Bosan Aku

Sejak kemarin aku mengeluh, AKU BOSAAANNN!!!

Aku bosan dengan ritualku, tiap pagi berangkat kantor di jam yang sama, jalan yang sama, macet yang sama. Aku bosan duduk di kantor yang ini ini juga, sepi, kerjaan yang sama, suasana yang sama.

Aku bosan dengan rumahku yang bentuknya seperti ituuuu terus (??!!) hehehe. Gara-garanya rumahku interior lama, sedangkan tetanggaku malah baru merenovasi rumahnya jadi lebih kontemporer + minimalis. Tidak jauh dari rumahku, ada rumah lama yang sekarang sedang dibongkar dan mulai direnovasi interiornya. Dari pagarnya saja udah kelihatan minimalis. Apalagi dalamnya.

Aku bosan dengan keadaanku yang kuliah belum selesai, kerja magang, sambil bikin laporan magang dan skripsi, sambil kerja. Aku ingin kerja ditempat lain, di kota lain, di negara lain. Aku ingin keluar dari rumah. Aku ingin punya rumah sendiri. Aku ingin pekerjaan yang lain.

Aku bosan dengan isi kamarku. Aku memang pengumpul barang. Semua barangku ada di kamarku. Sumpek. Bukan menjadi kamar tidur lagi, tapi menjadi ‘rumah kecilku’. Aku bosan dengan lemari-lemari yang penuh baju dan segala macamnya, laci-laci yang penuh kertas dan buku.. sumpeekkk!!! Hari minggu aku sempet nonton acara kamar gue yang isinya mirip dengan bedah rumah. Aku pengen merubah kamarku, tapi ngga mau keluar uang lagi.

Tahun lalu, Junjun bilang bahwa aku cepat bosan. Ah masa? Aku ngga menyadari. Tapi sekarang aku merasakan bahwa aku bosan. Tapi aku ngga mau digeneralisasi bahwa aku cepat bosan orangnya. Tidak semuanya aku bosan koq. Hey, aku belum bosan blogging kan? (Tapi udah bosen sama leyot nya, wekss).

Tadi pagi, aku bangun jam 5, melihat kamarku, makin sumpek. Aku bangunin mbakku (maaf ya mbak) minta bantuan tenaga, aku mau relokasi isi kamarku. Tempat tidur geser, meja sebelah tempat tidur ganti sisi, lemari buku jadi nempel sama tempat tidur, meja komputer pindah posisi, lemari baju pindah tempat, gitar juga pindah tempat. Hanya meja rias yang ngga bisa pindah, karena kacanya sudah nempel sama tembok.

Isi dari lemari mulai dibongkar. Buku-buku ditata lagi berdasarkan besarnya. Buku-buku kuliah dimasukin ke kerdus. Kertas-kertas disortir untuk dibuang yang tidak perlu. Ternyata banyak juga yang aku buang (??!!). Tidak terasa sudah jam 9!! Waaa.. aku kan masuk kerja jam 9!

081 Sekian Sekian Sekian

Semalam aku bermimpi tentang nomor hape ku tersayang. Tidak begitu persis gimana cerita mimpinya, tapi membuatku bangun dan memikirkan tentang nasib nomer ini. Lho, mimpi koq tentang nomor hape. Begini ceritanya..

Sekitar Maret 1999, mamaku pulang membawa 1 tas hasil beli sesuatu di toko. Biasa laah, aku datang dan langsung ngintip barang beliannya, kali aja buat aku. Aku menemukan 1 kotak perdana bergambar matahari bersinar yang saat itu harganya seratusribuan. Wah!!

Awal pemakaian, voucher seratusribu perbulan pun cukup. Apalagi layanan sms pun belum ada. Kalaupun ada, masih terbatas dengan sesama provider.

Memasuki masa kuliah, disarankan untuk mengganti nomorku yang masih prepaid menjadi postpaid. Hitung-hitung sih jadi lebih murah. Datanglah aku ke gedung Artha Graha untuk apply upgrade. Memakai postpaid membuat aku lebih dewasa dalam mengatur pemakaian, juga memudahkanku untuk mempunyai akses menelpon kapan pun tanpa memikirkan sisa pulsa yang ada.

Layanan dari provider ini sudah menemani aku ke ber-roaming-internasional-ria saat perjalanan ke Yugo. Biayanya, aduh mak! Jangan ditanya. Kapok! Padahal sudah mewanti-wanti diri sendiri.

Sampai Lebaran tahun 2004, provider ini sedang mengupgrade layanannya untuk merger dengan dia. Akibatnya, pengiriman sms di hapeku bermasalah (sering tidak terkirim & susah menerima) meskipun untuk cuap-cuap masih bisa. Kata temanku yang kerja di sini, masalah ini akan berakhir bulan Febuari.

