Celah Sempit Itu

Suntuk lagi suntuk lagi..

Kerjaan kantor makin banyak dan sudah mulai ada deadline (berhubung bos wira wiri ke Bali, jd waktu unt meeting dengannya sangat berharga). List forecast purchasing yang dia minta pun sampai in the last minute pun belum selesai. Oh yeah.. aku paling malas dengan namanya deadline. Mom bilang aku sekarang sibuk, ugh.. berasa orang penting aja sampai-sampai Mom telp ke hp, yang angkat malah si Ririn (temen sesama di bagian purchasing) karena aku lagi online di telp sama bos.

Sudah beberapa hari ini kami berdua dikejar deadline yang cukup membuat kami stress. Ciri-cirinya: yang biasanya kantor (yang isinya cuman kami berdua) dipenuhi celoteh Ririn dan keusilan aku, sekarang semuanya sepi sunyi senyap! Urat-urat sudah menonjol di jidat kami berdua. Ada telpon bunyi, yang tadinya rebutan ngangkat, jadi males angkat. Lagu yang diputar di komputer cuma 1, yaitu L’Arc~en~Ciel – Hitomi no Jyuunin (diulang-ulang terus dari pagi sampai sore). Ada supplier reseh aja ngomelnya panjang lebar. Pokoknya suasana TEGANG!

Sampai kemarin, sekitar jam 10-an aku sibuk nge-print label harga dan Ririn sedang rebutan printer (yang cuman satu-satunya), tiba-tiba ada suara barang jatuh di belakang meja yg nempel di tembok. Oh yeah, aku sudah masa bodoh dengan barang apapun yang jatuh, karena aku masih stress dengan menyelesaikan pekerjaanku. Ririn mencoba mencari apa yang kira-kira jatuh.. mengintip-intip di celah yang sempit. “Golda, henpon lo jatuh tuh”..

“WHAT??” *damn*..

Oh dear, meja itu berat banget nariknya. Aku sudah hopeless, tapi Ririn masih gigih menarik sendirian meja dan berusaha mengambil hp ku dengan menggunakan penggaris besi. Aku ngga tahan untuk memotretnya, karena bibirku tidak berhenti nyengir melihat gaya Ririn!

Ririn 1

Ririn 1

Ririn 1

You Might Also Like

17 thoughts on “Celah Sempit Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *