Resep Bubuk Lulur

Sebenernya sebelum akyu memberanikan diri untuk ngeblog tentang resep ini, aku yakinkan setelah googling, gak nemu resep lulur lainnya, hahahaha… *curang*

Jadi gini *saelah*.. sejak jadi anak lounge,… maksudnya suka nge-lounge kalo di bandara.. itu artinya aku terlalu sering bepergian entah ke sana kemari (kalo kata Saylow, hari ini menclok disini, besok udah disana .. *entah disananya dimana*). Ember, tahun ini banyak diberi wejangan oleh dewa keberuntungan (bukan dewi).

Yang namanya bepergian, harus siap sama yang namanya dimintain oleh-oleh.. ohya.. ada yg request no more gantungan kunci. Kemarin, Bu Est, my lovely bos sudah wanti-wanti nitip segudang titipan dari Spore, padahal minggu lalu dia baru dari Spore.. kurang beli lebih banyak lagi, katanya. Nah, kali ini anak-anak kantor sudah wanti-wanti nitip oleh-oleh bubuk lulur. Haiyah..

Bubuk lulur emang banyak macamnya, googling saja, pasti mendarat di situs-situs pendek produk-produk lulur bali. Di Bali sendiri terkenal dengan Boreh Bali Powder. Padahal yg Ririn pesan adalah lulur buat pengantin, which is Lulur Jawa yg kental aroma dan warna kunyit. Padahal kalo boleh milih, wangi boreh lebih eksotik ketimbang lulur jawa.

*Hunting…* Ya iya lah.. secara klo gw gak bawa pulang bubuk lulur, disuruh balik lagi ke Bali. Ya sama lah sama bos.. kalo gak bawa titipan dari Spore, gak boleh balik ke Bali.. *sigh..*

Kata mamaknya piptinjun, aku bisa dapetin bubuk ini dengan harga murmer di Pasar Badung, Denpasar. *Makasih Mak!* Kakiku menyusuri tangga dari arah Pasar Kumbasari melewati jembatan yang melintasi Sungai Badung.. aduh mak.. kalo ngga ada wangi-wangian ikan dan sampah, sudah ku keluarkan kameraku dengan lensa baru, nok. Naik ke lantai 2, lalu menuju ke arah tengah, penjual bubuk rempah.

Penjual rempah pertama kutanyakan, apakah menjual bubuk lulur. Ibu itu bilang “sing ada” .. *gubrak*.. “tapi biasanya ada yang beli di tempat tiang, campuran beberapa rempah ini .. ini … untuk dijadikan bubuk lulur”.. *hyaa sopo nyono, rek..*.

Bubuk rempah-rempahnya bisa dibilang komplit, rapih dan diplastik satu-satu dengan ukuran small (5000), medium (10.000) dan large (20.000). Dari yang namanya bubuk sandalwood sampai bubuk merica putih pun ada. Akhirnya, ibu niki mengambil hasil ramuan pembelinya yang suka memesan di ibu ini.. dia bilang, ada 12 kantong yang biasa diambil:

  • 4 kantong medium bubuk sandalwood powder (kayu sandal / cendana)
  • 2 kantong medium bubuk ginger powder (jahe)
  • 2 kantong medium bubuk coriander powder (ketumbar)
  • 1 kantong medium bubuk nutmeg powder (biji pala)
  • 1 kantong medium bubuk cinnamon powder (kayu manis)
  • 1 kantong medium bubuk clove powder (cengkeh)
  • 1 kantong medium bubuk turmeric powder (kunyit)

Oke, aku ambil resep yang sama aja.. urusan benar atau tidak, belakangan. Toh dari wangi-wanginya.. samar-samar mirip koq.. hehehe.. Bayar 100.000.. harga langganan, keto nok katanya.

Wangi yang paling enak ya jelas kayu manis, kedua baru jahe, biji pala dan cengkeh. Sandalwood malah kurang wangi, begitupula dengan ketumbar. Yang pasti sih, ayam goreng ketumbar memang enak.

Dari ke 12 bubuk tersebut dicampur aduk dalam wadah.. Ngemeng-ngemeng.. jadinya koq kyk Boreh beneran yah? Hahaha.. Bedanya, boreh ini pakai kunyit, jadi ada kuning-kuningnya.

Cara pakai sih sebenernya sesuai selera. Bisa dicampur dengan minyak zaitun, sambil menghirup aroma oil burner dari minyak jasmine, minyak lavender maupun lemongrass (serai).. those are my fav oil perfume. Lalu dilumurkan ke kulit, gosok-gosok sampai daki terangkat, tapi jangan sampai lecet.

Cara lain ada juga dilumurkan dulu minyaknya sambil dipijat.. baru belakangan bubuk lulur dilumurkan dengan sedikit air agar tidak terbang-terbang.

Cara lain lagi, dicampur dengan susu bubuk, .. semi lulur rempah dan susu.. hahaha.

Ohya, bonus list wangi-wangian yang tidak disukai nyamuk:

Update Terbaru

Pause dulu lanjutan cerita liburan October Vacation nya. Terlalu detail, memerlukan niat dan mood yg prima.

Sebenernya, sehabis liburan October Vacation, aku sempet ijin 2 hari ke Malang. Mulai deh minggu-minggu kawinan. Kawinan pertama dimulai Sherly dan Donny yg sudah pacaran sekitar 6 tahun. Sherly sudah menetap di Spore, sedangkan Donny akan menyusul sambil mencari kerja. Sherly adalah sodara sepupu paling dekat denganku.

Foto-foto lebih banyak bercerita ketimbang cerita narasiku. Memang dasar akunya yang males pasang foto dibarengi dengan narasi cerita, sehingga aku mengira pembaca (dan pemberi komen) mulai sedikit. Mumpung 3 bulan ini aku dapat free Flickr Pro, ya digunakan banget, apalagi sudah ada equipment Canon 400D (yang masih pakai lensa kit) jepret sana jepret sini, ngga pandang perlu atau tidak.

Kembali bekerja sehabis banyak libur itu tidak enak. Mengejar info ketinggalan, problem ketinggalan, bahkan gosip seputar kerjaan dan selebritis yang ketinggalan. Apalagi di situasi kalau aku harus memotong cerita orang untuk bertanya dulu kronologis cerita dari awal.

Beberapa hari saja aku di Jakarta, sudah terbang lagi ke Bali. Pas di Jakarta sempet jatuh sakit karena tubuh ngga kuat dengan kepo nya aku ingin kesini kesitu. Ke Bali bukan masalah, yang jadi masalah ketika ada problem besar di kantor (ganti manajemen). Aku lalui 8 hari di Bali dengan di enjoy saja, panas ya panas.. lengket, lembab, kringetan melulu, make-up tidak nyaman, rambut diurai tidak nyaman, tiap sore menjelang malam suasana sudah mulai dingin tapi badan masih lengket.

Ditengah perjalanan ke Bali ada peresmian oleh SBY dan beberapa mentri, gubernur setempat dan walikota setempat. Dibilang repot banget ya tidak, tapi aku mesti ngejar pembuatan name-tag untuk jangan sampai anak-anak divisiku ditembak atau tidak bisa masuk lokasi Ring 1. Name-tag dibuat dengan modal kamera sendiri, background seru berwarna-warni, tulisan nama panggilan (real name), print di printer biasa dengan kertas foto biasa. Masuk ke name-tag-holder, beres.

Pulang dari acara peresmian BSMP oleh SBY, aku diculik leh 3 ibu-ibu gokil shopaholic untuk kabur ke Seminyak *ngumpet*. Foto jalan-jalan ada di flickr.

Sebelum akhirnya pulang ke Jakarta, sempet mampir ke rumah om tante di Renon, sowan, ngobrol, malah dikasih snack buat perjalanan pulang dan aku tawarkan nitip oleh-oleh dari JPC Kemang. I love them. They are so nice to me, just like their own daughther :p

Pulang ke Jakarta harus mengerutkan dahi untuk menghadapi intrik dengan petugas pengatur taksi bandara. Belum lagi kemacetan yang makin parah karena pembangunan busway sudah merambah daerah Jakarta Selatan. Kangen masakan Jakarta seperti sate padang, nila goreng cianjur, bebek goreng (ah.. sampe sekarang blum kesampean).

Besoknya aku dan Nugi ke salon. Awalnya mau ktemu dokter untuk urusan dietary *jd maluw* tapi jadinya malah urus rambut biar nurut dan pasang cutex hitam+silver *devil’s laugh*. Nugi potong rambut biar rapih. Hasilnya juga ada di flickr. Ngga lama, pasangan Tublub dateng untuk relaksasi meni pedi dan krimbath. Maklum bow, kantor Blub sudah ngga di bunderan Ratu Plz, tapi malah pindah ke Mangga Dua.

Malemnya acara kawinan sodara sepupu yang sejak lulus SMA pindah ke Jakarta untuk kuliah dan kerja, Ivana dan Luki. Ketemu lagi dengan beberapa sodara yang waktu kawinan Sherly juga ada. Aku sudah ngga mood pilih-pilih baju. Antara mau gaun rok pendek atau rok panjang. Akhirnya malah pakai kemeja hitam u can see dan sarung silk punya mom warna hijau. Foto-foto, senyum sana sini, menjawab pertanyaan seperti template (biasa.. ditanya kapan menyusul).

Malam itu, tenggorokanku sudah perih 🙁 ngga bisa ngomong.

Paginya kita masih harus menghadiri kawinan Dewi dan Krisna, anak dari Tante Suzanna yang sama-sama kampung halaman dengan my mom. Sinta, kembaran si Dewi juga sibuk ketemu teman-teman yang dateng. Lucunya, gift souvenir nya Ivana dan Dewi sama.. hahaha.. sama-sama tempat jewel dari tanah liat bentuk kura-kura. Lagi musim ya?

Sempet ngga sadar kalo ada 1 mantanku yang pasti datang karena dia juga kenal dengan Sinta Dewi. Mantan yang aku malas sekali ketemu. Tapi ya namanya kesopanan, harus dijalani. Sapa-menyapa, jawab sekenanya, yang penting sopan.

Hari ini tidak begitu istimewa, kecuali meeting dengan manajemen baru, sangat amat kurang tidur. Hanya 1 hal yang membuatku termotivasi untuk menulis blog lagi. Long time no see, one of my close friend. Dia kembali lagi ngeblog, setelah blog-blog lamanya hilang karena tidak di back-up. Cerita tentang kita dulu ngapain aja.. aduh kyk masa abege baru gede, ketawa-ketawa tanpa sadar hari esok, tengil dan aktif kemana-mana, malu pas menceritakan.. aih..

Kembali lagi aku sadar, my memory.. ada gunanya juga cerita-cerita itu.. untuk bisa dikenang, ditulis di blog, diary, etc. Salah satu yang membantu aku dalam hal bercerita kronologis adalah hasil foto-fotoku.