Aku, Peninggal Jejak

Menjadi seorang Golda, agak unik. Tidak mau menjadi trend setter, tapi juga tidak mau ketinggalan jaman. Tidak berani presentasi saat sidang, tapi bisa menjadi pembuat topik dalam arisan. Tidak mau disamakan, tapi juga tidak mau terlalu berbeda dengan sekitarnya. Karena itulah, aku mempunyai kecenderungan meninggalkan jejak. Ngga nyambung? Ngga papa.

Aku masih ingat, semasa SMA ku, aku suka mencoret mejaku, menulis indah, mengukirnya dengan penggaris besi, meliukkan huruf menjadi namaku. Ketika aku berpacaran dengan Yosi, setiap aku mempir ke kantornya, tidak lupa aku menulis “Golda was here” di papan white board di ruangan itu. Besoknya, Mbak Yanti telpon aku, “Golda main ke kantor koq pas aku lagi tugas keluar sih?”. “Lho, Mbak Yanti tau aku dateng dari mana?” kataku. Mbak Yanti: “Nah itu dari tulisanmu di white board”. Hihihi, aku saja sampai lupa.

Ketika aku bertemu dengan Kori di rumahnya, hanya dengan sekali pandang aku bisa menemukan jejak yang kutinggalkan. Boneka Kenny-South Park dariku, botol parfum dariku yang jadi pajangan, foto Kori yang kupotret dan ku-pigura, bahkan botol sambel yang waktu itu kuhabiskan selama sebulan di Yugo pun masih mereka simpan karena unik (tidak ada di Yugo). Lucunya, beberapa hari sesudahnya aku mampir lagi untuk bertemu dengan ayah dan ibunya (Kori sedang tidak ada saat itu), aku meminjam sebentar kamus Hungarian-English kepunyaan Kori, aku menemukan sticker “Miss You” masih ada disana. Diam-diam aku tertawa saja melihat ulahku.

Aku jadi ingat, Kanchi pernah cerita pada Rika Akana (Tokyo Love Story) bahwa dia pernah menulis namanya di tembok sekolahnya ketika ia lulus. Aku juga meninggalkan coretan di tembok sekolah. Bukan sekolahku, tapi sekolah Kori. Temukan saja graffitti nya di foto bawah ini.

graffitti

Kemarin aku kesampaian jalan kaki di atas dam (dam yang dibangun di sisi sepanjang sungai Tisza dan kota Senta). Dam ini berupa timbunan tanah yang cukup tinggi, dan di atasnya bisa dibuat jalan kaki bahkan mobil bisa lewat (jika diperlukan). Di sepanjang dam, yaitu dari tengah kota Senta melewati samping hutan kecil Népkert, melewati satu-satunya kolam renang, hingga jalan menuju Csarda (pinggir sungai yang pasirnya seperti pasir pantai) terdapat sumur tua yang sudah tidak dipakai. Di atas sumur itu (bisa di duduki) aku pernah menghabiskan beberapa jam ngobrol saat pdkt dengan Kori tengah malam. Aku meninggalkan permen karetku di tiang lampunya, kutempel dan kubentuk jadi bentuk hati. Ketika itu summer 2000. Kemarin aku cek, masih ada!

Kebiasaan meninggalkan jejak ini mungkin pernah kamu perhatikan. Entahlah, mungkin hanya coretanku di tas ransel, barang-barangmu yang kuberikan/beli bersamaku, kemeja merah marun yang sering kamu pakai, … kamu lirik saja, mungkin kamu bisa menemukannya.

Untuk kekasihku, kamu pasti bisa menemukan jejak itu di kamarmu. Aku menulisnya dengan tanggal. Bloody missing you!

bawalah daku bersama ke dalam setiap langkahmu
di manapun kau berada, rinduku smakin meraja
kangen aku padamu
tiada akan dapat ku obati, tanpa kunikmati.. senyummu
(senyum di wajahmu)..

You Might Also Like

24 thoughts on “Aku, Peninggal Jejak
  1. *langsung berkeliling ruangan kerjaku, mencari jejakmu, oh ada bekas iler di atas meja sebelah mejaku*

    hihihihiihi…

    eh ntar sampe rumah mo ngecek juga tembok2 adakah kamu meninggalkan jejak juga?

    *kabur dari kejaran Golda*

  2. Hehe ingat di gunung bawakaraeng…dgn seenaknya gw nyoret sana sini…gw baru nyesel beberapa taon kemudian..kalo gw udah ngerusak alam

  3. wah, neng golda harsu ikutan bersihin tembok sekolahnya kori. bukannya ngasih contoh baik sama adike kelas mantan pacar, tapi kok malah ngajarin oret-oret.
    kotor, tau!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *