Phó (Vietnamese Beef-Noodle Soup)

Bahan:
1 porsi Banh Phó (mie beras) – rebus dan tiriskan
5 lembar gaging sapi tipis (yg biasa untuk sukiyaki) / beef flank jika ada
Air untuk kuah nya – seberapa anda suka

Bumbu-bumbu:
1 block kaldu sapi
½ sdt bubuk cardamom
½ sdt bubuk pala
½ sdt bubuk kayu manis (cinnamon)
3 sdm Nuoc Mam (Vietnamese fish sauce)

Tambahan:
Cabe hijau beberapa – potong tipis-tipis
Bawang bombay – potong menjadi onion rings (hanya perlu 2 atau 3 saja)
Sejumput daun kemangi (cilantro)
Sejumput tauge (atau cambah, kata orang jawa)
1 potong jeruk nipis

Masukkan air untuk kuah di panci kecil (yg biasa untuk masak mie instant) dengan api kecil. Masukkan lembaran daging sapi tipis. Masukkan kaldu daging sapi, semua bubuk dan nuoc mam. Bila daging sudah matang, kuah siap dihidangkan dengan rebusan mie Pho dalam mangkok. Hidangkan tambahannya sebagai pelengkap.

Sebelumnya perlu eiks jelaskan bahwa resep ini didapat bukan dari nyolong resep di resto Pho Hoa (secara gw penggemar berat mie Pho Hoa), tetapi berkat si Mbak Susi (X-pembantu nyokap) yang amat sangat jago masak, yang tinggal nyicipin mie Pho Hoa-nya & bisa menjabarkan rumus-rumus bumbunya. Alhasil, rasanya mirip abisss!! So, gw ngga perlu ngabisin duit 25.000 unt porsi sedang / 50.000 untuk porsi besar (kalo lagi kemaruk) di Pho Hoa.

Been There, Done That

Sejak SMA kata “illfeel” mulai dikenal masyarakat khususnya ABG seperti saya. Illfeel itu maksudnya Ilang Feeling (bagi om, tante, kakek, nenek yg blm pernah denger). Biasanya pas masa-masa pacaran yang lalu diakhiri dengan putus, ketika di’wawancara’ sama sahabatnya, dia menjawab: “gue ilfeel sama dia”.

One of my friends told me, bahwa dia udah ilfeel sama pasangannya. Muak + no faith + males = ilfeel. Penyebabnya bisa jadi karena kerenggangan yang berlangsung cukup lama, yang makin hari terpupuk menjadi borok, bernanah, sakit dan akhirnya harus diamputasi (ibaratnya putus).

Kelas 3 SMA aku pernah nerima ‘tembakan’ seorang cowok yang sebenernya tidak terbesit untuk suka dengannya. Saat itu aku baru putus dari 1.5 years relationship, jadi masih sedih. So, jadian kali ini karena ‘pelarian’ (sebuah kata yg ngga enak didenger.. memang). Alhasil, berakhir dengan ilfeel.

3 thn yg lalu, mulai pacaran sama seorang jejaka yg bener2 straight, ngga ngerokok, ngga minum2an, ngga minum kopi, ngga pernah nyoba ngobat, sayang anak kecil, dan sederet kebaikan lainnya. Wah, good to be true, eh? Tapi toh putus juga, gara2 ilfeel. Lho knapa? Komunikasi dan ego. Tiap kita debat 75% selalu berakhir dengan ‘ngambang’. Makin lama makin ngga tahan, dan akhirnya menjadi ilfeel yang kronis (berkepanjangan).

Masalahnya sekarang, gimana bila keadaan ilfeel memasuki sebuah perkawinan?

Tanteku yang baru menikah 3 tahun ku wawancara. Kebetulan beliau telat menikah & pernah pacaran sampe 10 thn dan putus. So, pengalamannya panjang juga. Di perkawinannya ini beliau menegaskan bahwa sejak awal untuk selalu terbuka, jujur dan selalu berkomunikasi. Kalau ada sedikit yang kurang ‘sreg’ musti/kudu dibicarakan dengan terbuka dan rendah hati (jangan bersikap ngga mau kalah).

Memang, kalo ilfeel sudah meracuni, sangat susah untuk mengobati. So, lebih baik dihindari. Saat pacaran, putus akan lebih mudah menjadi jalan pintas untuk menghadapi ke-ilfeelan yang makin lama makin menyesak. Tapi kalo udah menikah, akan lebih sulit. Bisa jadi mayoritas para selebritas kita cerai karena ilfeel berkepanjangan, iya ngga?

So, ilfeel dilanjutkan dengan putus? Been there, done that.