Senta: Calm City

Sudah lebih dari 2 minggu aku melewati hariku di Senta, SCG (Serbia Crna Gora : Serbia Montenegro). Hayah.. namanya bukan Yugoslavia lagi. Senta itu kota kecil, hanya ada 1 pom bensin, ada 1 taman kota pas di depannya City Hall, ada 1 kantor polisi, 1 pemadam kebakaran, 1 rumah sakit, 1 library, 1 pasar tradisional, 1 ruang theater, 1 bioskop, 1 kedutaan Hungary (kecil sih, soalnya deket perbatasan), dan semua itu berada di tengah-tengah kota Senta-nya.

Anggap saja Camdig ku rusak, jadi jangan minta skrinsyut.

Kebetulan rumahku tidak jauh dari tengah kota itu. Bagiku, jalan kaki (setiap hari) ke tengah kota untuk beli voucher hp, fresh strawberries untuk sarapan, bir buat nenek, roti, sayuran dan daging untuk lunch hari ini, ataupun jalan ke warnet itu enakkk banget. Di Jkt, jalan kaki pakai hotpens mana bisa? Paling juga hanya bisa dilakukan di mall (itupun tanpa hot-pants). Uhh.. membosankan.

Mudah-mudahan betisku tambah berotot ketika aku pulang. Dan juga badanku jadi agak kurusan + sekel.

Selama di Senta ini, bahasaku dengan nenek pakai bahasa Hungary dengan pelan-pelan. Tiap tahun aku kembali ke Indo, pasti akan lupa karena tidak pernah di pakai. Tapi begitu balik lagi ke sini, semua terasa ingat kembali. Buktinya, aku pun bisa jalan di pasar sendiri dan beli ini itu. Oh ya, berantem mulut sama nenek pun masih bisa dijabanin. Hihihi.

Nenek, ah.. senangnya punya 2 nenek (dari bokap dan nyokap) yang paling sayang sama cucunya yaitu aku. Kedua nenek ku gemuk! *mesti hati-hati nih, karena punya kecenderungan gemuk suatu saat nanti*. Nenek ku yang di Senta ini doyan makan. Masak pun jago. Rajin cium pipiku tiap pagi hari dan saat-saat tertentu. Mamaku saja sangat jarang cium pipiku :p. Tapi jangan harap bisa lolos dari kemarahan nenek kalo keinginannya gak diturutin (ah, jadi ingat sifat diri sendiri yang juga kyk gitu.. hahaha). Mama bilang sendiri, sifat ku dan sifat nenek itu banyak sama nya. Tapi aku bilang, kita bertiga (nenek, mama dan aku) semua mirip koq. It runs in our gene!

Kemarin hari jumat, seharian aku tidur. Memang kegiatanku sekarang lagi menghabiskan 7 buku Narnia. VCD Tokyo Love Story sudah susah diharapkan untuk bisa di tonton di leptop karena cd-nya kepanasan lalu melengkung *halah*, dan DVD lainnya sudah di tonton (malah ada yg bawa casingnya, tapi isi DVDnya malah gak ada *b.o.d.o.h*). Aku lagi melihat tanggal, wuih, 2 minggu lagi aku pulang sampai di Jkt. Pasti bedaaaa banget sama disini.

Senta itu kota tenang. Tidak ada kegiatan yang hectic disini. Semuanya serba tenang dan kalem. Banyak toko-toko kecil menjual baju, alat-alat mancing, bertani, kios kecil, cafe-cafe pinggir jalan (open air), es krim (ah.. enak banget es krim rasa lemon). Bahkan ada toko khusus jual kaos kaki dan stocking lucu-lucu motifnya (sayang, stocking warna warni lagi gak musim di Jkt).

I wonder, pasti begitu aku pulang ke Jkt, harus menghindari yang namanya jam macet, parkir sana sini bayar, kemana-mana hitungannya jam-jaman, mau pergi ke beberapa tempat harus dipikirkan rute nya, harus balik kerja lagi (hihihi.. can’t get away from this one), harus mengurus rumah dan sibuk di internet sepanjang sore-malam. Hectic!

I wonder, again, ada gak yang kangen sama aku di Indo? Yang menungguku pulang.. Yang menunggu oleh-oleh.. Yang menunggu untuk melepas rindu padaku. Yang membutuhkan ku (kantorku mungkin).. Hihihi..

Andry Huzain: gimana kabarnya gol
Golda: baik2 saja
Golda: disini sih tenaangggg banget
Golda: gak kyk di jkt
Andry Huzain: iya iya… tapi cepetan pulang ke indo. kamu keluar negeri, indo udah gempa 2 kali
Golda: bener juga
Golda: *berasa dibutuhkan di Indo*

Aku, Peninggal Jejak

Menjadi seorang Golda, agak unik. Tidak mau menjadi trend setter, tapi juga tidak mau ketinggalan jaman. Tidak berani presentasi saat sidang, tapi bisa menjadi pembuat topik dalam arisan. Tidak mau disamakan, tapi juga tidak mau terlalu berbeda dengan sekitarnya. Karena itulah, aku mempunyai kecenderungan meninggalkan jejak. Ngga nyambung? Ngga papa.

Aku masih ingat, semasa SMA ku, aku suka mencoret mejaku, menulis indah, mengukirnya dengan penggaris besi, meliukkan huruf menjadi namaku. Ketika aku berpacaran dengan Yosi, setiap aku mempir ke kantornya, tidak lupa aku menulis “Golda was here” di papan white board di ruangan itu. Besoknya, Mbak Yanti telpon aku, “Golda main ke kantor koq pas aku lagi tugas keluar sih?”. “Lho, Mbak Yanti tau aku dateng dari mana?” kataku. Mbak Yanti: “Nah itu dari tulisanmu di white board”. Hihihi, aku saja sampai lupa.

Ketika aku bertemu dengan Kori di rumahnya, hanya dengan sekali pandang aku bisa menemukan jejak yang kutinggalkan. Boneka Kenny-South Park dariku, botol parfum dariku yang jadi pajangan, foto Kori yang kupotret dan ku-pigura, bahkan botol sambel yang waktu itu kuhabiskan selama sebulan di Yugo pun masih mereka simpan karena unik (tidak ada di Yugo). Lucunya, beberapa hari sesudahnya aku mampir lagi untuk bertemu dengan ayah dan ibunya (Kori sedang tidak ada saat itu), aku meminjam sebentar kamus Hungarian-English kepunyaan Kori, aku menemukan sticker “Miss You” masih ada disana. Diam-diam aku tertawa saja melihat ulahku.

Aku jadi ingat, Kanchi pernah cerita pada Rika Akana (Tokyo Love Story) bahwa dia pernah menulis namanya di tembok sekolahnya ketika ia lulus. Aku juga meninggalkan coretan di tembok sekolah. Bukan sekolahku, tapi sekolah Kori. Temukan saja graffitti nya di foto bawah ini.

graffitti

Kemarin aku kesampaian jalan kaki di atas dam (dam yang dibangun di sisi sepanjang sungai Tisza dan kota Senta). Dam ini berupa timbunan tanah yang cukup tinggi, dan di atasnya bisa dibuat jalan kaki bahkan mobil bisa lewat (jika diperlukan). Di sepanjang dam, yaitu dari tengah kota Senta melewati samping hutan kecil Népkert, melewati satu-satunya kolam renang, hingga jalan menuju Csarda (pinggir sungai yang pasirnya seperti pasir pantai) terdapat sumur tua yang sudah tidak dipakai. Di atas sumur itu (bisa di duduki) aku pernah menghabiskan beberapa jam ngobrol saat pdkt dengan Kori tengah malam. Aku meninggalkan permen karetku di tiang lampunya, kutempel dan kubentuk jadi bentuk hati. Ketika itu summer 2000. Kemarin aku cek, masih ada!

Kebiasaan meninggalkan jejak ini mungkin pernah kamu perhatikan. Entahlah, mungkin hanya coretanku di tas ransel, barang-barangmu yang kuberikan/beli bersamaku, kemeja merah marun yang sering kamu pakai, … kamu lirik saja, mungkin kamu bisa menemukannya.

Untuk kekasihku, kamu pasti bisa menemukan jejak itu di kamarmu. Aku menulisnya dengan tanggal. Bloody missing you!

bawalah daku bersama ke dalam setiap langkahmu
di manapun kau berada, rinduku smakin meraja
kangen aku padamu
tiada akan dapat ku obati, tanpa kunikmati.. senyummu
(senyum di wajahmu)..

Freak In Net World

Seberapa lama jam terbangmu di dunia maya, aku yakin kamu belajar sesuatu hal yg penting ini. Pelajaran pertama, jangan memberikan detail informasi pribadimu di internet. Hal ini bisa berupa alamat rumah, nomor telpon, dan mungkin yang termasuk pribadi bagi orang lain seperti nama lengkap, tempat kerja, tanggal lahir, dll. Pernahkah orang lain memberitahu hal ini padamu? Jika pernah, beruntunglah kamu.

Pengenalanku dengan dunia maya tidak luput dari pengawasan my mom. Dia yang memberitahukan hal di atas tadi padaku. Karena itu, aku membuat nick untukku. Dengan nick itu, aku bisa menjelajah dunia seperti layaknya orang biasa, bahkan orang jahat sekalipun. Dengan nick ku, aku bisa mengaku siapa saja, apa saja, dimana saja, tergantung imajinasiku.

Aku mulai menggunakan nama asli sejak friendster.com muncul. Karena disana ada teman-temanku di dunia sungguhan (bukan dunia maya), maka mau tidak mau aku menggunakan real character. Sejak itu, dimulailah pengenalan dunia maya dengan my real name. The real me.

Setahun, dua tahun, hmm.. oke lah. Aku pikir langkahku masih aman. Aku belum bertemu freak people. Tentu, aku membatasi cara kontak komunitas dunia maya dengan dunia sungguhan. Aku meminimalisasinya. Ketika aku memasuki komunitas milis yang besar dan yang kupikir aman (ah, aku terlalu naif), aku menemukan freak people itu.

Seperti virus! Kalau masih satu saja, dia akan bersembunyi. Tapi ketika dia menemukan teman, dia mulai unjuk gigi dan merajalela. Naluri manusia tidak jauh dari situ. Yeah, I get it. Hmpff..

Di titik itulah aku memutuskan, oke, my mom still right about this. Tapi sekarang, virus itu sudah masuk dlm tubuhku. Bagaimana cara mengeluarkannya? Seperti yang kalian tahu, membasmi virus tidak semudah membasmi bakteri yang dengan hanya penisilin, bakteri (living thing like us) bisa mati. Virus itu berbeda. Spreading symptom-nya beda. Maka, kamu harus melakukan cara yang berbeda juga dengan virus.

Sayangnya, membasmi virus supaya tuntas bukanlah cara yang bisa dilakukan. Sekali terkena virus, kamu akan hidup dengan virus itu. Yang bisa kamu lakukan adalah meredamnya sehingga dia tidak bisa unjuk gigi atau menganggumu. Nah, di sini lah kita belajar bagaimana berstrategi dengannya. After all, you have brain to use and power to gain.

Tahun 2000, temanku di Senta, Norbi sudah lebih dulu menjelajah dunia maya. Dia bercerita, Norbi berkenalan dengan seorang netter dari Jerman. Cukup lama berchatting, akhirnya mereka memutuskan untuk bersua. Norbi ke Jerman (aku lupa di kota mana) untuk seminggu. Kenyataan bahwa Jerman Netter ini kakinya lumpuh karena kecelakaan, sejak itu dia menghabiskan waktu di depan dunia maya sambil menerima uang sosial dari negara. Sehari dua hari, Norbi merasa tidak nyaman entah karena Jerman Netter ini menginginkan lebih dari Norbi atau apa, Norbi kurang jelas mendeskripsikannya. Akhirnya Norbi pulang lebih cepat.

Rupanya kepulangan Norbi membuat Jerman Netter tersinggung, sehingga dia melakukan serangan balik. Nomor telpon rumah Norbi ditelpon setiap 5 menit. Ketika di angkat, dia memaki-maki bahasa Jerman, dan itu sudah berlangsung selama 2 tahun (entah bagaimana sekarang). Norbi tidak bisa mengganti nomer telponnya karena di Senta itu sudah tidak bisa menambah, mengganti, ataupun menghapus nomer rumah baru. Saat itu, nomer telpon celaka itu selalu berdering tiap 5 menit (termasuk tengah malam), jadi tidak bisa dihubungi oleh kenalan keluarga Norbi, hanya bisa dipakai keluar saja. Begitu merepotkannya seorang freak in net world. Bagaimana bila ada banyak?

Aku percaya, cobaan apapun, aku pasti bisa menghadapinya. Tinggal seberapa cerdas strategi kita untuk melewatinya. So, wotch yer back, y’all.

Dear my freak-in-net-world, I know you’ll read this. *wink* Aku yakin kehebatanmu dalam ber-provokasi di kampung orang lain tiada duanya. Tapi aku lebih yakin lagi bahwa ada tempat yang lebih layak untuk skill mu, dan itu bukan di kampung gajahku.

Salam sayang, mwah!

Too Much Thinking

Me In Post OfficeCukup aneh tentang apa yang kupikirkan ketika masih wondering-around (pikiranku) sebelum tidur. Seperti malam ini, nenek tanya padaku, apakah aku menikmati ketika berada di Senta bersamanya. Jujur saja, di sini cukup membosankan secara kota kecil dibanding kehidupanku di kota besar, sumpek, seperti di Jakarta (duh I miss Jakarta, apalagi keaneka ragaman makanannya). Maaf nenek, bukan aku tidak suka, tapi kalau cuman untuk liburan saja sih oke lah, untuk tinggal dan menemani nenek, uhh.. coba saja aku menikah dengan Kori, aku pasti akan selalu berada di dekat nenek. Hihihi, koq jadi bawa-bawa Kori.

Dulu, aku putus hubungan cinta dengan Kori memang karena LDR. Ketika summer 2002 seharusnya aku ke Yugo, tapi bentrok dengan program semester pendek yang tidak mungkin aku lewatkan (karena akan memperpanjang masa kuliahku, bisa jadi lebih dari 3 tahun), Kori yang juga tidak suka dengan jarak antara kita, membuat kami bertengkar dan akhirnya saling diam. Tepat ketika summer 2002 berakhir, kita memutuskan untuk putus.

Kemarin kami sempat ngobrol secara teman, dia sempat mention, bahwa problem kami adalah bahwa aku terlalu banyak berpikir dalam hubungan kami. Aku terlalu memikirkan kakek nenek ku yang kurang menyukai Kori karena Kori hanya lulusan d3 pariwisata sedangkan aku akan mengambil sarjana, sehingga membuatku ragu padanya. Menurut mereka, hal ini akan berpengaruh pada future kami kelak. Mamaku sendiri tidak begitu ikut campur karena berkat aku berhubungan dengan Kori, maka aku bersedia sering ke Yugo untuk sekalian menengok kakek nenek.

Entahlah, aku pikir apa kata kakek nenek ku bisa jadi benar. Aku tidak berani memutuskan bahwa mereka 100% benar karena aku tidak punya buktinya. Aku juga tidak bisa bilang bahwa pasangan suami istri yang tingkat pendidikannya sama, akan baik baik saja, atau yang tingkat pendidikannya berat sebelah akan bermasalah. Aku belum tahu jawaban dari pernyataan itu.

Beberapa kali aku melihat hubunganku sesudah Kori, aku juga belum menemukan formula yang tepat bagaimana cara mencari eligible suami buatku. Tentu saja tiap orang berbeda kriterianya, tapi kalau aku ditanya kriteriaku, jujur saja, aku tidak tahu pasti. My mom pernah memberikan contekan untukku. Katanya, suami yang cocok untukku adalah: pertama, yang sayang padaku (kadar sayangnya harus lebih besar dari aku ke dia, karena nantinya pas menikah, aku pasti akan devoted ke suamiku kelak). Kedua, yang bisa menjadi partner ngobrol di segala suasana (menjadi teman, sahabat yang support, kakak yang melindungi, adik yg manja, guru yang bijak, maupun kekasih) termasuk di atas meja makan dan di atas tempat tidur. Okelah, ngobrol atau berkomunikasi bagiku tidak begitu ada masalah, secara aku sendiri chatter, terbuka, cerewet, doyan ngobrol dan bercerita. Ketiga, bisa menghidupiku dan keluargaku (aku, suami dan anak) kelak. Otomatis, disini kita berbicara masalah materi.

Issue tentang materi sangat peka dibicarakan. Kalo seperti kata orang dewasa bilang, kamu tidak bisa menikah hanya bermodalkan cinta saja, karena kamu tidak akan makan cinta setiap hari. Materi.. uh.. ada yang punya formula tepat untuk issue ini?

Kembali lagi ke komplain Kori. Benarkan aku terlalu banyak berpikir? Atau paling tidak, terlalu memikirkan apa kata orang lain, sehingga keinginan terdalamku malah tidak terlihat? Could be.

JMS pernah berkata, bahwa saat ini aku belum fokus pada masa depanku. Apakah aku mau mencari pacar atau suami? Apakah aku mau tetap mau kerja di tempat kerjaku sekarang? Apakah aku tetap mau tinggal di Jakarta atau pindah kota?

Dengan kesendirianku di rumah, semua itu tergantung pilihanku. Aku dihadapkan kepada pilihan hidup yang resikonya tidak kecil. Pilihan mana yang akan aku pilih, akan menentukan masa depanku kelak. Uh huh, it’s very hard, for me.

Aku bisa saja memutuskan untuk menikah sekarang. Aku bisa saja memilih calon suamiku sekarang. Aku bisa saja memilih ingin tinggal di manapun terserah mauku. Aku juga bisa saja meninggalkan pekerjaanku dan yang lain. Semua tergantung pilihanku. Damn, tidakkan itu semua sangat berat untuk dipikirkan dan sulit untuk dipilih? Bagaimana jika pilihanku salah? Bagaimana bila akhirnya aku menyesali pilihanku? Benar kata Kori, aku terlalu banyak berpikir.

Untung saja aku belum menemukan 1 helai uban di kepalaku.

Nb: Menurut tanggalan internasional, kemarin, 14 Mei, adalah Hari Ibu Sedunia (kecuali Indonesia di tanggal 22 Des). Happy Mom’s Day, Mom.

Ex-BF, Siapa Takut?

KornélKe Senta tanpa ketemu mantan? Tidak buatku. Aku berpacaran dengan Kori sejak summer 2000 sampai summer 2002. Walopun ktemunya hanya sebulan tiap liburan (summer dan winter).. tapi yg namanya LDR, apalagi Jkt-Senta, is still sucks, for me. Yeah, I’ve been there, thats why I know how ugly it is. Good news, sejak itu kita masih berhubungan baik, as a friend. Dia tidak pernah absen bilang Happy Birthday ke aku, and vice versa. Tentu, kita tidak CLBK, tapi kita menyempatkan waktu untuk ngobrol dengannya dan keluarganya. Ortunya (Joszéf Bacsi & Jutka Néni) suka banget denganku, sampai sekarang mereka masih suka tanya kabarku via Kori. Secara om tante (Pero Bacsi & Anci Néni) Kori adalah orangtua baptisku (godparents) tentu saja hubunganku dengan keluarga besar Kori cukup dekat.

Kori sendiri masih pacaran dengan pacarnya terakhir, sudah 3 tahun. Aku tidak mau mengganggu, aku hanya perlu bertanya padanya dimana ada internet connection di Senta ini. Iya, di Town Library memang ada, gratis, tapi ketika kucoba malah sedang diperbaiki. Baiknya, si Mr. Librarian bisa bahasa inggris. Jadi ada yg bisa kuajak ngobrol. Nah, Kori bilang, dekat Varos Piac (Town Market) ada Internet Café milik Csaba (baca: Chaba). Wah, Csaba si Chubby? Hihi, dia memang agak chubby, jadi nick nya cocok. Csaba itu cowok yg 3 tahun lalu bilang ingin ‘mendekatiku’. Begitulah apa yang Kori bilang padaku. Hihihi.

3 tahun lalu Csaba membawaku ke tempat game LAN kepunyaannya tidak jauh dari rumahku. Saat itu koneksi internet memang belum ada. Tapi dia bilang, dia mau bikin juga untuk yang internet. Csaba sudah ditinggal meninggal ayahnya, dan uang warisannya dia belikan small yatch. Yatch yang dia bisa pergi ke mana-mana sepanjang sungai Danube. Sungai Tisza yg melewati kota Senta pun berhubungan dengan Sungai Danube. Entahlah, aku belum bertemu dengan Csaba lagi, karena dia tidak menetap di Senta.

Fun fact: Kori bilang, beberapa bulan yang lalu dia sedang nginternet, iseng dia masuk ke google.co.hu dan memasukkan “maria golda”.. dan voila! Blog ini paling atas! Dia sempat melihat postinganku yang ada fotoku sedang menonton Once Dewa konser. No wonder kapan itu aku lihat referer ku dari google.co.hu. *wink*