Cuaca Sumuk & Dingin

Minggu pertama kedatanganku ke Malang sudah siap sedia dengan jas hujan model raincoat yang kancingnya di depan. Berharap bisa dipakai saat naik motor, juga saat nyegat bis. Sudah capek-capek bawa (walopun sudah dilipet2 sampai kecil) eh malah tidak sekalipun dipakai. Hujan memang turun tapi tidak di saat-saat aku berangkat kerja ataupun pulang kerja.

Minggu kedua aku membeli jaket parasut yang kalau dilipet-lipet, volumenya lebih kecil dari raincoat dan bisa dipaksa masuk ke tas ku. Yeah, selain bikin hangat saat naik motor pulang kerja, juga bisa menahan air hujan membasahiku.

Nunggu menunggu, kenapa ya hujan koq gak dateng-dateng? Yang ada malah sumuk, sumuk dan sumuk !!!! Beli jaket, gak pernah dipake. Payah..

Minggu ketiga, berangkat dari Renon ke Terminal Ubung untuk pulang ke Terminal Arjosari, tiba-tiba hujan deres banget. Buset dah! Kyk gak pernah hujan sebelumnya aja. Tapi ya harus tetap berangkat karena udah beli tiket daripada hangus. Ganti sandal suede biru dengan sandal jepit pink, lipat jeans sampai se-lutut, pakai jaket parasut dan helm. Siap berangkat, Bli Den! Kita bermotor ria sambil sambil merapatkan diri supaya ngga basah dan kedinginan. Bali dingin? Jarang-jarang tuh.

Sesampainya di Terminal Arjosari subuh-subuh, naik ojek ke rumah. Huii… dinginnya Malang-ku ini. Aku jadi ingat pas kecil dulu.. malam-malam aku dan papaku keluar rumah untuk cari makan di daerah Rampal. Kami hanya memakai kaos, celana pendek dan sandal, sambil bermotor ria. Huii… dinginnya..

*meringkuk di kasur sambil selimutan*

You Might Also Like

4 thoughts on “Cuaca Sumuk & Dingin
  1. kayakya pepatah orang tua dulu lebih berguna dan gampang dilaksanakan deh…yaitu “Sedia Payung Sebelum Hujan”, lagiankan gak ada pepatah ” Sedia Raincoat Sebelum Hujan” udah gitu ribet lagi, dan kalo payung juga bisa jadi senjata atau buat ngusir “makhluk Aneh”…gitooo Looh…Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *