Lingkungan Kerjaku

Total aku sudah pernah bekerja di 4 tempat (Qb Book Store, RS Pondok Indah, Showroom Honda, dan yang terakhir ini). Sudah 4 work-environment yang aku rasakan. Meskipun begitu, kerja di tempat sekarang memang paling nyaman.

Tempat kerjaku sekarang bisa dibilang small-home-office dengan 3 orang workers dan 1 bos. Office politik yang sangat aku benci, bisa dibilang tidak ada sama sekali. Bahkan kami saling membantu, kekeluargaan, saling mengingatkan dan suka jalan bareng.

Yang membuat kami bertiga unik: aku sebagai anak sulung (dalam keluarga) dan paling pertama masuk, Junjun yang memang anak tengah dan yang kedua masuk, dan Ririn sebagai anak bontot dalam keluarga dan dalam kerja. You know what, ketiga sifat sulung-tengah-bungsu ini sangat terlihat dalam lingkungan kami bekerja. Kalau aku dibilang bijak, tentu kalah daripada Junjun yang 2 tahun lebih tua daripada aku. Tapi sebagai yang lebih kenal dekat dengan bos, aku sering disuruh menghadap ke bos untuk urusan laporan ini-itu. Kekuranganku bisa dibilang: PELUPA. Nah, di aspek pelupa inilah aku membutuhkan Ririn yang pintar dalam hal memanage to-do-list.

Tapi jangan harap Ririn mau membantuku ketika aku ledek-ledekan sama Junjun. *huh!*

Kalau di sekitarku mati-matian, sikut-sikutan bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang banyak atau posisi yang tinggi, entah kenapa untuk yang satu ini aku merasa kalah. Penghasilanku tidak banyak dan aku tidak seberuntung mereka yang dapat kerja di luar negri (bahkan mungkin aku sudah tidak lagi tertarik untuk kerja di luar negri karena tempat kerjaku yang sekarang sangat nyaman). Nah itu dia, kenyamanan.

Aku tidak patah semangat untuk meneruskan kerja di tempat sekarang, karena dengan kenyamanan itulah, ide-ideku muncul dengan lancar. Bos menghargai segala bentuk kerjaku walaupun absensi pagi-ku sering merah. Dia memujiku cerdas, gesit dan integritas tinggi.

…dan yang paling penting, orangtuaku tidak kecewa dengan keberadaanku sekarang.

Itu semua yang menjadi motivator hidupku.

You Might Also Like

21 thoughts on “Lingkungan Kerjaku
  1. begitulah… kenyamanan bekerja seringkali gak sejalan sama besarnya penghasilan.
    kalo mau dapet penghasilan yg lebih tinggi dari skrg, harus berani ninggalin zona nyaman yg baru dicreate, harus siap pindah2 kerja dan bikin zona nyaman baru yg lagi2 gak bakalan bertahan lama.
    trick-nya adalah… kerja di tempat yg nyaman, sambil nyari sampingan 🙂

  2. @nugi:
    tul.. dan mau pilih kenyamanan ato prestasi (baca: gaji?) emang tergantung pada individu masing-masing bukan?

    yang jelas, nyaman itu emang ga bisa diukur dengan duit y..?

  3. nyaman memang nomor 1.
    tapi masalah cita-cita dan duit juga perlu dipikirkan.

    buat seorang cewek, nyaman udah segalanya.

    buat cowok, yg notabene akan jadi tiangnya rumah tangga, yg bakalan menghidupi keluarga, kenyamanan bukan lagi yang terpenting. tapi keluarga yg terpenting.

    satu lagi, kesempatan datangnya ga terus-terusan. selagi kesempatan bagus terbuka di depan mata, harus diambil dan dicoba. masalah nanti nyaman apa nggak, toh masih muda, masih bisa berkarya di tempat lain.

    bagiku, yg nomor 1 bukan lagi kenyamanan aja, tapi juga masalah duit dan cita-cita.

    *duh! kepanjangan*

  4. golda, jgn patah semangat, maju teruss.. asal jgn sampe kena comfort zone aja ya,biasanya itu problem org yg kerja di ktr enak tuh, kalo udah kena bawaanya males mulu.. kyk gw..

  5. Lingkungan kerjaku juga nayaman, walaupun paling sering ramai kalau sedang ada komplain pulsa, tapi aku sangat nyaman. Dengan monitor Dell di dekatku dan juga dekat dengan dapur aku bisa dengan leluasa tanpa bergerak dari kursi mengambil makanan yang kusuka. 😀

  6. zona nyaman itu nisbi, jendral.
    kenyamanan itu ada di otak kita, mungkin kalo didat nyaman == duit banyak, suster , nyaman == no office rule. suit yourself.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *