Sela.. Eh..

.. ngga lucu dong kalo nyelametin diri sendiri.

Mikir-mikir udah umur 26 gini mau ngapain ya? Minta kado? Mikir-mikir.. lagi butuh apa ya? Gadget terbaru kyknya belum ada yang seru, buku.. lagi ngga ada yang dicari (minjem sih ada), mikir-mikir.. koq kyknya makin tua makin terbatas kebutuhannya.

Mikir-mikir..

Ada siy yang diinginkan.. menikah, apartemen, Canon EOS 400D. Tapi kyknya berat, mesti nguras kocek sendiri. Hihihi. *kabur*

Photo Box Ria

Photo Box mulai masuk di mol di Jakarta tepatnya ketika aku masih kelas 3 SMP. Di kelas 3 SMP itu kita ada ekskul berenang di Waterpark Pondok Indah pas sebelahan dengan Pondok Indah Mol (PIM). Setiap selesai ekskul berenang, kita-kita suka nyambi jalan-jalan ke PIM. Rasanya 1 mol yang jelas-jelas bukan wiken itu bisa penuh dengan teman sekelas, err.. seangkatan deng. Seru banget! dan salah satu yang kita suka lakukan adalah mengantri untuk photobox di counter Fuji.

Saat itu, kualitas hasil photobox tidak bisa dikatakan bagus sekali, but we like it so much. Hasil print tidak selalu sama, anehnya. Kualitas kertas photo asli fuji (sepertinya mesin mencetaknya bukan yang seperti printer kertas photo sekarang, tetapi mesin cetak foto fuji *halah, gmana sih ngomongnya? pokoknya gitu deh). Kita paling suka warna sephia yg agak muda, biasanya exposure brightnya tinggi, jadinya soft tone gitu. Manis deh jadinya. Sekali foto max aku pernah 9 orang bareng-bareng. Yang penting semua wajah terlihat, walopun cuman mata atau dagunya saja. Hihihi. Jangan ditanya bagaimana duduknya, padahal hanya disediakan 1 tempat duduk bulat di tengah-tengah.

Cukup lama photobox ini belum punya pesaing. Tiap main ke rumah temen pasti punya kumpulan photobox yang disusun seperti scrap-book dengan detail-detail. Dari warna sephia, warna black n white sampai warna asli. Pokoknya favorite banget. Kekurangan dari photobox ini hanya satu, ngga bisa dibuat pas foto formal.

Kemudian muncul photobox berstiker. Di counter Fuji ada, di Matahari Timezone juga ada, bahkan di arena game di dalam 21 juga suka ada. Foto stiker ini 1 lembar isi 16 foto kecil-kecil. Bisa ada frame, bisa juga tidak. Kalau tidak pakai frame, terlalu plain dan kurang tajam gambarnya. Kalau pakai frame malah terlalu rame. Apalagi kalau berfoto rame (6 orang misalnya) harus dempet-dempetan mejeng kepala masing-masing. Sempat beberapa kali, tapi tidak terlalu exciting. Ngga berapa lama stiker ini mulai ada di jual di pasaran beserta software untuk mengatur letak posisi foto supaya pas dengan lembaran foto berstiker. Kurasa kurang laku juga.

Sekali waktu, sekitar awal kuliah mungkin, Fuji menarik photobox model pertama dan digantikan dengan photobox model baru yang sucks banget. Kualitas kertas tidak sebagus yang dulu. Kertasnya ya seperti kertas photo biasa yang bisa digunakan untuk mengeprint di rumah. Permukaan licin, anti air, lembaran lebih tipis, kualitas warna biasa saja, tidak over exposure dan bright seperti dulu. Pernah suatu kali aku foto, hasilnya jelek sekali sampai akhirnya harus kubuang. Bukan hasil printnya yang rusak, tapi ya hasil print warnanya tidak bagus seperti kertas foto asli. Kecewa, sungguh.

Sejak itu aku malas sekali berphotobox. Beberapa temanku juga mengatakan hal yang sama, hasil foto mereka dengan mesin photobox yang baru ini kurang diminati.

Vakum photobox.

Suatu kali aku jalan-jalan di Bintaro Plaza, ada yang menawarkan jasa photobox yang lokasinya tepat di lantai atas dari pintu masuk 21 (waktu itu). Namanya photobox Swadaya. Tau gak, uniknya apa? Oke, aku ceritakan. Masuk ke dalam kotak photobox yang besarnya sekitar 1.5 meter kali 1.5 meter. Cukup luas memang. Background macam-macam warna persis seperti foto studio. Kursi seadanya, dengan menghadap ke cermin besar. Tidak ada komputer, hanya ada lubang kecil di tengah-tengah cermin, dan tempat pijakan kaki untuk shutter di dekat kursi. Unik? Ok, selesai berfoto (hanya boleh 2 kali, dan tidak bisa mengulang) kita bayar dan diberi nota. Foto bisa diambil 3 hari kemudian, beserta film negatifnya. Nah, itu baru namanya swadaya. Hahahaha.

Belakangan ini macam-macam photobox sudah banyak. Bahkan M Studio membuat photo studio dengan fotografer sungguhan (bukan mesin) dan dibandrol dengan harga dibawah 100.000. Jangan ditanya bagaimana ramenya. Ketika foto studio yang lain memasang harga 300.000 hingga jutaan, photo studio ini benar-benar menjangkau dompet. Apalagi ketika hampir semua handphone sudah dilengkapi kamera, makin banyak abegeh berfoto ria dimanapun mereka inginkan (tidak perlu lagi di mol atau studio seperti beberapa tahun yang lalu) dan tinggal datang ke Fuji untuk langsung mencetaknya. Ukuran favorite adalah ukuran wallet size. Sudah persis seperti photobox, karena hasil cetakan menggunakan kertas foto asli (yang kalau kena air jadi rusak).

Namanya juga cewek, as I say, tidak bisa lepas dari bernarsis ria foto diri dengan hp maupun photobox. Seperti kata Tub, sudah punya hp berkamera, koq masih ke photobox.

Tulisan ini mengenang momen berfoto ria-setengah-terpaksa berempat.

Sambel Cabe Bikin Ngiler

Kemarin si Rini cerita kalo pas SMP pernah di operasi usus buntu. Usus buntunya yang dipotong ternyata sepanjang hampir 10cm! Isinya, jangan ditanya, biji cabe semua. Kata si dokter, kalo keburu meletus di dalam perut harus cuci darah melulu.

Ngemeng-ngemeng makan cabe, aku itu penggemar cabe maniak banget-banget. Dulu pas SMA sih ngga sampe segitunya, tapi sejak kuliah entah kenapa mulai cabe melulu. Kyknya dimulai pas kesengsem sama yang namanya Pecel Ayam di warung sebelah Pangudi Luhur. Aduh itu bumbunya yang terdiri dari sambel dan kacang enak sekali. Pedasnya ngga nyelekit, tapi tiba-tiba tidak terasa meler di hidung dan keringat bermunculan. Mantebh!

Pas pulang kampung ke rumah Papah, sudah menjadi tradisi kalo aku pulang kita rame-rame makan di Warung Bethany di Batu dengan menu Gurame Goreng-nya. Agak beda dari rasa sunda, tapi warung ini yang mengenalkan aku pertama kali dengan Gurame Goreng. Nah di warung ini sambelnya merah menantang.. pedesnya pas dan menggugah selera *ais..*

Di rumah Papah pula, menu paling ditunggu-tunggu adalah sop buntut presto. Empuk banget. Rasanya meresap. Bahkan sekali masak pakai daging buntut 1 kilo! Sambelnya itu lho, merah oranye dan asin.. *sumpah ini nulis sambil ngeces*. Sambelnya kyk sambel soto yang direbus lalu diuleg. Harus sedia tissue disebelah piring.

Kalau sehari-hari di rumah Papah, suka disediakan tempe goreng plus sambel uleg diatas uleg-an *haiyah*. Sambelnya selalu habis duluan ketimbang tempenya. Tempe khas pasar malang paling gurih sampai tiap aku pulang ke Jkt, my mom suka minta dibawain oleh-oleh tempe malang. Kadang-kadang kalo pas lagi dikirim ke Prigen aku ngga sempet sarapan, aku minta dibelakin beberapa tempe dan sambelnya di tempat plastik untuk dibawa ke tempat kerja.

Mulai 2002 dikenalkan dengan resto Dapsun di Bale Aer. Ikan guramenya enak, sambelnya ijo, ternyata enakkk banget. Pedesnya bukan maen. Jadi ngga bisa dicolek banyak-banyak, harus di cocol saja. Tapi makin lama makin keseringan ke Dapsun deket rumah (Cipete), jadi kadar cocolan berubah menjadi colekan juga. Makin sedap makin mantab.

Tahun 2005 dikenalkan oleh warung Pak Dhe Kirno di deket UBL. Mainly sih jual Pecel Ayam, tapi secara ngga sengaja aku menemukan bahwa disana juga dijual ikan gurame. Dilihat dari seringnya aku mampir dan melihat pesanan orang lain, sepertinya sangat jarang sekali menu gurame goreng dipesan. Sambelnya itu lho, sesuai dengan pesananku. Mas-mas yang berkacama suka membuatkan ku sambel ijo dengan sedikit tomat dan garam. Beberapa kali mampir sana selalu nambah sambelnya sampai 2 kali porsi, akhirnya mas-mas kacamataan itu membuatkan porsi banyak. Tau gak berapa cabenya? Sekitar 15 biji! OMG..

Setelah trayek pulang pergi dari kantor berubah melewati Cipete, tidak lama mulai dibangun resto baru Ikan Bakar Cianjur di jalan yang sama dengan Dapsun. Setelah hampir setahun berdiri, baru aku mulai iseng mencobanya. Kebetulan disana disediakan tidak hanya gurame, tapi juga ikan nila. Dulu aku pernah jalan-jalan ke Johor Baru, di JB ada mal yang sedia resto indonesia salah satunya menu Ikan Nila. Aduh empuknya. Nah, ketika kucoba ikan nila di resto ini, aduh enaknya.. empuk, manis, putih.. Sambelnya pun lumayan enak. Beberapa kali aku minta mereka membuatkan sambal ijo seperti di Dapsun, kurang berhasil, tapi sambel merah yang mereka punya juga not bad.

Tahun lalu ketika sering mampir bali, aku dikenalkan dengan yang namanya sambal goreng bali. Itu yah, namanya sambel enakkk banget. Cabe rawit merah dan irisan bawang merah digoreng lalu ditaruh diatas garam. Ketika menyolek, garamnya ikutan. Dimakan pakai nasi babi guling atau ayam goreng bikinan Rumah Renon paling cihuy, paha ayamnya gede-gede.

Terakhir.. nah ini yang paling seruw.

Mbak ku di rumah ternyata diem-diem (walopun katanya ngga suka memasak) membuat sambal ijo yang anjrit.. enaknya masih kerasa sampe sekarang. Gara-garanya tahun lalu ada makan-makan di rumahku karena Tangteh JMS datang bawa sop buntut bikinannya. Tangteh menyuruh mbak bikin sambel ijo pakai garam saja. Cabe rawit ijo nya buanyak gitu deh. Waktu itu yang dateng semua terkesima dengan gurihnya sop buntut JMS dan sambel mantepnya mbakku. Entah ya, dari komposisi, model uleg-an, gaya nguleg-nya, tapi yang namanya sambel bikinan mbakku, dari sambel mentah, mateng, sambel rawon maupun soto, sambel pecel ayam, semuanya enak. Hihihi.

Jadi, jangan heran kalo aku makan sambel dah kyk makan lauk. Dan kalo suatu saat aku terkena usus buntu, jangan lupa aku pesankan ke dokter.. ketika aku masih pingsan dibius, tolong tindikkan kedua telingaku 3 di bawah kiri, dan 3 dibawah kanan. Di telinga kiri atas tolong tambahkan 1 lagi.

Dan kalau aku meninggal, jangan lupa tolong donorkan semua organ apapun yang bisa didonorkan. Aku ingin beberapa bagian tubuhku masih berguna untuk orang lain yang membutuhkan *peace*!

Sudah Saatnya

Aku ingat, jaman aku masih SMP my Mom sering sibuk dengan kerjaannya di daerah Melawai (dekat gereja Blok B). Berangkat jam 10 pagi untuk menghindari macet dan pulang jam 9 malam. Jelas aku jarang bertemu dengan my Mom kecuali weekend. Teman-temanku kadang heran koq begitu sibuknya my Mom. She used to say, “I’m workaholic”.

Sekarang ini tempat kerjaku akan dibuka di Gianyar Bali, dan aku ditugaskan disini dengan status project based. Biasanya aku brangkat ke Bali bareng dengan Bu Est, dan pulangnya dengan dia juga. Otomatis aku selalu bersama dia. Cuman sekali saja aku tidak bersama Bu Est, yaitu ketika aku nonton Nidji di Hard Rock Bali. But I didn’t really enjoy it somehow. It was kind of bad luck, I think.

Biasanya, seminggu lebih di Bali, pulang ke Jakarta hanya untuk beberapa hari. Sukur-sukur dapet weekend di Jakarta, sekalian menjadi hari liburku. Just to know, kerja di proyek itu tidak ada libur. Mau weekend maupun hari libur pun ngga ada bedanya. Vendor pun tetap berdatangan, suasana kantor juga masih rame. Ya namanya juga kerja di proyek.

Jadi hiburanku apa?

Macam-macam. Being with Bu Est family sudah terhibur. Tiap malam kita keluar makan. Program diet harus ditunda dulu karena makan malem ini ngga mungkin ditolak, bisa-bisa seumur-umur disindir oleh Pak Dav.. adik Bu Est yg paling suka nyamber ledekan. Aduh, yang namanya bersama Pak Dav, ngga bakal bisa berhenti ketawa deh. Nyamber melulu, jadi bulan-bulanan. Beberapa ledekannya sudah bisa aku tampik, walopun begitu sebentar sudah dibalas lagi. Hihihi..

Seperti kemarin, kita mampir ke House of David, Salon dan Spa. Creambath, massage pundak, tangan dan kaki selama satu setengah jam. Uhh.. enakkk banget. Sesudahnya kita makan di warteg solo pinggir jalan. Pulangnya sudah ngga sadar, karena nyaman dan ngantuk. Begitu sampai kamar, langsung ke kasur dan pulas.

Hari ini, walopun hari libur, kita masih harus kerja untuk memenuhi barang-barang di dalam area kerjaku. Seperti mendetail keperluan 1 pintu itu membutuhkan: handle, lock case, cylinder, engsel, peek hole, grendel, dll. Itu hanya 1 pintu, dan aku harus memikirkan 50 bungalow dengan beberapa pintu di dalamnya. Bagi yang kurang jeli untuk memikirkan hal ini, pasti ngga bakal bisa sabar untuk duduk dan menimbang-nimbang keperluan.

Itu hanya salah satu contoh kerja. Bagian pembelian itu paling asik sebenernya. Apalagi buat cewek. Belanja-belanji, nawar harga, cek harga ini itu, dll. Banyak sekali ilmu yang didapat karena yang dibeli tidak hanya barang biasa, tapi seperti membuat rumah, harus mengerti kayu apa saja, kegunaan, perbedaan, kekuatan, kualitas 1-10, dll. Hihihi.

Ngga heran aku betah disini. Beberapa teman komplain kenapa aku begitu kerja minded. But hey, that’s what I love. To Be Workoholic.