Ulasan

Artikel yang aku baca hari ini di Kompas Minggu 18 Juni 2006 di halaman pertama bagian bawah berjudul “Fakta, Fiksi, Selebriti” oleh Dahono Fitrianto (thx 4 slash n burn-nya, aku paling malas untuk slash n burn) membahas tentang sinetron(?) Selebriti Juga Manusia (SJM) yang menceritakan kasus Cut Memey dan Angel Lelga di Trans TV membuat aku berpikir, tidak hanya menontonnya saja.

Selama ini, aku sebagai penonton acara infotainment (hanya supaya tidak ketinggalan berita, dan bisa menjadi pembuka topik ngobrol dengan teman perempuan lainnya) di TV membuat aku kenal dengan kasus-kasus mereka berdua. Ada waktu dimana aku tidak mengikuti acara tsb secara rutin, tapi dengan menonton sinetron SJM minggu lalu (yang tentang Angel Lelga) aku jadi paling tidak mengetahui latar belakang kenapa Angel Lelga tertarik dengan Rhoma Irama, yang semua orang tau dia punya istri (kyk gak ada cowok laen aja). Endingnya sih sama seperti apa yang di beritakan di infotainment, malah sudah bisa di tebak. Aku tidak mengomentari selera Angel atau aspek lain, ya hanya itu tadi, masih banyak ikan di laut, masih banyak cowok yang lain selain suami orang.

Bagaimana jika pihak-pihak yang terlibat dalam kisah sang artis keberatan?

Menurut Aries Ananda, Planning & Scheduling Department Head Trans TV, sudah ada perjanjian bahwa apabila ada tuntutan hukum dari pihak ketiga, yang bertanggung jawab adalah Indika sebagai pembuat sinetron itu.

“Entah fakta, entah fantasi. Yang jelas kami membuat sinetron itu berdasarkan kisah yang dituturkan selebriti yang bersangkutan,” ujar Shanker RS, produser SJM dan salah satu pemilik Indika Entertainment. … SJM seolah menjadi pelengkap atau suplemen bagi tayangan infotainment.

Shanker sendiri mengatakan, jika ada tuntutan hukum dari pihak-pihak yang keberatan dengan isi cerita, penanggungjawabnya adalah artis/selebriti yang bersangkutan. “Karena kami membuat skenario berdasarkan cerita dari artis itu. Kami ini ibarat percetakan yang hanya mencetak gagasan orang lain. Isi di luar tanggung jawab percetakan,” ujarnya.

Shanker mengakui bahwa kisah yang disinetronkan tersebut hanya mengambil satu sudut pandang saja, yakni dari penuturan si artis. “Kalau ada pihak yang keberatan dan punya versi cerita yang lain, tidak usah pusing. Kami bisa membuatkan lagi sinetron versinya dia kok, asal dia mau membintanginya saja.”

Katakanlah memang ADA pihak ketiga yang tidak setuju dan meminta pertanggung jawaban. Ketika ingin menuntut, Trans TV melemparkan kepada Indika. Indika pun akan meneruskan lemparan tersebut ke si artis. Bisa jadi bila si artis dituntut, mungkin dia akan berujar “kalo gak mau gue beberin, lo gak perlu ngelakuin hal tersebut ke gue dong?!”.. ohh.. jadi pada ngga puas nih? Gampang, kalo si pihak ketiga gak puas, tinggal bikin saja sinetron versi dia. Yeah, persis seperti acara infotainment yang main perang kubu satu dan kubu lainnya.

  1. Padahal, maupun si artis, produser, dan juga stasiun TV, semuanya dapat profit dari cerita tersebut, tapi main lempar tanggung jawab. Sebegitu berharganya-kah sebuah ‘cerita’?
  2. Eniwey, ‘gagasan’ atau ide pertama itu siapa yang punya sih? Artisnya atau produsennya? Koq gak mau ngaku?
  3. Lalu, sejak kapan pihak pencetak (walopun biasanya tertulis “di luar tanggung jawab percetakan”) di bebaskan dari tanggung jawab? Berarti pencetak uang palsu bisa bebas dong?
You Might Also Like

12 thoughts on “Ulasan
  1. ih, gelay deh nonton gituan. mual kalo mikirin si roma irama. mending nonton sinetron model indonesia di antepe. beuh! dahsyat bgt cewek-ceweknya!

  2. Mencetak gagasan menjadi sinetron kok disamakan dengan percetakan buku (fungsi: sedikit di atas tukang foto copy – yg nggak perlu tau urusan materi cetak)… sekalian aja disamakan dengan mencetak gol, mencetak rekor, mencetak sejarah, mencetak bayi dst dsb dll

  3. itu jaid seperti mo membela diri aja…

    pasti dibaik2in deh sisi sang artisnya…padahal musuhnya, misal perangin2 ga bakal ada sinetron tandingannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *