan. Aku benci mengarang (sampai sekarang juga). Tapi aku suka bercerita, khususnya tentang diriku, atau tentang hal lain yang kuketahui. Aku juga suka begosip (gosip = menceritakan tentang orang lain). Pas aku SMA, aku ingin sekali membuat cerita tentang diriku (mirip novelnya Mira W.) lalu sempat berpikir untuk merekam pembicaraan ceritaku yang lalu ku rewind dan ku ketik, tapi aku malas, jadi tidak pernah ku coba.

Sejak aku berhenti menulis diary, kegiatanku bertambah, yaitu menulis email dengan teman chat-ku. Kebetulan dia seorang penulis ulung, yang lama-kelamaan gaya menulisku agak mengikuti dia. Aku mulai menulis, merangkai kata, memikirkan kata apa yang akan kupakai, beberapakali menghapus kata, sampai menghapus paragraf. Aku punya tujuan dalam menulis kali ini. Tujuan yang pastinya lebih tinggi kepentingannya daripada mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran bahasa indonesia.

Aku tidak membutuhkan rokok dan kopi untuk berpikir. Parahnya, aku butuh makanan (either makan nasi dengan lauk ataupun camilan) supaya otakku bisa bekerja – berpikir. Ngga heran seminggu sesudah ujian Ebtanas SMA, beratku naik dari 50 menjadi 56 (yg sampai sekarang tetap 56) karena selama sebulan aku beberapa kali makan Pho Hoa – mie vietnam – my fav food. Menurut Sherlock Holmes, dia harus berpuasa (top score nya 3 hari) dan merokok seperti lokomotif supaya dapat memecahkan kasus. Menurut Sherlock, kalau dia makan saat ada kasus, maka banyak darah yang bekerja di ususnya, bukan di otaknya – untuk berpikir. Well.. ternyata teorinya tidak cocok dengan tubuhku.

Btw.. maaf di potong.. ada yang ngajak chat. Kapan-kapan kulanjutkan..

You Might Also Like

One thought on “Ujianku.. damn! / Menulis bagiku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *