Dilema

xxx: dilema
xxx: antara plan sama kesempatan
xxx: antara safe player sama need-to-be-pushed-kind-of-person

Sepanjang pengetahuanku, aku tumbuh menjadi orang yang kurang pede, tidak ambisius, impulsif, bukan risk taker. Kombinasi yang kurang baik, tapi ya aku jalani saja. Aku tidak suka komitmen sebenarnya, karena aku takut bila pilihanku salah, lalu berabe. Mending i go with the flow.

Keadaan beberapa hari ini aku cukup resah, panik, bingung. Kerjaan kantor yang masih menumpuk, belum juga masalah program komputer yang belum selesai di-update tapi sudah dikejar waktu. Keputusan masa depan tentang tempat tinggal dsb. Semuanya ada tenggat waktu.

Kalo membuat keputusan karena mepet waktu pasti serba salah. Dilema! Mau ngikutin sesuai rencana, atau ambil saja kesempatan yang ada sekarang? Mau menjadi safe player atau kesempatan yang ada membuat kita jadi terdorong untuk bergerak?

I mean, mau nunggu semua perfect, sampai kapan? :p

Tikus & Miu
Seperti Miu-ku.. sedang dilema rupanya.

Habis Mimpi Ngga Bisa Tidur Lagi

Semalem aku mimpi begini:

Pagi ini aku berangkat bareng pacar menuju SMA ku yang lokasinya di pondok indah. Jalan kaki dari parkiran berdua, tapi ngga gandengan tangan. Ketemu temen sekelasku, Laura, yang sempet nyapa, habis itu kyknya kasak kusuk sama temennya entah ngebicarain apa (mungkin dia heran knapa aku jalan sama pacarku, karena mereka taunya aku masih sama Jerry (pacarku semasa SMP)). Hari itu adalah hari pertama di tahun ajaran baru.

Masuk ke lorong kelasku, aku dapet kelas A, sedangkan pacarku dapet kelas E (kelas paling akhir). Wuah, lokasinya paling ujung tuh. Aku masuk ke kelasku untuk mencari bangku kosong yang akan aku tempati sepanjang tahun ajaran itu, sedangkan pacarku langsung menuju kelasnya. Pas aku selesai naruh tas di bangku, aku dapet 2 note yang isinya tulisan pacarku. Kertas pertama isinya jadwal sekolah menurut jam, ada 1 hari yang diwarnai stabilo kuning, hadi selasa, dan tulisannya “di hari ini kita bisa berangkat bareng”. Note satu lagi adalah jadwal pelajarannya (dia anak IPA, aku anak IPS) dengan tulisan “diinget ya, kalo perlu di tempel di meja belajar”. How sweet.

Aku jalan ke arah kelas paling ujung, menemukan pacarku lagi ngobrol berdua sama teman sebangkunya yang baru, Stanley. Dia melihatku, langsung menghapiriku. Kita ngobrol sebentar sebelum bel pelajaran berbunyi. Aku ingat, aku bilang: “kelas kamu jauh, berati tiap aku kesini, begitu bel bunyi aku mesti langsung lari kembali ke kelasku. kalo ngga pasti telat (keduluan guru masuk)”.

Ngga lama bel bunyi, aku pamit dan langsung balik. Di tengah jalan aku papasan dengan papaku. Tumben papaku dateng. “Ada apa Pa? Koq ke sekolahku?”. Berhubung dia juga buru-buru, dia hanya menjawab “err.. nanti Papa kasi tau pas sampe rumah, buru-buru nih” .. semacam itulah. Lalu aku melanjutkan jalan kembali ke kelasku.

Sesampainya di lorong kelas, rupanya sudah sepi. Duh.. jangan-jangan aku telat. Betul juga, Bu Hardini sudah duduk di meja guru, anak-anak terlihat sedang mengeluarkan buku dari tas. Aku permisi untuk masuk. Tiba-tiba Bu Hardini bertanya dengan ketus:
Bu Hardini: “dari mana kamu?”
Aku: “dari kelas E. Bu”
Bu Hardini: “mana surat ijin masuknya? koq kamu seenaknya masuk begitu? sudah telat lagi!”
Aku: *gugup dan bingung tentang peraturan baru yang aku belum tau* “err.. maksud ibu surat apa?”
Bu Hardini: ngomel-ngomel dengan ketus panjang lebar sambil membuat aku malu di depan kelas..
Aku: “Bu.. Ibu jangan marah dulu. Coba jelaskan ke saya dulu tentang surat tersebut.”
Bu Hardini: ngomel-ngomel dengan ketus panjang lebar sampai aku ngga begitu inget..
Aku: “Ibu. Ayo kita bicarakan hal ini di ruangan lain saja. Saya ngga mau dipermalukan begini di depan kelas” *mulai menjawab dengan ketus*.

Kemudian aku tersadar dari mimpi, dan aku berpikir:

Kenapa ya si Ibu ini ngomongnya ketus begitu? Dendam pribadi? Koq marah-marah begitu sih? Aku jadi bt dengan perlakuan ibu guru yang marah secara subjektif. Dan aku paling tidak suka dipermalukan di depan teman-temanku seperti itu. Dia sebagai orang yang lebih dewasa mestinya bisa dong ngomong yang tegas, memberi contoh kepada muridnya, dan menjaga harga diri aku dan dia juga.

Bayanganku, kalo aku dan dia sudah di satu ruangan, baru deh bisa berantem argumen. I mean, aku kan di sekolah itu bayar.. aku boleh dong komplen atas perlakuan pelayanan sekolah yang semau guru .. ngga bener itu.

Sampai-sampai aku berpikir, kalo nanti aku punya anak dan mendapatkan anakku diomel-omelin di depan kelas dengan mempermalukan begitu, aku mau bertemu kepala sekolah, komplain masalah aturan pengajaran yang baik itu seperti apa. Guru seharusnya mendidik yang benar, bukan malah menjatuhkan harga diri murid dengan cara feodal begitu. Kalo perlu aku tarik anakku dari sekolah ngga kompeten seperti itu. Pelayanan yang aku bayar mahal demi mendidik anakku koq malah memperburuk mental anak. Huh!

Walkthrough Virtual Villagers 1.0

Gara-gara Tub install game ini di komputer warnet rumahku, aku jadi penasaran dan mencobanya. Aku penggemar computer game seperti building series (Caesar dan semua keluaran Sierra, Simcity, dll) game seperti The Sims, dan arcade seperti Super Mario Bros 3. Nah, VV ini mirip dengan The Sims. Ulasan tentang game VV bisa dibaca disini.

Sudah seminggu ini aku malas kerja ketika di kantor, dan yang kulakukan hanya main VV sambil nongkrong di kampung gajah. Apa sih yang membuat aku penasaran? Gara-gara beberapa kali mencoba main di warnet rumah, koq mati melulu. Dengan bertanya pada Tub dan Bunda, dan pembahasan di milis, aku memulai (start a new village) hari senin.

Tub pernah bilang kalo game ini bisa dipercepat dengan cara mengubah jam pada komputer, karena game ini men-detect jam sebagai waktu dalam game. Aku pernah coba, eh ngga sengaja malah mati (ternyata aku ganti jam tapi tanggal tidak diganti, seakan waktu berjalan mundur). Aku jadi kapok. Jadi, sejak senin sampai hari ini aku memainkan game tanpa mempercepat waktu. Aku belajar lumayan banyak, walopun lama-lama membosankan. Bahkan aku sempat menelpon Bunda untuk minta saran dan tanya-tanya. Di milis saja, Mas Idban sudah menamatkan VV 2.0, wuah.

Demi menghadapi long wiken tanpa menyelesaikan rasa penasaranku memainkan VV, akhirnya aku bermain lagi di warnet rumah, start new village, sambil menggunakan cheat yang Tub ajari: memajukan jam. Berikut hasil dari permainan VV yang sudah kutamatkan selama 3,5 jam (sambil makan dan nyempetin di kampung gajah) yang berupa walkthrough:

  • well –> ambil adebt builder unt bersihkan (cuman perlu sekali jalan)
  • ini aja:
    • set 1 builder –> new hut
    • set 1 atau 2 research –> meja panjang
    • sisanya foraging aja (jangan suruh breeding dulu)
  • setelah ada tech beli farming:
    • taruh 2 researching
    • sisanya farming
    • 1 breeding (cewek aja. kalo cowok, nanti cewek2 pada dihamilin semua, ngga bisa kerja) biarkan generasi berikutnya ini tumbuh satu persatu
  • bila populasi bertambah:
    • perbanyak researching dan farming saja, jangan lakukan yg lain termasuk solving puzzle seperti bersihkan pantai atau bersihkan lagoon
    • bila food dan tech sudah banyak, tambah 2 healing, 2 builder (bawa healer ke 4 macam tumbuhan aneh: bulet2 hijau di sebelah kiri, kaktus, lily, rose –> membuka 1 puzzle)
    • ambil master apa saja untuk buka sekolah (taruh di rumah panjang)
    • beli tech konstruksi dan science (lainnya belum terlalu penting)
  • kalo populasi jadi 13:
    • ambil 2 builder, bikin new hut
    • populasi jangan lebih dari 15 (kalo lebih, hasil farming ngga setara dengan populasi, jadinya kekurangan makanan).
  • kalo populasi sudah 15
    • suruh research banyak-banyak supaya tech level 2 kebuka semua
    • bersihkan pantai dari kayu kayu (persiapan fishing)
    • kejar tech level 3 farming (unt fishing). kalo sudah bisa fishing, semuanya sudah aman,karena makanan akan selalu ada tanpa menunggu.
  • kalo sudah fishing (jumlah yg farming/fishing 3 saja cukup)
    • tambah builder yg banyak untuk:
      • kosongkan lagoon (suruh master farming unt fishing disana –> pecahkan 1 puzzle)
      • suruh sirami kebun bunga (1 puzzle lagi)
      • bangun temple dan patung idol (2 puzzle lagi)
    • tambah orang di research untuk penuhi semua tech ke level 3
  • lalu, tinggal baca di sini, beli semua tech dan selesaikan semua puzzle

Aku selesain dalam 44 jam permainan.. ranknya 999 (karena jam terbanyak = rank 1), tapi aku rank pertama yang menyelesaikan 16 of 16 tercepat. 😀
VV-rank

Berikut suasana village setelah semua puzzle terbuka. Populasiku tidak sampai full 90 orang, sudah bisa menyelesaikan 🙂
vv-01

Nah yang di bawah ini adalah hasil Mas Idban menyelesaikan VV 2.0:
vv-02

Dan ranknya:
VV02-rank

Dompet Idaman

Wiken kemarin aku sempet jalan jalan lihat lihat dan tiba-tiba menemukan dompet panjang paling praktis yang pernah aku liat. Dari sejak kecil, bagiku dompet panjang identik dengan feminin dan ibu-ibu. Nah, sejak kecil sampai sekarang sebenernya aku masih terbiasa pakai dompet lipat karena ukurannya yang pas di saku belakang celana, maupun saku depan. Kadang-kadang aku memang malas bawa tas jinjing, jadinya tinggal mengantongi dompet dan hp di saku celana, begitu saja.

Beberapa kali aku pernah memakai dompet panjang juga, tapi karena kurang praktis dan kurang efisien, jadinya aku kembali lagi ke dompet lipat. Tapi setelah lihat dompet panjang ini, aku sudah langsung jatuh cinta.

Dompet panjang ini jelas palsu. Aku bukan brand minded. Semakin murah aku bisa beli barang dengan kualitas bagus, semakin aku bangga. Nah dompet ini aku beli cuman seharga 35ribu dan menurutku kualitasnya bagus. Kemarin aku sempet mampir ke ITC Mangga Dua, melihat beraneka ragam dompet yang dibandrol 20ribu-an. Aku juga melihat dompet yang hampir persis dengan punyaku. Sempet keki, tapi ketika aku buka dan perhatikan lebih seksama, terlihat kalau kualitasnya jauh lebih bagusan punyaku. Hehehe…

Nah, apa sih yang aku suka dari dompet ini?

  1. Aku butuh dompet panjang untuk menaruh uang lebih banyak. Berhubung sekarang urusanku lebih banyak untuk membayar ini itu, jadi aku harus sedia dompet yang bisa menampung lembaran lebih banyak untuk uang dan juga bon-bon. Dulu pas masih pakai dompet lipat, isi uangku ngga pernah banyak, aku lebih sering memakai kartu debit. Bon-bon pun tidak diperlukan dan langsung dibuang.
  2. Aku suka uang menjadi lurus dan rapih, tidak uwel-uwelan berdesak-desakan begitu.
  3. Resletingnya-lah yang membuat dompet ini ringkes. Jadi tidak mungkin kertas-kertas didalamnya bisa jatuh tercecer. Resletingnya pun mantep dan mudah digerakkan. Ngga takut macet maupun brodol.
  4. Lipatan model akordion memudahkan aku untuk membagi-bagi jenis uang, misalnya kasbon uang kantor dan uang sendiri, atau uang besar dan uang kecil, bahkan uang cadangan untuk wanti-wanti ditilang polisi (aku menyiapkan 20ribu-an beberapa).
  5. Kulit luarnya (entah asli kulit atau semi fiber/plastik) terlihat kokoh dan empuk, tahan air.
  6. Kapasitas jelas lebih muat banyak daripada dompet lipat, karena aku juga memasukkan kartu namaku. Tapi kekurangannya hanya 1: kantong untuk kartu hanya ada 4. Sedangkan kartuku paling sedikit ada 8 (tidak termasuk ktp model jadul yg ukurannya besar itu). Jadinya 4 kartu sisanya aku taruh di lipatan kipas secara begitu saja (tidak teratur).

So far, aku sangat puas 🙂