Omen

Omen.. bener-bener omen.

Kejadian ini dimulai ketika sebulan ini aku habiskan waktu di Jakarta dan belum kembali ke Bali untuk tugas. Rencana awal bahwa tempat kerja di bali akan dibuka 23 Juni sudah diundur-undur menjadi Juli, dan kabar terakhir bahkan menjadi 5 Agustus. Pas hari itu dikabarkan ke semua bos, hari itu juga bali yang sedang diguyur hujan nonstop selama 2 hari telah membuat ambruk jembatan utama untuk masuk ke lokasi. Jembatannya bukannya tidak kuat, tapi perhitungan kuatnya arus yang lewat telah menyeret dan mengikis fondasi jembatan, akibatnya jembatan merosot. Tidak hanya itu, air masuk ke lantai dasar Front Office, banyak tanaman diselamatkan daripada diseret air. Dua buah dinamo ikut terseret cukup jauh. Yang paling mengenaskan, ada sebidang tanah di depan lokasi yang bermaksud dibeli, sekarang lokasi tsb sudah berkurang luasnya karena habis dikikis laut.

Kejadian di atas membuat pembukaan diundur mejadi 1 Oktober. Pertimbangannya, mau buka pas Lebaran. Akunya yang repot, rencana liburan ke Yugo sama adikku bakal tabrakan somehow, karena liburnya dia di bulan September. Oke, untuk sementara kerjaanku bisa agak santai.

In the mean time, rumah Bu Est sudah mau jadi setelah setahun direnovasi. Deadline rumah ini harus bisa dihuni sejak hari ini karena sodara iparnya bakalan dateng hari ini dari Amrik. Rumah ini harus siap menyambut mereka & menampung mereka. Semingguan kemarin setiap harinya aku dan teman-teman kantor bekerja fisik membantu pindahan. Basically sih mengisi semua perabotan dengan barang-barang Bu Est yg masih di kardus. Sebelum menaruhnya, ya dicuci dulu. Setiap hari capek, pulang tuh jam 8 sudah ngantuk teler, bangunnya jam 6 / 7 pagi. Gila deh.

Beberapa bulan yang lalu Bu Est dapat free ticket ke Aussie (Sydney) dari Garuda dan dia berencana bertiga dengan suami dan anak untuk pergi minggu kemarin. Namanya gratis, sayang kalo tidak dipakai. Nah, problem dimulai lagi saat Bu Est menerima paspor dari Aussie Embassy, tiba-tiba tuh paspor hilang, padahal sudah dibawa ke rumah. Apa memang ketlisut hilang, hanya Tuhan yang tau. Kebetulan masa aktifnya memasuki tinggal 6 bukan. Yasud sekalian bikin baru dan apply visa lagi. Pas mau brangkat minggu lalu, malemnya mau berangkat, eh paspor anaknya Bu Est hilang. Gila ngga tuh? Padahal naruhnya bareng-bareng sama paspot dia dan suaminya. Mestinya ngga mungkin banget kepisah, karena sudah ditaruh di dalam tas di paling bawah. Gak, tas nya gak bolong, gak mungkin ada yang obrak abrik. Aneh bin ajaib. Mau gak mau, mereka membatalkan kepergian ini.

Beberapa hari yang lalu, Bu Est sms aku.. masa paspor anaknya ketemu. Trus ketemunya di atas rak sepatu depan kamarnya. Begitu saja. Kan aneh banget??? Which is sehari-hari mereka lewat sana tapi ngga ada paspor di atasnya. Entahlah.. semua pembantu sudah ditanyai, ngga ada yang bisa jawab. Hanya Tuhan yang tau, memang.

Hari ini.. pagi ini aku masih sms-an sama Bu Est untuk menanyakan, apa hari ini kita mau bantu-bantu lagi. Dia bilang sih ngga. Ok, seharian aku di kantor tenang-tenang.. sambil heran koq tumben Bu Est ngga sms ngga telp.

Tau gak, ternyata hp Bu Est hilang, pagi tadi. Pastinya setelah aku sms-an. Hhhhhh!!!!!

Seharian dicari dan di telp gak bisa. Curiganya ya tukang yang lagi ngerjain rumahnya ngambil. Secara seharian dari pagi dia di sana. Aneh banget. Anehhh banget. Kirain udah aman, udah banyak orang & keluarga Bu Est, tapi masih ada aja kesempatan itu. Oke, sayang aja hp communicator kan mahal. Yang lebih disayangkan itu sms-sms penting yang bisa dijadikan bukti-bukti untuk kerjaannya itu yang ikut hilang. Dan tentu saja phone booknya, mudah-mudahan sih sudah di back up.

You Might Also Like

9 thoughts on “Omen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *