Somogyi Laszlo

Sekitar 3 jam yang lalu aku dapat kabar bahwa kakekku dari mama yang di Senta, Yugo sana, meninggal. Aku mendengar isak tangis mama di telpon, saat aku sedang sibuk nge-print hasil akhir laporan magang dan laporan manajerialku.

Kakek pernah bilang, “Aku berhasil mencapai umur 70! Tapi aku tidak tahu berapa tahun lagi sebelum aku meninggal”. Kakek lahir 26 Agustus 1934, dan meninggal 20 Mei 2005. tinggal 3 bulan lagi kakek berumur 71.

Aku adalah cucu kesayangan dari keempat kakek nenekku. Tapi bagi kakek nenek di Yugo, aku adalah cucu satu-satunya (sebelum adikku lahir saat aku berumur 12 tahun). Sejak aku kecil sering dibawa mama ke Senta. Bahkan beberapa kali aku terbang sendiri ke Senta tanpa mama.

Sakit kakek adalah diabetes dan hipertensi. Ah, memang penyakit orang tua yang tidak menjaga life-style dan makanannya. Meskipun diabetes, kakek tidak pernah menjaga makanan.

Hari rabu kemarin nenek telpon mama. Dia bilang “ayahmu masuk rumah sakit”. Mama segera mengurus jadwal pesawat tercepat untuk ke sana. Hari kamis aku sibuk kerja seharian. Ternyata mama juga sibuk menelpon rumah sakit, nenek, bahkan keluarga Kori (my ex) untuk mengurus kakek. Duh, satu-satunya keluarga terdekat (adik kakek) ada di Budapest. Selain dia ya tidak ada siapa-siapa lagi. Bisa dibayangkan nenek mengurus semuanya sendirian?!

Hari jumat (hari ini), aku ditunggu PL (pembimbing lapangan) di RSPI untuk mengumpulkan laporanku. Mama sedang mencoba menelpon rumah sakit di Senta untuk tanya keadaan kakek dan insulin tipe apa yang perlu dibeli dari sini. Aku sedang tidak mendengarkan percakapan mama, tiba-tiba mama menangis. Jheezz, kakek sudah meninggal.

Semua ini berlalu sangat cepat.

Sungai Tisza

Rupanya hari rabu sore kakek sudah mau ke rumah sakit dengan jalan kaki sejauh 4 km. Yah, kakek tidak mungkin lagi naik sepeda ataupun mobil. Tapi kakek tidak segera ke rumah sakit, melainkan ke pinggir sungai yang berada dekat dari rumah mereka. Sepertinya kakek takut ke rumah sakit. Rupanya kakek pingsan disana, ditemukan oleh seseorang, dan terdapat buku berobat ke rumah sakit. Jadi kakek dibawa dengan ambulance. Nenek pun baru tahu setelah menelpon ke rumah sakit, bingung kenapa kakek tidak pulang juga.

Besoknya saat ditengok nenek, kakek meracau dan tidak ingat siapa itu nenek. Malamnya, kakek sudah tidak bisa ngomong. Tapi mama sempat telpon ke hape dan diperdengarkan ke kakek, mama bilang “aku akan datang hari sabtu, tunggu dulu di rumah sakit. Nanti aku datang, baru kita pulang sama-sama ke rumah”. Kakek hanya bisa mengangguk.

Besok pagi saat jam observasi suster 06:30am, suster baru menemukan bahwa kakek sudah pergi. Kakek meninggal tanpa ada siapa-siapa disampingnya.
Mama sudah merelakan kakek pergi. Aku? Aku sudah lama sekali tidak bicara dengan kakek di telpon. Aku menyesal.

Bocsács meg, Nagytata, hogy ritkán beszélgetlünk telefonon. Téged nagyon szeret mindörökké a Te unokád, Golda.

Me & Apu (nagytata)

You Might Also Like

15 thoughts on “Somogyi Laszlo
  1. Golda, walaupun kita gak kenal, gw turut berduka cita, semoga arwah beliau mendapat tempat yang baik di sisi Allah, dan semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

  2. Sayang …. yg sabar ya. Kakek Somogyi pasti masuk surga …. Doain kakekmu ya, aku juga doain ….. yg rukun sama mama, tibi …

  3. kesian kakekmu, gak ada yg temenin….
    didats ikut sedih… 🙁

    itu foto sama mpok waktu kecil?
    wah… badanya besar ya

  4. kehilangan seseorang yg kita cintai sll mendatangkan pertanyaan besar: apakah kita pernah membahagiakannya? apakah kita masih punya berderet kesalahan n blm minta maaf?…semoga kamu sudah melakukan keduanya, apalagi kamu adalah cucu kesayangan. aku yakin beliau akan damai disisi-Nya. jgn sedih ya!

  5. makasih Sherief.. duh .. musti kuat deh aku.. aminnnn

    Papa Nyemot, iya makasih yaa perhatiannya.

    Didats! nakal! iya itu gw waktu kecil + kakek.

    Jadi inget2 ttg kakek, mas Bagus. Kita dulu suka brantem (cela-celaan, iseng2an) soalnya kita berdua tukang iseng. Tapi aku kerasa banget kalo dia sayang banget sama aku.

  6. I\’m at the airpot, waiting for my flight that will take me back to Zenta to carry out my last duty for Father in this lifetime: Mother and I will bury him on Tuesday, 24th May, at 2 p.m. local time (19:00 WIB).
    I still have another hour or so till takeoff and I\’m passing my time browsing. I\’ve just read the In Memoriam entry and I\’m touched that Father got so many prayers from Golda\’s blog readers. Hopefully Father\’s spirit is rejoicing up there in the big web!
    Thank you, dear Golda for writing this!

  7. I just read your account on the circumstances surrounding the tragic departure of your grandfather in Senta, Yugo. Your writing indicates that you must have loved him very much. Please accept my condolences for you and your family and seek solace in the Lord..

  8. terima kasih teman2.. kita dah rela.. kakek memang lebih baik di atas sana.
    mama masih di senta ngurusin pemakaman dll..

    dear FRIEND, makasih juga (eh ini siapa ya?)

    Baskin, yg gw kuwatir, gmana nenek hidup di Senta sendirian.. tapi yah, itu pun akan mereka berdua bahas koq.

  9. turut berduka cita. salam duka juga dari nyokap. nyokap udah tau tapi gw baru tau pas lihat blog loe hari ini.
    btw: akhirnya lihat juga foto kecilnya. en bisa main sepatu roda juga ya ??

Comments are closed.