Too Much Thinking

Me In Post OfficeCukup aneh tentang apa yang kupikirkan ketika masih wondering-around (pikiranku) sebelum tidur. Seperti malam ini, nenek tanya padaku, apakah aku menikmati ketika berada di Senta bersamanya. Jujur saja, di sini cukup membosankan secara kota kecil dibanding kehidupanku di kota besar, sumpek, seperti di Jakarta (duh I miss Jakarta, apalagi keaneka ragaman makanannya). Maaf nenek, bukan aku tidak suka, tapi kalau cuman untuk liburan saja sih oke lah, untuk tinggal dan menemani nenek, uhh.. coba saja aku menikah dengan Kori, aku pasti akan selalu berada di dekat nenek. Hihihi, koq jadi bawa-bawa Kori.

Dulu, aku putus hubungan cinta dengan Kori memang karena LDR. Ketika summer 2002 seharusnya aku ke Yugo, tapi bentrok dengan program semester pendek yang tidak mungkin aku lewatkan (karena akan memperpanjang masa kuliahku, bisa jadi lebih dari 3 tahun), Kori yang juga tidak suka dengan jarak antara kita, membuat kami bertengkar dan akhirnya saling diam. Tepat ketika summer 2002 berakhir, kita memutuskan untuk putus.

Kemarin kami sempat ngobrol secara teman, dia sempat mention, bahwa problem kami adalah bahwa aku terlalu banyak berpikir dalam hubungan kami. Aku terlalu memikirkan kakek nenek ku yang kurang menyukai Kori karena Kori hanya lulusan d3 pariwisata sedangkan aku akan mengambil sarjana, sehingga membuatku ragu padanya. Menurut mereka, hal ini akan berpengaruh pada future kami kelak. Mamaku sendiri tidak begitu ikut campur karena berkat aku berhubungan dengan Kori, maka aku bersedia sering ke Yugo untuk sekalian menengok kakek nenek.

Entahlah, aku pikir apa kata kakek nenek ku bisa jadi benar. Aku tidak berani memutuskan bahwa mereka 100% benar karena aku tidak punya buktinya. Aku juga tidak bisa bilang bahwa pasangan suami istri yang tingkat pendidikannya sama, akan baik baik saja, atau yang tingkat pendidikannya berat sebelah akan bermasalah. Aku belum tahu jawaban dari pernyataan itu.

Beberapa kali aku melihat hubunganku sesudah Kori, aku juga belum menemukan formula yang tepat bagaimana cara mencari eligible suami buatku. Tentu saja tiap orang berbeda kriterianya, tapi kalau aku ditanya kriteriaku, jujur saja, aku tidak tahu pasti. My mom pernah memberikan contekan untukku. Katanya, suami yang cocok untukku adalah: pertama, yang sayang padaku (kadar sayangnya harus lebih besar dari aku ke dia, karena nantinya pas menikah, aku pasti akan devoted ke suamiku kelak). Kedua, yang bisa menjadi partner ngobrol di segala suasana (menjadi teman, sahabat yang support, kakak yang melindungi, adik yg manja, guru yang bijak, maupun kekasih) termasuk di atas meja makan dan di atas tempat tidur. Okelah, ngobrol atau berkomunikasi bagiku tidak begitu ada masalah, secara aku sendiri chatter, terbuka, cerewet, doyan ngobrol dan bercerita. Ketiga, bisa menghidupiku dan keluargaku (aku, suami dan anak) kelak. Otomatis, disini kita berbicara masalah materi.

Issue tentang materi sangat peka dibicarakan. Kalo seperti kata orang dewasa bilang, kamu tidak bisa menikah hanya bermodalkan cinta saja, karena kamu tidak akan makan cinta setiap hari. Materi.. uh.. ada yang punya formula tepat untuk issue ini?

Kembali lagi ke komplain Kori. Benarkan aku terlalu banyak berpikir? Atau paling tidak, terlalu memikirkan apa kata orang lain, sehingga keinginan terdalamku malah tidak terlihat? Could be.

JMS pernah berkata, bahwa saat ini aku belum fokus pada masa depanku. Apakah aku mau mencari pacar atau suami? Apakah aku mau tetap mau kerja di tempat kerjaku sekarang? Apakah aku tetap mau tinggal di Jakarta atau pindah kota?

Dengan kesendirianku di rumah, semua itu tergantung pilihanku. Aku dihadapkan kepada pilihan hidup yang resikonya tidak kecil. Pilihan mana yang akan aku pilih, akan menentukan masa depanku kelak. Uh huh, it’s very hard, for me.

Aku bisa saja memutuskan untuk menikah sekarang. Aku bisa saja memilih calon suamiku sekarang. Aku bisa saja memilih ingin tinggal di manapun terserah mauku. Aku juga bisa saja meninggalkan pekerjaanku dan yang lain. Semua tergantung pilihanku. Damn, tidakkan itu semua sangat berat untuk dipikirkan dan sulit untuk dipilih? Bagaimana jika pilihanku salah? Bagaimana bila akhirnya aku menyesali pilihanku? Benar kata Kori, aku terlalu banyak berpikir.

Untung saja aku belum menemukan 1 helai uban di kepalaku.

Nb: Menurut tanggalan internasional, kemarin, 14 Mei, adalah Hari Ibu Sedunia (kecuali Indonesia di tanggal 22 Des). Happy Mom’s Day, Mom.

You Might Also Like

19 thoughts on “Too Much Thinking
  1. Salah satu yang aku tangkap dari cerita di atas, kamu terlalu memberi sekat antara masa depan dan masa sekarang.

    Bukankah kamu hidup di hari ini?
    Boleh sih memandang masa depan, tapi tidak boleh kehilangan fokus untuk hari ini.

    Uff, ngisi komentar untuk yang pertama kali, sok banget yah πŸ˜€

    Salam kenal sus…

  2. Wahh rupanya mbak golda ngeblog lagiii yahhhh

    Ada brita pernikahan lagi2 bukan gw
    Ada berita kematian untung bukan gw ..haaahahaa

  3. harusnya golda dengerin laguku (syair malam), kebetulan lagu tsb aku kirim ke cilapop 2 πŸ™‚

    *potongan*
    sayup kudengar jeritan hatimu,
    ingin kumengerti …
    jelas terlihat diraut lelahmu,
    ronamu terluka ….

    *keep smile gtl*

  4. jeung jeung… tgl 23 udah di jkt kan? kalo jadi kumyuls jij bawa oleh2 dari eropah ya jeung…

    btw di fotomyu ityu…lagi ngelirik kucing kawin ya??? hihihi…

  5. uupss.. maap..

    tapi MEMILIH memang persoalan yang selalu kita temui selama hidup bukan. bahkan memilih untuk tidak MEMILIH dan membiarkan semuanya berjalan pun merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan.

    Kalo menurutku, we have to pick an option to manage and control our life, instead of the option is being chosen by life itself..

    *halah*

  6. sebenarnya tidak ada yang salah dengan berfikir. toh, manusia diciptakan dan hidup dengan berfikir.

    tapi jangan sampe kamu diam di tempat. pikiran, hati, dan semua harus menyatu untuk menentukan langkah apa yang akan ditempuh.

    jangan lupa dengan sang pencipta juga.

    duh, panjang gene. udah ah.

  7. Syarat dari Papa-ku sih:
    1. Jujur
    2. Rajin (mau kerja)
    3. Smart
    4. Sayang sama saya.

    Yah, materi sih memang perlu, tapi itu tambahan aja, bukan yang dasar, IMHO.

    Mikir juga perlu, menurutku sih, Golda. Gimana juga, semua itu kan keputusan-keputusan besar dalam hidup. πŸ˜‰

  8. Pingback: Anonymous

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *