Gaun = Ribet!

Kemarin aku ke Mangga Dua ceritanya mau jahitin kain untuk acara kawinan bos ku. Aku dapat posisi jadi pager ayu. Anehnya, kain yang dikasi bukan kain seragam, tapi beda-beda tiap orang, yang penting tema-nya romantic. Bahkan modelnya pun beda-beda. Ada yang dibelikan sudah jadi, ada yang hanya dikasih kain lalu bikin sendiri. Aku kedapetan kain warna ungu. Pertama aku tidak suka warna ungu, walopun ungu-nya warna muda. Kesannya janda gitu. Kedua, kainnya lemes banget, beda dengan kain untuk Ririn atau Dhiana yang dari bahan satin. Ternyata kainku bahan sifon.

Setelah muter-muter di Mangga Dua ITC lantai 3 dan 4, aku melihat beberapa model yang aku suka. Berhubung rata-rata baju gaun bermodel kemben dengan rok panjang, ya aku mencocokkan kedua syarat tersebut. Di salah satu toko yang jual gaun jadi, ada 1 yang aku naksir abis. Warnanya kuning-putih. Roknya jatuh ke bawah A-line yang tidak lebar. Manis sekali. Pas aku coba, rok-nya tidak muat, padahal ukurannya L. Kembennya muat karena bagian belakang dibuat tali-tali silang, jadi ukuran dada sebesar apa pun bisa muat, tapiii.. bagian toket terlihat jelek karena ngga pas dengan boostie (tulang baju untuk pas di toket) yang aneh, jadi terlihat jelek. Yang membuat bagus itu paduan kain dalam berwarna putih dan kain sifon tipis warna kuning. Fyi, dulu aku pernah punya baju Barbie yang mirip seperti ini, dan aku suka banget :p. Ririn menemukan baju jadinya di toko ini, jadi dia ngga akan jahit kainnya yang berwarna biru.

Akhirnya kita ke toko King, yang menjual gaun jadi maupun bikin. Nah, berhubung rekomendasi Junjun bahwa jahit di toko ini berkisar seharga 150-200 ribu, aku ok saja. Setelah aku kasi kain ke nCik-nya, nCik-nya bilang kalo kainku itu nanggung. Nanggungnya karena warna ungunya pekat (seharusnya transparan sedikit) supaya bisa di aplikasikan dengan warna dasar yg biasanya berbahan satin. Jadi kalo kain ungu dijadikan dasar, tidak bisa karena lemes. Dan kalo dijadikan lapisan luar, warna dari kain dasar tidak akan terlihat (mau itu ungu, putih maupun hitam). Aneh kan? Apalagi ketika dia tanya.. “ongkos jahitnya ditanggung ngga?” er…

Apaa?? ongkos jahit ternyata 300ribu. Entah gmana, si Junjun salah informasi. Duh.. Belum lagi asesoris, sepatu, make up. Bukannya dibayarin malah aku yang mesti keluar banyak. Apalagi ketika si nCik-nya bilang berapa harga kain ungu tsb. Hanya 10ribu semeter. WHATT?? Ibu-nya bos ku cuman modal 30ribu tapi pesta perkawinan di Mulia? Get real!!

Lemes sudah .. mukaku langsung pucat.. kesel.. pesimis. BT banget deh. Si Ririn dan Junjun yang nemenin aku pun sampe bengong. Tapi mereka sih sudah tenang, karena Junjun sudah ada baju dan Ririn pun sudah beli di toko sebelumnya.

Aku disarankan mencoba baju yang sudah jadi karena harganya sekitar 120-150 ribuan. Beberapa kali mencoba, aku kurang sreg. Aku tidak suka berpayet (yang ada manik-manik). Aku tidak bisa pakai yang terlihat perut gendutnya. Aku tidak suka yang rame dengan bahan organdi.. pasti gatel. Pokoknya segalanya aku komentarin. Memang, pilihan baju jadi yg murah di toko King bisa dibilang tidak sebagus yang di toko sebelumnya tempat Ririn beli baju jadi. Tapi toh di toko sebelumnya itu aku sudah coba baju dan tidak muat, dan yang lainnya pun tidak menarik. So.. tambah stress.

Gak heran, Carrie Bradshaw super stress ketika mencari-cari gaun untuk pernikahan yang cocok, sampai akhirnya malah putus dari Aidan (duh Aidan itu cowok perfect!) dalam serial Sex n The City. I mean, mencari gaun itu repot.. kecuali buat cewek yang bodynya perfect, tentu saja.

Nah, akhirnya aku memutuskan jahit saja. Biar deh, ongkos jahit 300ribu aku yang tanggung asal bajunya bisa dipakai tidak hanya sekali. Akan aku buat yang bagus, biar yang lain iri.. huh. Aku minta lapisan dalamnya warna putih dari bahan kain untuk baju pengantin (aku lupa namanya) karena bahan ini kaku tapi silky. Lalu ditimpa dengan warna ungu sifon.. gak papa deh, yang penting jatuhnya bagus, seperti contoh model gaun jadi di toko sebelumnya. Lalu diberi efek lipit-lipit yang natural, tidak pakai payet, pakai tambahan kain sebagai sabuk (seperti Obi pada pakaian jepang) untuk efek menguruskan perut. Pokoknya minimalis elegan.

Done, nCik-nya mengukur badanku. Nah, aku tinggal beli bando lebar yang nanti dilapisi kain senada dengan gaun, lalu tidak perlu beli sepatu lagi karena aku sudah punya sepatu putih hak 5 cm. Lalu, aku pikir-pikir, aku minta tali spaghetti di bahu untuk kembennya, supaya jangan ada tragedi kemben jatuh :p

Moral of the story: 2 minggu lagi setelah gaunnya jadi, baru akan ada skrinsyutnya 🙂

You Might Also Like

11 thoughts on “Gaun = Ribet!
  1. Hihihi..iya bikin yang bagus sekalian. Tapi sebelnya baju pesta suka susah diapke berkali-kali. aku dulu sering dibilang super cuek karena ke kawinan siapapun pake gaunnya itu-itu aja.

  2. Gaun indah memang perlu untuk menambah percaya diri. Tetapi yg terpenting dari diri kita sendiri mampu atau tdk memancarkan daya / menyalurkan kpd disekitar kita.
    Nanti jika seperti golda kita pasti setres.
    Berpikir optimal lakukan dengan tenang.

  3. wah. gila.

    THE PERFECT DRESS DOES NOT EXIST IN SHOPS!

    itu prinsip gue. makanya… keputusan yang sungguh tepat ya menjahitkan sendiri! hidup GOLDA! hahakahakhakhak!!!

    *gue masih kebayang-bayang dress payet dengan bahan silk melambai di zara nih… hhkhkh… worth it gak ya… 700 ribu…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *