Ketakutanku (part 1)

Aku yakin kalian pasti pernah ditanya: “binatang apa yang paling kamu takuti?”. Wah, jawabannya bisa macam-macam. Ada yang takut ulat, ulat bulu, cacing, kecoak, cicak, tokek, ular, tikus, sampai binatang besar seperti harimau, gajah ataupun anjing (bagi yang trauma digigit anjing). Beberapa waktu lalu aku diberi pertanyaan ini. Duh, dengan berapi-api aku bercerita:

Aku ingat, aku masih SD kelas 4, aku nonton Arachnophobia. Film ini menceritakan tentang laba-laba pembunuh manusia yang lumayan cerdik. Nontonnya tidak sengaja, jadi bukan maksud khusus menonton film ini. Tapi karena nontonnya pas aku masih kecil, mau tidak mau kengerian akan laba-laba membekas di kepalaku, walaupun kita tahu film itu fiksi. Akhirnya, aku menemukan binatang apa yang paling ku takuti: laba-laba.

Kami sekeluarga masih tinggal di rumah kecil di pondok indah. Suatu malam sekitar jam 1, aku bangun karena mau ke WC. Kamarku gelap, tapi dapat sedikit sinar lampu dari luar. Samar-samar aku melihat laba-laba di dekat tempat tidurku. Aku jijik, langsung bangun dan menyalakan lampu. OH MY GOD! Ada laba-laba dengan diameter 5 centi!! It was so big! Aku kaget, jijik, takut, aku lari ke kamar mama, hampir nangis. Mama seakan tidak percaya, dia ikut ke kamarku.

Hampir saja laba-laba itu kabur, huh, untung masih kita temukan. Aku sudah takut bukan main, sampai memutuskan untuk tidur di sofa luar. Mama, yang seorang penggemar binatang dan serangga (pastinya tidak takut dengan segala macam binatang/serangga) mulai meneliti detail dari laba-laba itu, kenapa bisa masuk kamarku (iya!! Kenapa bisa ada di kamarku???). Mama pun baru pertama kali melihat laba-laba sebesar itu. Damn, aku udah ketakutan dan hanya bisa ngintip dari belakang tubuh mama, sambil was-was kalau ada laba-laba lain lagi di kamarku.

“Golda, ambil palu”. Ha? Palu? Tapi ku ambil juga di laci penyimpanan di luar kamarku. Aku tidak berpikir lagi saat mama menyuruhku untuk ambil palu. Buru-buru ku ambil. Mama pun ambil ancang-ancang, dan sempat memukul beberapa kali sampai tiba-tiba berhenti.

“Kena Ma?”. Mama diam saja. Pelan-pelan kudekati, pelan-pelan kuintip. Terlihat badannya laba-laba seperti menciut, mati, tidak bergerak, tidak keluar isinya (seperti kosong), dengan kaki-kakinya copot semua dari badannya. Aku bingung, koq laba-laba mati seperti meledak, sambil melepaskan semua kaki-kakinya. What the hell, bagus deh udah mampus! Ketika mau dibersihkan, mama bilang “Lho, koq kakinya hanya ada enam? Dua lagi kemana?”. Damn, dicari-cari juga ngga ketemu! Aku takut.. hiiyyyy..

To be continued.

You Might Also Like

12 thoughts on “Ketakutanku (part 1)
  1. \”rumah kecil di pondok indah\”

    mana ada rumah kecil disono….
    tukang boong neeh…. 😀

    ah, cuma laba laba…
    daku habis bunuh yg lebih gede lagi noh….
    *sambil nunjuk2 didats.net*

  2. sadis… sadis… !!! laba2 dipalu… sadis!!

    eh.. katanya mo cuti menulis di blog? lha ini apaan? ngelindur? 😛 Pasti lagi stuck dan bosen ya mo nulis laporan… hehehe… Semoga nulis ini bisa membuat simpul2 di otak yang bikin mampet bisa ancur dipalu dan lancar lagi melanjutkan bikin laporan dan skripsi 😀

  3. golda, laba2 nggak perlu ditakutin. aku melihara beberapa di kamar, serius*baca, males ngebersihin kamar*. lumayan, buat nangkepin nyamuk.

  4. d = 5cm: tarantula?

    eh, lebih takut mana … laba-laba atau otak yg mampet smp gak bisa nulis skripsi? ^_^

    u ll answer both, i believe …

  5. tadinya mo cuti, mas Q, tapi ternyata cuti menulis blog = stuck tidak bisa menulis paper. So, tulis menulis kembalee..

    Doel, gak laa… bawa sandal jepit ajah! Hehe

  6. dear papa nyemot.. wekss.. emang namanya soulmate sampe tau \’ketakutanku\’ yang sebenarnya!

    aarrgghhh… jangan tarantula deh.. jangan segala macam laba-laba model apapun. laba-laba karet pun akyu takyutttt!!!

    harus harus dan harus menyelesaikan skripsi! huh…

  7. I remember this incident, Golda was totally hysterical and when she put her two hands together to show me how bid the spider was; I didn\’t believe it at first, I thought she was exaggerating. Well, this time she wasn\’t.
    I usually use my trusty flip-flops for dealing with roaches around the house, but judging by the size difference between the average roach and this creature, I decided that extreme measures were called for, hence the hammer. I also imagined that the spider\’s body would be very tough, and resistant to blows, like an armour.
    Much to my astonishment when I hesitantly rapped on it once with the back of the hammer, it immediately tumbled to the floor and all its legs came off in the process. It never even tried to scuttle away. Once the deed was done, I felt sorry for the poor creature, it didn\’t deserve to die just for being unwelcome in Golda\’s room. I suspected it posed no danger, despite its enormous size, but Golda was too terrified. Had I come accross it alone, I would have tried to study it quietly and make friends with it. I am quite fascinated by insects, and spiders are one of my favourites.
    Afterwards I found out that, just as I\’d guessed, this kind of spider was perfectly harmless despite its size. Locally it\’s often seen in cowsheds, so one can wonder what exactly had attracted it to my daughter\’s room in the first place…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *