Photo Box Ria

Photo Box mulai masuk di mol di Jakarta tepatnya ketika aku masih kelas 3 SMP. Di kelas 3 SMP itu kita ada ekskul berenang di Waterpark Pondok Indah pas sebelahan dengan Pondok Indah Mol (PIM). Setiap selesai ekskul berenang, kita-kita suka nyambi jalan-jalan ke PIM. Rasanya 1 mol yang jelas-jelas bukan wiken itu bisa penuh dengan teman sekelas, err.. seangkatan deng. Seru banget! dan salah satu yang kita suka lakukan adalah mengantri untuk photobox di counter Fuji.

Saat itu, kualitas hasil photobox tidak bisa dikatakan bagus sekali, but we like it so much. Hasil print tidak selalu sama, anehnya. Kualitas kertas photo asli fuji (sepertinya mesin mencetaknya bukan yang seperti printer kertas photo sekarang, tetapi mesin cetak foto fuji *halah, gmana sih ngomongnya? pokoknya gitu deh). Kita paling suka warna sephia yg agak muda, biasanya exposure brightnya tinggi, jadinya soft tone gitu. Manis deh jadinya. Sekali foto max aku pernah 9 orang bareng-bareng. Yang penting semua wajah terlihat, walopun cuman mata atau dagunya saja. Hihihi. Jangan ditanya bagaimana duduknya, padahal hanya disediakan 1 tempat duduk bulat di tengah-tengah.

Cukup lama photobox ini belum punya pesaing. Tiap main ke rumah temen pasti punya kumpulan photobox yang disusun seperti scrap-book dengan detail-detail. Dari warna sephia, warna black n white sampai warna asli. Pokoknya favorite banget. Kekurangan dari photobox ini hanya satu, ngga bisa dibuat pas foto formal.

Kemudian muncul photobox berstiker. Di counter Fuji ada, di Matahari Timezone juga ada, bahkan di arena game di dalam 21 juga suka ada. Foto stiker ini 1 lembar isi 16 foto kecil-kecil. Bisa ada frame, bisa juga tidak. Kalau tidak pakai frame, terlalu plain dan kurang tajam gambarnya. Kalau pakai frame malah terlalu rame. Apalagi kalau berfoto rame (6 orang misalnya) harus dempet-dempetan mejeng kepala masing-masing. Sempat beberapa kali, tapi tidak terlalu exciting. Ngga berapa lama stiker ini mulai ada di jual di pasaran beserta software untuk mengatur letak posisi foto supaya pas dengan lembaran foto berstiker. Kurasa kurang laku juga.

Sekali waktu, sekitar awal kuliah mungkin, Fuji menarik photobox model pertama dan digantikan dengan photobox model baru yang sucks banget. Kualitas kertas tidak sebagus yang dulu. Kertasnya ya seperti kertas photo biasa yang bisa digunakan untuk mengeprint di rumah. Permukaan licin, anti air, lembaran lebih tipis, kualitas warna biasa saja, tidak over exposure dan bright seperti dulu. Pernah suatu kali aku foto, hasilnya jelek sekali sampai akhirnya harus kubuang. Bukan hasil printnya yang rusak, tapi ya hasil print warnanya tidak bagus seperti kertas foto asli. Kecewa, sungguh.

Sejak itu aku malas sekali berphotobox. Beberapa temanku juga mengatakan hal yang sama, hasil foto mereka dengan mesin photobox yang baru ini kurang diminati.

Vakum photobox.

Suatu kali aku jalan-jalan di Bintaro Plaza, ada yang menawarkan jasa photobox yang lokasinya tepat di lantai atas dari pintu masuk 21 (waktu itu). Namanya photobox Swadaya. Tau gak, uniknya apa? Oke, aku ceritakan. Masuk ke dalam kotak photobox yang besarnya sekitar 1.5 meter kali 1.5 meter. Cukup luas memang. Background macam-macam warna persis seperti foto studio. Kursi seadanya, dengan menghadap ke cermin besar. Tidak ada komputer, hanya ada lubang kecil di tengah-tengah cermin, dan tempat pijakan kaki untuk shutter di dekat kursi. Unik? Ok, selesai berfoto (hanya boleh 2 kali, dan tidak bisa mengulang) kita bayar dan diberi nota. Foto bisa diambil 3 hari kemudian, beserta film negatifnya. Nah, itu baru namanya swadaya. Hahahaha.

Belakangan ini macam-macam photobox sudah banyak. Bahkan M Studio membuat photo studio dengan fotografer sungguhan (bukan mesin) dan dibandrol dengan harga dibawah 100.000. Jangan ditanya bagaimana ramenya. Ketika foto studio yang lain memasang harga 300.000 hingga jutaan, photo studio ini benar-benar menjangkau dompet. Apalagi ketika hampir semua handphone sudah dilengkapi kamera, makin banyak abegeh berfoto ria dimanapun mereka inginkan (tidak perlu lagi di mol atau studio seperti beberapa tahun yang lalu) dan tinggal datang ke Fuji untuk langsung mencetaknya. Ukuran favorite adalah ukuran wallet size. Sudah persis seperti photobox, karena hasil cetakan menggunakan kertas foto asli (yang kalau kena air jadi rusak).

Namanya juga cewek, as I say, tidak bisa lepas dari bernarsis ria foto diri dengan hp maupun photobox. Seperti kata Tub, sudah punya hp berkamera, koq masih ke photobox.

Tulisan ini mengenang momen berfoto ria-setengah-terpaksa berempat.

You Might Also Like

14 thoughts on “Photo Box Ria
  1. pasang dog sus, foto kita ber-4 bersama pria poria ituh hehehe,

    Kalo pake jasa fotografer lagi sih ya namanya bukan fotobox atuh neng. Tapi foto studio

    Yang jelas gue sih tetep seneng photobox. Tetap asik dan seru

  2. woalah
    guwa lupa komen di sini huahauhau

    emang kalian itu manusia² aneh. kamdig dan hengpon berkamera diciptakan untuk membunuh potobox
    kok masih aja melestarikan budaya jaman jadul dulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *