How To Grab YouTube

Pernah mendapat link movie YouTube? Nah, tau sendiri kan file movie-nya tidak bisa di download begitu saja. Harus pakai trick. Cari di Google .. belum tentu dapat. Ini tricknya:

  1. Download dan Install FLV Player disini. Cuma 1.12MB.
  2. Lalu buka browser dengan alamat ini, dan masukkan alamat Youtube. Jangan lupa ganti pilihan ke YouTube, lalu klik Download. Dibawahnya akan muncul link yang harus kamu download. Link tersebut adalah file FLV.
  3. Nah, buka saja file FLV tadi dengan FLV Player

Aduh koq tutorialnya terlalu mudah yah? Hahaha.. kurang greget nih nyarinya.. Thx Kazev!

Lingkungan Kerjaku

Total aku sudah pernah bekerja di 4 tempat (Qb Book Store, RS Pondok Indah, Showroom Honda, dan yang terakhir ini). Sudah 4 work-environment yang aku rasakan. Meskipun begitu, kerja di tempat sekarang memang paling nyaman.

Tempat kerjaku sekarang bisa dibilang small-home-office dengan 3 orang workers dan 1 bos. Office politik yang sangat aku benci, bisa dibilang tidak ada sama sekali. Bahkan kami saling membantu, kekeluargaan, saling mengingatkan dan suka jalan bareng.

Yang membuat kami bertiga unik: aku sebagai anak sulung (dalam keluarga) dan paling pertama masuk, Junjun yang memang anak tengah dan yang kedua masuk, dan Ririn sebagai anak bontot dalam keluarga dan dalam kerja. You know what, ketiga sifat sulung-tengah-bungsu ini sangat terlihat dalam lingkungan kami bekerja. Kalau aku dibilang bijak, tentu kalah daripada Junjun yang 2 tahun lebih tua daripada aku. Tapi sebagai yang lebih kenal dekat dengan bos, aku sering disuruh menghadap ke bos untuk urusan laporan ini-itu. Kekuranganku bisa dibilang: PELUPA. Nah, di aspek pelupa inilah aku membutuhkan Ririn yang pintar dalam hal memanage to-do-list.

Tapi jangan harap Ririn mau membantuku ketika aku ledek-ledekan sama Junjun. *huh!*

Kalau di sekitarku mati-matian, sikut-sikutan bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang banyak atau posisi yang tinggi, entah kenapa untuk yang satu ini aku merasa kalah. Penghasilanku tidak banyak dan aku tidak seberuntung mereka yang dapat kerja di luar negri (bahkan mungkin aku sudah tidak lagi tertarik untuk kerja di luar negri karena tempat kerjaku yang sekarang sangat nyaman). Nah itu dia, kenyamanan.

Aku tidak patah semangat untuk meneruskan kerja di tempat sekarang, karena dengan kenyamanan itulah, ide-ideku muncul dengan lancar. Bos menghargai segala bentuk kerjaku walaupun absensi pagi-ku sering merah. Dia memujiku cerdas, gesit dan integritas tinggi.

…dan yang paling penting, orangtuaku tidak kecewa dengan keberadaanku sekarang.

Itu semua yang menjadi motivator hidupku.

Cape De

Kemarin seharian aku dan Ririn ke Mangdu untuk beli beberapa perlengkapan kantor (hanger counter, manequin, beberapa usb flash, printer dll) dan sekalian me-regenerasi komputer Ririn yg entah sudah berapa kali hang dan ngaco karena virus entah darimana masuknya. Komputer tersebut kita serahkan ke toko langganan untuk diback-up data, format dan install ulang semua.

Pagi ini, aku menghabiskan 45 menit untuk membereskan kabel-kabel (LAN switch, UTP cable, printer, pc desktop, dll) karena gara-gara kusut, aku sampai tidak bisa membedakan kabel telpon yang masuk ke pc, telp dan telp paralel. Sementara itu, Ririn malah latihan BL dari VCD yg dipasang di pc ku.

Selesainya, aku capek, Ririn juga capek. Entah tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Ohya, aku memang belum sarapan.

Sambil sarapan, aku mendengarkan lagu-nya Charlotte Church yang Christmas Album. Aneh memang, itulah aku. Dulu my mom pun sampai heran menemukan aku sedang mendengarkan lagu natal di tengah bulan Juni.

Aku suka mendengarkan lagu natal kapanpun aku mau. Lagu natal menenangkanku. Membuatku relax. Aku punya kenangan memasang pohon natal bersama papa sambil mendengarkan lagu natal.

Nanti kapan-kapan aku ceritakan.. (ceritanya sih sudah aku tulis, tapi alangkah baiknya aku publish ketika di bulan Desember).

Mix Ice Memang Enak – Ngelantur

mix ice

Di malam yang sesunyi ini.. aku sendiri.. tiada yang menemani..

Lirik karya Chrisye di atas ini cocok menggambarkan keadaanku malam ini (saat ini). Kerjaan makin sibuk, sehingga sepertinya aku mau dikasih asisten oleh si Bos. Jelas saja, kerjaan makin lama makin bertumpuk dan mulai nambah task yang belum dikerjakan karena keterbatasan waktu. Tapi, hey, mempunyai asisten itu harus juga belajar memanage si asisten, untuk bisa membantu mengerjakan task yang belum selesai itu dengan benar dan efisien (dalam arti, kalau waktuku habis karena mengajari si asisten yang gaptek, ya maaf maaf saja.. mending aku cari asisten yang lain deh).

Kerjaanku berlarut-larut melewati rutinitas: berangkat telat karena kurang tidur, kerja sibuk di kantor sampai lupa makan dan lupa detail task, pulang sudah capek yang kadang ngga kuat untuk ngomputer, at least.. ngomik lah di tempat tidur (baca komik = ngomik). Makin membosankan, i tell you.

Kebosanan itu yang membawa aku menerawang ke pikiran-pikiran yang selama waktu kerja sempat terbesit untuk dipikirkan, seperti ini:

Eh, sudah berapa ya temanku yang menikah? Koq rasanya belakangan ini lumayan banyak menghadiri acara nikahan (belum termasuk YANG AKAN menikah di akhir tahun ini).. kemarin aku baru dengar sobat dekat ketika kuliah S1-2 di FKM UI, si Santee (sengaja ditulis begitu untuk membedakan dengan Santi-Santi lainnya) yang tidak meneruskan S1-2-nya malah kabur ke USA untuk mencari sesuap nasi (katanya, padahal ortunya lumayan berada).. ah.. memang bandel banget tuh anak… TIBA-TIBA.. sudah punya anak?!?! OMG. Nama anaknya Luna Isabel Gonzales, bapaknya orang Mexico yang convert ke Islam. *geleng-geleng kepala* gimana ceritanya yah?.

Aku jadi berpikir, apakah sudah saatnya aku menikah dan punya anak?

Nah,… pemikiran itu yang jadi selebat-an di otakku. Ah.. temanku pernah cerita, pacarnya minta dinikahi hanya karena dia IRI melihat teman-temannya sudah menikah dan punya momongan (padahal si cewek masih kuliah, masih 24-an, dan yang cowok masih kuliah S2 dan masing sibuk dengan selingkuhannya – hahaha). Akhirnya mereka menikah dengan kurang siap dan banyak kendala. Hey, yang namanya SIAP itu sampai kapanpun tidak akan pernah ada batasnya, seseorang pernah berkata padaku. Tapi apa yang harus kulakukan untuk menghadapi keadaanku? Tidak mudah untuk memutuskan sebuah pilihan.

Yeah memang, aku sudah lepas dari orangtua, my mom berpesan.. “sekarang mama tinggal menunggu kapan kamu bilang ke mama bahwa kamu ingin menikah”. Jadi, tugas mamaku tinggal menunggu aku? Oh..

Aduh mah.. aku takut menikah tua.. tapi aku juga tidak berani menikah terburu-buru. Apalagi punya anak? Aku takut menghadapi kesabaranku pada anak kecil yang menangis tiada henti.

Ah sudah.. sudah seharusnya aku menikmati hidup ini tanpa beban-beban yang makin berumur makin numpuk.

Mari.. angkat gelas, kita bersulang!