Maia, Dhani, Benny, Mice, Dian Sastro

Baru saja.. hatiku merasa lega. Lega nya bukan karena aku punya andil maupun hubungan keluarga dengan Maia vs Dhani, tapi lega karena perang mereka berakhir setelah menghabiskan banyak air mata selama kurun 2 tahun belakangan ini. Capek sebenernya melihat pertikaian mereka yang ngga kunjung selesai, makin lama makin muak dan sedih karena anak-anak mereka yg akhirnya tetap menjadi korban. Senang rasanya pengadilan mengabulkan cerai, hak asuh anak dan juga gugatan harta gono gini (harta untuk menghidupi anak-anak mereka).

Mudah-mudahan hasil dari pengadilan bisa cepat realisasikan, dan berkurangnya ketegangan antara mereka bedua. Aku pernah tanya sama Mas Gugun.. knapa sih Maia vs Dhani berantem melulu, siapa sih yg sebenernya salah menurut info kalangan artis. Mas Gugun tidak serta merta menjelaskan siapa, tp dia hanya berkomentar begini: “Ahmad Dhani itu jenius. Semua lagu ciptaannya laku di pasaran (dispite nyontek lagu barat atau tidak). Orang kyk gitu, menurut gue, sah sah saja menjadi angkuh dan semaunya. Tidak ada manusia yg sempurna.” Well, tidak semua setuju dengan pernyataan Mas Gugun, tapi pendapatnya benar juga.

Anyway, kemarin sempet beli buku terbaru Benny & Mice. Ohhh I love their creation. Dulu jaman SMP-SMA, pernah baca buku nya tiap ke Gramedia. Tp ngga beli. Waktu itu duid jajan masih terbatas. Setelah kerja, nyari-nyari susah banget. Sampe akhirnya sempet minjem punyanya Putu Ebo dan fotocopy (oh niat ya?). Beberapa bulan, eh Gramedia malah publish lagi buku-buku lama nya Benny dan Mice *kangen tidak terbendung* borong semuanya.

Foto sama Artis

Komik Strip Benny & Mice itu JAKARTA BANGET! Banyak diantaranya kita rasakan. Di buku terakhir, aku inget salah satunya tentang kacamata besar yg dipakai sama Dian Sastro dan Nirina Zubir. Lucunya, saat komik strip tersebut muncul di Kompas, Maret 2008, adalah moment dimana aku pernah berfoto dengan Dian Sastro yg saat itu menggunakan kacamata gede. Aku merasakan moment yg sama dengan yg di alami oleh Benny & Mice. Hahaha.. Gosip-gosipnya, Mice naksir berat sama Dian Sastro. Setipe lah dengan pacarku, yg akhirnya menambatkan pilihannya pada aku aja deh.

Parno

Siapa yg pernah bilang bahwa aku parno? Pasti inget. Iya, aku parno alias paranoid. Ketakutan ini itu. Kata my mom, itu karena makin kita dewasa, makin kita banyak tau dunia ini kyk apa, makin banyak kejadian menyeramkan jadinya ya makin kita selalu berhati-hati dalam setiap saat. Ketika aku diberi pilihan penting dalam hidup, aku memilih yg menurutku chance ruginya lebih minim.

Anyway, postingan kali ini memang mengenai parno. Awal Agustus kita mendapati berita tentang terbukanya hasil rekaman black box Adam Air naas tersebut. Aku, seseorang yang selalu ingin tau, memberanikan diri untuk mendengarnya. Saat itu aku sedang di kantor. Suasana lagi tenang, tidak ribut. Aku mendengarkan dengan cukup konsen. Saat itu transkrip percakapan belum ada. Detik-detik terakhir yang menegangkan bener-bener membuat aku kaku di kursiku. Tidak merinding, tapi ketakutan. Sejak saat itu… aku belum berani terbang lagi. Can you believe it?

Setelah kejadian tabrakan di jalan tol yg sengaja ngga aku publish di blog, aku mengalami lumayan trauma klo menyetir terlalu dekat dengan mobil depan. Aku rasa tiap orang yang sudah pernah nabrak pasti mengalami ketakutan hal ini. Untungnya aku ngga trauma nyetir lagi.. atau nyetir dengan kecepatan di atas 100.

Baru aja minggu lalu kejadian lagi dengan mobilku. Aku lagi cari parkir di Basement 1 di Pondok Indah Mall untuk bertemu dengan tanteku. Tiba-tiba merasa kalo pedal rem rasanya mulai kosong. At first, aku rasa hanya halusinasi saja, jadi aku cuekin.. eh lama-lama beneran kosong. Sempet panik sebentar, tapi beruntung (aku bener-bener bersyukur, berdoa sama penciptaku di atas sana..) bahwa kejadian rem blong ini aku alami ketika sedang mencari parkir dengan kecepatan sangat minim. Gimana coba kalo di jalan tol juga? I wouldn’t be here writing this story, you know.

Akhirnya aku berpikir, dan memutuskan untuk parkir di depan Pos Security yg kebetulan di Basement juga. Tinggal naik 1 lantai lagi, jalan pelan-pelan dengan menggerakkan tuas dari D ke N ke D lagi ke N lagi. Tidak boleh terlalu laju cepat. Akhirnya sampai, menerima Surat Penitipan dari Pihak Security, lalu menemui tanteku yang sudah menunggu seperti tidak terjadi apa-apa.

Oh ya, aku adalah orang yang paniknya belakangan.. Nge-LAG nya lewat sehari lebih.

Dua hari kemudian, bengkel baru bisa membawa mobilku dari Basement PIM menggunakan mobil derek.. hiks hiks.. gajah merah ku sudah pernah di derek, dua kali dalam setahun.. whats wrong with you, Babe?

Another Tragedy

Kabar dari Bengkel bahwa karet pada silinder wheel rem nya sudah aus yang mengakibatkan minyak rem bocor tiap kali di rem. Itu pun hanya roda bagian kiri saja, yg kanan tidak apa-apa. Bukan karena kecelakaan tabrakan beberapa bulan sebelumnya. I mean, apakah setiap mobil di Jakarta akan mengalami hal ini suatu saat? Bukannya seharusnya di Buku Perawatan Scr Berkala seharusnya ada petunjuk di Km berapa kita akan mengganti parts ini. Ngga mungkin dong setiap mobil harus mengalami rem blong untuk mengetahui bahwa parts nya harus diganti, kan? Aku tuh rajin lho, tiap Km yg disuruh, pasti ke bengkel resmi sesuai merk (pilihannya ada yang di Arteri Pondok Indah dan TB Simatupang padahal). Tapi kyknya mereka ya cuek-cuek aja tuh..

Ibarat kita datang ke dokter, kita akan ke dokter klo mengeluhkan tentang suatu ketidak normalan pada tubuh kita. Mata yang mulai minus, perut mulai rewel, jerawat tiada henti, dll. Kita juga punya jadwal imunisasi ketika kecil.. umur segini, imunisasi ini.. umur segitu, imunisasi itu. Malah kalo buat kita, ada juga Medical Check Up, alias ngecek semuanya. Mobil ada ga ya?