Expensive London

Brengsek banget. Sudah nulis 5 paragraf, tiba-tiba dalam sekejab hilang seketika. Yasudah, nulis di compose gmail aja biar di save otomatis.

Ngga tega sebenernya meninggalkan Ririn, Tia, Dhiana dan Rini berkutat dengan kesibukan, peluh keringat, kehilangan lemak, stress under pressure di Bali. Bukan maksud kabur atau bersenang-senang, tapi siapa suruh pembukaan diundur dari tanggal 1 Okt menjadi tanggal 9 Okt ketika aku sudah keburu pesan tiket sesuai dengan jadwal libur panjang Tibi, my bro.

Sejak pulang dari Bali tanggal 1 Okt kemarin, aku ngga berhenti menelpon mereka (XL murah, yeah) berkali-kali untuk mendengar update laporan disana. Tidak terkecuali Bu Est yg makin stress dengan politikus yang mengaku tidak berbuat politik. Untung masih ada Pak Ghani di sana yang bisa menentramkan keadaan. My wise cool daddy.

Kemarin akhirnya selesai juga mengepak 2 koper untuk dibawa ke Serbia. 1 koper isi barang-barang pribadi yang cukup ringan dan masih ada space. Satu koper lagi isinya small rice cooker, beras 5kg, indomie more than 20 bungkus, cabe kriting dan cabe rawit, Baileys buat nenek. Koper itu sendiri beratnya 26kg. Untungnya aku berangkat berdua dengan Tibi, menghabiskan total 57kg dari max kapasitas 60kg.. heh heh .. *ogah rugi bgt*.

Kerjaan kita dari Changi – Heathrow adalah foto-foto narsis, ngetawain orang lain yang ngga ngerti bahasa kita, sibuk sendiri dengan cari makanan dan lihat-lihat gadget. Berhubung di Heathrow cukup lama, maka kita main internetan saja. Mahal sih, 1 Euro 5 menit. Habis ini mau jalan-jalan ke toko-toko dan foto-foto lagi.

Coba Nugi jadi ikutan :p

You Might Also Like

6 thoughts on “Expensive London

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *