I LOVE BOOK

Kata-kata ini yang rada membingungkan diriku. Apa benar aku yang cinta buku, atau hanya my mom.

My mom yang pindah ke Indonesia sejak tahun 1979 karena menikah dengan my dad, mulai mengumpulkan buku bacaan yg dia sukai. Tahun 1990 aku pindah ke Jakarta dan hidup berdua bersama dengan my mom, sudah hafal dengan pemandangan tumpukkan buku-buku yang menutupi dinding tembok rumah kontrakan kita saat itu. Dari yang cuma 1 rak buku (menjulang sampai plafon) hingga menjadi 6 rak, dan belum lagi tambahan rak buku yang terbuat dari wood plank dan batu bata yang disusun. Kadang-kadang di salah satu hari minggu, my mom menugaskan kedua pembantu untuk tidak masak, dan hanya mengelapi buku-buku ini.

Tahun berganti, suasana berganti, tidak menyurutkan my mom untuk tidak membeli buku. Buku-buku tersebut 99% berbahasa Inggris. 0.5 % berbahasa Hongaria, sisanya berbahasa Indonesia, Cina, Jepang, Prancis dan Serbia. Dari keseluruhan, aku mengenali minat baca my mom adalah novel misteri (detektif, alien, cinta dan pembunuhan, kriminal, dll), novel percintaan, dll. Sebagian kecil adalah buku non fiksi seperti pengetahuan: bahasa (ini yg paling banyak), self help, astrologi, kesehatan (medical), komputer, golf, bridge, dll.

Aku sendiri sebenernya hanya suka membaca komik, tidak seperti my mom yang melahap banyak buku, aku seorang pemilih. Aku hanya mau baca komik yang bagus, yang aku kenal, yang ber-genre detektif dan misteri. Ketika masa SMA, aku mulai membaca buku-buku Mira W dan derivat nya. Ketika kuliah, aku membaca Fira Basuki.

Saat ini my mom sudah tidak tinggal bersamaku. Aku dihadapkan dengan segudang buku seluas 4x4x2 meter kubik penuh dengan buku. Kenapa aku bisa bilang 4x4x2, karena sebelum aku pindah ke Tanah Kusir, ada 1 kamar berukuran 4x4x2 yang dipenuhi oleh buku-buku yang sudah ada di dalam kardus. Itu pun, masuk ke dalam ruangan tsb lumayan susah karena benar-benar penuh, bukan hanya yang menempel pada dinding.

Sesungguhnya.. sebenar-benarnya, aku cinta semua buku ini, seperti aku mencintai my mom. Selama ini aku merasa ketika melihat buku-buku ini, aku merasa my mom ada di sekelilingku. Nyatanya, aku dan my mom terpisah jarak, lautan dan negara *tendang2 fiskal*. Melihat segudang buku-buku, ingin rasanya kubawa serta ke kehidupanku nantinya. Tidak untuk dibaca, hanya untuk dijadikan dekorasi wallpaper dinding. Aku sudah kepikiran untuk menutupi seluruh dinding dengan buku-buku ini. Must be the best wallpaper ever.

Tapi apa daya ketika keinginanku untuk punya apartemen tidak sejalan dengan keinginan untuk menyimpan semua buku. Hiks hiks.. sedih sekali harus menghadapi kenyataan untuk berpisah dengan buku-buku ini. I wish I have lots of money, yang bisa membeli rumah agak besar untuk menyimpan buku-buku ini.

Sekarang aku harus berpikir, what to do with all this books.

Dijual? Disumbangkan? Di jadikan pengganjal pintu?

Dijual, rasanya susah mencari yang minat. Belum lagi harga yg akan ditawarkan membuat mengiris hati saja. Di jadikan pengganjal pintu, jelas tambah miris. Akhirnya mau tidak mau.. disumbangkan.

4 bulan sudah aku mendiami rumah kontrakan dengan pemandangan kardus-kardus penuh buku dimana-mana. Betul kata mereka, di pojokan belakang kulkas, di garasi, di lorong menuju kamar mandi. Dimana-mana. Bayangkan bila aku harus mencari kontrakan baru, tahun depan. Bingung.. mau disumbangkan kemana. Cari-cari info, kurang berhasil. Akhirnya aku bertanya pada Hendro, karena aku tau dia biasanya tau yang berhubungan dengan bahasa inggris. Hendro mention tentang gerakan 1000 buku, dan menyebut bahwa Paman Tyo termasuk di dalamnya. Berhubung aku kenal dengan Paman Tyo, langsung ku telpon beliau. Akhirnya weekend kemarin, rumahku kedatangan tamu 5 orang yg lalu disusul dengan 2 orang lagi dari komunitas BHI yang akan membantu ku mensortir buku dan menyumbangkan ke yang membutuhkan.

teman dari 1000buku

Beruntung dari mereka ada yang tau buku-buku ini harus disumbangkan kemana. “Perpustakaan berbahasa inggris itu banyak lho”, begitu kata Mas Hedi. Syukurlah. Paling tidak, bila aku kangen pada buku-buku my mom, aku bisa mengunjungi perpustakaan ini.

Terima kasih buat Mas Hedi, Mita, Yudhi, Ipoul, Miko, dan 2 mbak-mbak yang dateng dengan armada MPV merahnya, Dahlia dan Fitra. Ku nantikan minggu depan.

Ohya, buku-buku hardcover tidak jadi disumbangkan yah, mau disimpan buat wallpaper, hihihi.

Tautan yang bersangkutan (ada foto-foto!): 1000buku dan cerita Omith. Foto-foto di blog ini menyusul, soalnya PC ku lagi di opname di dokter komputer :p

GolPut Aja Deh

Adoohh.. suka kelupaan dan ngga sempet neh update blog ini. Lagian pembacanya juga udah menurun .. mungkin nasib nya 11 12 sana Jenk Enda Goblogmedia :p Tapi salut buat Amen yg hampir selalu komen *peyuk peyuk Amen*.

Wiken-wiken ini dilalui dengan aman tentram dan mesra.. *halah*. Kadang-kadang aku berpikir, koq kyk kurang kerjaan.. wiken cuman di rumah, ntn Numb3rs, Criminal Mind dan CSI. Tapi ya gmana lagi, yang diajak suka takut takutan tiba-tiba ada problem di kantor, harus online saat itu juga *cedih deh*. Padahal berasa banget udah lama ngga ke Bandung *kangen Mamih Mira*, apalagi ke tempat-tempat lainnya.

Hari-hari cuman dilalui biasa.. dengan tidak begitu hectic nya kerjaan, tapi pusink mikirin deadline rumah kontrakan. Kadang rajin ngeliat milis yg sudah tidak begitu rame (semua tret habis dibuka, blum tentu dibaca).

Keuangan tidak begitu bagus, megap-megap ingin survive. Tapi rejeki ada aja.. walopun mesti harap harap cemas. Lho koq ini kyk artikel astrologi di majalah?

Tau ga, tiap hari minggu, kegiatan tidak bisa full dilakukan, karena jam 6 udah harus stanby di depan tv untuk menonton Taksi Selebriti, Termehek-mehek dan Akhirnya Datang Juga. Kebiasaan ini kira-kira sudah berlangsung beberapa bulan belakangan.

Akhir cerita, pengen posting hasil buatan Papa Budi dibawah ini *saya dukung!*:

GolPut