Tidak tahan, aku selingkuh. Aku beli nomor perdana lain, dengan berharap mendapat tarif yang lebih murah dari prepaid provider lainnya. Khususnya untuk sms. Sudah dua bulan lebih, aku kangen dengan nomor lamaku, yang telah menemani aku selama 6 tahun.

Maafkan aku telah selingkuh dengan partner merger mu, meskipun sekarang kalian dibawah satu bendera. Aku merasa bersalah. Mulai minggu depan aku akan menggunakan mu lagi. Berikan aku kesempatan untuk menjadi pelanggan terbaikmu.

Second Day

Hari ini hari kedua setelah aku resmi menjadi jomblo (oh no.. I hate this word). Aku kembali kerja seperti biasa, sudah bisa menjalani hari-hariku. Hatiku sedang dalam proses penyembuhan. Aku sudah bisa menghadapi dunia lagi, tidak terpuruk seperti kemarin malam.

Iya, kemarin malam aku sempet stress seperti orang gila. Ngga nafsu makan, air mata mengalir, resah, nelpon-nelponin tanteku untuk curhat. Totally kemarin tuh ngga sarapan, lunch hanya 3 suap, malamnya hanya makan 1 potong sushi maki (kira-kira 2 suap lah). Itupun ngga bisa diteruskan lagi, kalo tidak aku bisa muntah. Aku capek, jadi langsung tidur.

Pagi ini perasaanku aneh. Tidak lagi grieving, tapi seperti ngga punya perasaan. Tidak beremosi. Datar. Tidak dipungkiri bahwa dirinya masih terus berseliweran dipikiranku, tapi come and go, tidak konstan. Rupanya inilah tahap dari masa-masa sehabis putus. Hari ini belum juga sarapan. Sebentar lagi jam lunch, juga belum bernafsu makan. Pelan-pelan lambungku mulai demonstrasi. Tapi aku diamkan. Aku takut muntah. Mesti pelan-pelan makannya.

Mulai kembali kerja, aku pasang lagu-lagu lama. Beberapa lagu mp3 yang bagiku mengingatkan masa-masa 4-5 tahun lalu. Saat aku sering berlibur ke Zenta. Susana di Zenta tidak pernah membuatku terpuruk. Tidak seperti di Jakarta, dimana semua break-up terjadi di Jakarta. Zenta akan masih menjadi masa menyenangkan untuk dinikmati.

Zenta itu kota kecil. Lebih kecil dari Malang. Populasinya juga sedikit. Hanya terdapat 1 pasar/market dan 1 pom bensin. Kota ini sudah lebih dari 20 tahun tidak berkembang. Mungkin karena pemerintahan Yugoslavia yang masih belum berjalan normal. Zenta akan tetap menjadi tempat tenang bagiku.

Setiap hari dimusim panas, bangun jam 11 siang, langsung makan siang bertiga bersama kakek dan nenek. Sesudah itu mereka tidur siang, aku naik sepeda menuju kolam renang. Satu-satunya kolam renang di kota Zenta, dan dipenuhi anak muda, anak kecil dengan keluarganya, dll.

Perjalanan ke kolam renang melewati alun-alun kota yang sangat dekat dengan rumahku. Lalu ada jalan turunan yang melewati rel kereta api. Di sisi kiri terdapat taman kota yang mirip hutan saking lebatnya. Tapi dibalik lebatnya terdapat lapangan basket, ada 1 penginapan tertua, tempat camping, tanah kosong yang luas, dll. Di sisi kanan terdapat dam. Bentuknya tanah yang ditimbun sampai setinggi 100 M (kalo ngga salah) dan sisi kiri kanannya landai ke bawah. Dipuncaknya, terdapat jalan yang hanya selebar untuk 1 mobil. Jalan di atas dam ini tidak untuk mobil tapi untuk sepeda. Kadang aku lewat atas dam karena tempatnya tinggi dan bisa melihat sekitar dengan matahari yang tidak terik, angin yang segar, dan wangi pepohonan pinus di seberangnya.

Kegiatan ke kolam renang setiap hari sudah menjadi kebiasaan anak muda disana. Kalau saat aku umur 14-an, banyak cowok-cowok ganteng berumur 20-an yang sedap dijadikan pemandangan. Sekarang, cowok-cowok ganteng yang seumuranku (20-an) lah yang menjadi teman-temanku. Banyak yang ngajak kenalan, banyak yang tertarik untuk kenal denganku. Lho.. aku satu-satunya yang berwajah asia di sana. Malah dikira aku dari Filipina. Hahaha…

Tapi rata-rata mereka kenal dengan keluargaku. Kakek nenekku orang lama di Zenta. Orangtua teman-teman ku pasti kenal dengan mereka. Meski percakapan kita tidak begitu lancar, tapi kita menikmati candaan, cerita lucu dan permainan lainnya. Biasanya kita main voli pantai di sebelah kolam, kadang berjemur sambil ngobrol dan ngemil pancake (khas Zenta). Kalau kepanasan ya tinggal lari ke pinggir kolam dan loncat ke dalamnya. Seru! Aku dan cowok-cowok itu suka main lempar bola voli di kolam yang dalam. Atau main perang-perangan sambil naik di bahu temannya di kolam yang tidak dalam. Yang paling aku suka adalah berdiri di pinggir kolam, pegangan tangan beramai-ramai, berusaha menjatuhkan teman kiri/kanannya ke dalam kolam. Wuah, kalau sudah itu, sampai teman-teman yang dibelakang kadang ikutan curang menjatuhkan kami semua.

Semua ini mengingatkan aku akan memori menyenangkan. Bahwa aku tidak sendiri. Bahwa hidupku tidak berhenti karena kejadian kemarin. Bahwa masih ada teman-temanku somewhere out there. Teman lama, teman baru.

Mengingatkan aku akan jam lunch sebentar lagi.. hmm makan apa ya?

Growing Pain

Hidup ini penuh dengan yang namanya pelajaran. Salah satu pelajaran yang aku terima weekend ini, akan ku ceritakan. As always, setiap kejadian mesti ada hikmahnya. Tapi kita hanya manusia. Tidak bisa menjadi perfect, meski tetap berusaha menjadi yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Bagaimana ya memulainya? Not as easy as I think.

Being in relationship, aku belajar banyak. Belajar mengenal pribadinya, kesukaannya, kebiasaannya, sifat-sifatnya, cerita-ceritanya. Hubungan kami penuh dengan kata-kata. Apapun kami bicarakan. Apapun kami sampaikan. Ia tahu semua tentang aku. Aku ingin dia mengerti aku, menerima aku apa adanya.

Dia memang soulmate ku. Sejak pertama sudah kurasakan. Ia juga merasakan hal yang sama. Semuanya kita cocok, semuanya bisa kita lewati. Banyak yang dia mengerti tentang aku. Banyak juga aku mengerti tentang dia. Hanya ada satu hal yang melekat dalam dirinya (maaf, ini confidential) yang tenyata membubarkan kami. Kami saling cinta, saling sayang.

(maaf, ambil tissue dulu, air mataku ngga berhenti mengalir).. emang dasar cancer, kalo ‘hati’ sudah luka, pasti daleem.

Kemarin sore kita memutuskan untuk berpisah. Berat.. sangat berat. Berat bagiku, berat baginya. Kita berpelukan. Kita menangis.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan mendatang. Satu hal yang aku tahu bahwa aku sudah menemukan soulmateku, tanpa bisa memilikinya.

So, pelajaran apa yang bisa aku ambil? Aku jadi lebih sabar, lebih dewasa lagi (growing up is infinity). Temanku bilang, “growing pain”. Pas aku tanya maksudnya, dia bilang “karena pada saat merasa menderita.. lo sebenernya tumbuh..”.

Darcie oh Darcie

Semalam Darcie terlihat sakit saat aku baru pulang dari kerja. Matanya merah, hidungnya juga, badannya kurus kering kerontang. Saat kubelai, Darcie hanya mengeluh kecil. Tidak seperti kucing biasanya. Aku panik. Kubawa Darcie ke Vet.

Cerita punya cerita, rupanya minggu lalu Darcie ke-gap sedang makan tikus. Ih.. jorok gitu loww.. dan beberapa hari yang lalu sempet muntah-muntah. Ketika diperiksa sama dokter, kemungkinan yang ada adalah terinfeksi bakteri Leptospirosis atau termakan racun tikus. Semua sumbernya gara-gara menu Darcie minggu lalu. Darcie diberi resep amoxilin dan curcuma plus untuk vitamin supaya agak chubby* dikit.

Malamnya, sang supirnya mamah, Pak Yusuf, disuruh ke apotik untuk menebus resep. Tunggu punya tunggu..
“Sudarsi.. Sudarsi” kata mbak apoteker.
Pak Yusuf mah tenang-tenang aja, sambil ngantuk dan memilin kumis tebalnya.
“Sudarsi.. pasien Sudarsi” kata mbak apoteker lagi, sambil melototin Pak Yusuf.
Pak Yusuf jadi salah tingkah, dalam hati: ‘Rasanya di rumah ibu ngga ada yang namanya Sudarsi koq, adanya Golda, Tibi, eh.. ?!’
“Mbak, obat nya buat hewan ya?” gelagapan Pak Yusuf maju ke si mbak apotekernya.

Sejak kapan Darcie berubah namanya jadi Sudarsi?? Rupanya cekikikan dari cerita mbakku yang membahana inilah yang membangunkan aku pagi ini.

* chubby = calon babi?