Maya’s Story

Wikenku kemarin kuhabiskan bersama Sherly, menginap di rumah Mira di daerah Pinangsia, Ancol. Mamanya Mira ini saudara sepupu ayahku, jadi Mira bisa dibilang saudara jauh. Mira sendiri 2 tahun dibawahku, hari ulang tahunnya sama dengan Sherly. Kakaknya Mira, Maya, yang seumur denganku, sudah menikah dan sedang hamil anak kedua di Purwokerto.

Kumpul bersama mereka jadi ingat saat aku masih SD, masih di Malang, masih bertemu dengan mereka bila ada yang ulang tahun, dll. Sekarang sudah beda, apalagi Maya yang sudah menikah. Otomatis  topik kami tidak jauh dari itu.

Tante menceritakan kerepotan saat Maya memutuskan untuk menikah. Dari persiapan, biaya, prosesi tunangan dan pernikahan. Belum lagi termasuk hubungan dengan besan yang notabene tidak kenal sama sekali, dan rasanya ditinggal oleh anak pertamanya untuk tinggal dengan keluarga suaminya. Sedih dan berat rasanya. Kami bertiga mendengarnya seakan tidak habis pikir bahwa perkawinan bisa membuatmu sangat stress dan kuatir.

Ketika Maya memutuskan untuk menikah dengan alasan bahwa keluarga calon suaminya itu di Purwokerto, dan dia tidak mau LDR. Karena itu keputusannya untuk menikah dipercepat tanpa ada waktu baginya untuk kenal dengan calon mertuanya.

Cerita berlanjut ketika Maya sudah menikah, dan baru pindah ke Purwokerto, kota yang bahkan lebih kecil dari Malang, penuh dengan tangisan tidak kerasan. Salah satunya adalah hubungan dengan mertua. Bukan mertuanya galak, tapi rasanya susah sekali beradaptasi ketika lingkungan kurang mendukung. Bahkan ketika anak pertamanya telah lahir, sang opa oma pun masih belum menaruh perhatian pada Maya dan si bayi.

Sekarang ini, kehidupan Maya sudah baik. Oma dan opa si anak pertama sudah cinta mati dengan sang cucu, begitu pula kepada Maya.

Banyak yang kupikirkan setelah mendengar cerita sepanjang wiken ini. Pikiranku berlari sendiri bolak balik. Banyak pertanyaan yang muncul tetapi tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Takut? Tidak juga. Bingung? Iya. Tapi apa yang harus disiapkan? Mental? Aku yakin, bila aku memikirkan hal ini terus, kegiatanku pasti terganggu. Lebih baik biarkan hal ini mengalir sesuai dengan jalannya. Aku yakin sampai pada waktunya, pertanyaanku akan terjawab dengan naluriku sendiri.

You Might Also Like

9 thoughts on “Maya’s Story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *