Efek Kopi

Aarrrggghhh…

Kebiasaan tidur terbalik kyk kalong memang menyebalkan. Kebiasaan ini mulai sejak sekitar SMP. Sebenernya sejak SD pun suka tiba-tiba kecepetan tidur jadi jam 4 sudah terbangun, atau ngga ngantuk-ngantuk sampe jam 2 pagi trus jam 6-7 susah banget bangun dan berangkan sekolah. Kalo dulu ngga bakal bisa bolos sekolah gara-gara ngantuk karena tanggung jawab *halah! padahal bilang aja males bolos karena takut ketinggalan catetan / tugas-tugas.. daripada ngerjain sendirian*.

Kebiasan ini mulai merajalela ketika kuliah. Ya mungkin beberapa kali bolos (tanpa masuk kuliah sama sekali) karena semalaman begadang dan siangnya malah tidur pulas, walopun tidak sering. Paling parah adalah ketika besoknya sidang, semalam suntuk bikin contekan untuk baca (mem-presentasikan) isi skripsi. Oh yeah, I don’t like to speech in front of class.

Alhasil, pagi-pagi harus disogok dengan segelas kopi susu. Tidak perlu kopi pahit tanpa gula.. plus susu pun sudah cukup bisa membuat mataku melek. Skripsi sukses (sukses menurutku lho ya..) ketika bagian pertanyaan dari dosen pembimbing dan dosen penguji, aku tidak panik dan menjawab dengan apa adanya (jujur dan terbuka).

Aku bayangkan, klo misalnya aku tidur yg cukup, kondisiku pasti normal.. yaitu.. grogi, panik, cemas, malu, gemetaran, dsb. Tapi gara-gara ngantuk sambil didopping kopi, ya jadinya begitu.. mreketenteng kalo kata anak-anak mah.

2 malam ini aku tidak tidur. Malam yg pertama adalah Minggu ke Senin, ngga bisa tidur karena pas wiken kelewatan jam tidurnya yg akhirnya malah terbalik (siang kebanyakan tidur, malamnya ngga ngantuk-ngantuk). Malam itu dihabiskan membaca Harry Potter #7. Malam kedua dihabiskan main Age Of Emipre #3 yg campaign sampai tamat.

Oke, itu berarti di hari Senin aku bolos kerja untuk tidur sesiangan. Tapi ngga bisa terus-terusan begini. Hari ini selasa dan aku harus masuk kerja. Bukan, bukan ada meeting atau apa, ya tanggung jawab aja. Rasanya kelewatan aja klo mau bolos sampai 2 hari. Toh bos ku mengerti ada yg namanya ‘hari malas’ untuk sesekali waktu, tapi ya bukan untuk 2 hari.

Pagi tadi, aku minum kopi susu. Kopi susu itu bukan minuman kebutuhan setiap hari atau karena suka rasanya. Bisa dibilang, aku bukan peminum kopi. Apalagi kopi pahit. Nenek dan kakek dari mom kebiasaan minum kopi sore-sore jam 4. Masaknya pun pakai semacam panci khusus kopi, dari besi, khas daerah sono deh pokoknya. Mom sendiri terbiasa minum double shot setiap pagi, kalau ngga bisa sakit kepala. Bokap pun terbiasa minum kopi tubruk / seduh (?!) untuk pagi dan sore, masing-masing segelas.

Efeknya? Dahsyat!!! Pokoknya pagi tadi kyk keranjingan kerjaan. Pas mandi pun mikirin kerjaan, pas nyetir nelp sana sini ttg kerjaan, ngecek ini ngecek itu. Tiba-tiba otak jadi giat bekerja dan berpikir.. buset deh. Apa ini artinya efek kopi benar-benar mantabh sampe harus menjadi kebiasaan tiap pagiku? Oh no!

You Might Also Like

18 thoughts on “Efek Kopi
  1. kopi yang aku suka tuh kapal api, tapi berhubung enggak punya coffee machine dan enggak suka kopi dengan ampas akhirnya pindah ke kopi instant nescafe, skr sedang nyoba nescafe decaf. enak juga..

  2. Hihihi, aku kalau minum kopi malah justru pusing dan mual. Padahal bukan kopi murni, temanku sih namainnya “susu kopi” karena banyakan susunya daripada kopinya. 😀

  3. beNeR tu kak, aQ juga seRing haRus minum kopi kaLo mo masuk kuliah,,

    apalagi kuliahnya teori,
    kalo g minum kopi, keluar=masuk=0,,,

    hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *