Blast From The Past

Sudah lamaaaaaaaa sekali gw tidak menulis sesuatu yang berbobot di blog ini. Entahlah, mungkin karena topik pembahasan sudah terlalu tercurahkan di miniblog semacam plurk dan twitter maupun status FB. Damn, them all, haha..

Semalem lagi ubek-ubek file lama, nemu hasil tulisan gw yang menurut gw termasuk bagus. Kalo ga salah, gw nulis ini sekitar awal tahun 2005, menjelang gw lulus dari UI. Topik dari tulisan gw adalah penjelasan putus dengan mantan gw waktu itu. Berhubung dia penulis yang bagus, gw jadi tertular untuk menulis dengan bagus juga.. Sayang aja kalo dibuang begitu saja. Membacanya, membuat gw bersemangat untuk menulis lagi..

Noted: isi tulisan di bawah ini tidak ada hubungannya dengan keadaan gw sekarang..

Aku baca-baca kumpulan email kita. Aku suka baca yang isinya ‘mengapa kamu mencintaiku’. Membuat aku bersemangat untuk bersabar. Semua yang aku ragukan sudah kamu jawab di sepanjang email tersebut. Bahkan tentang statusmu, future kita, keinginan kamu. Ada baiknya kalau aku lagi resah, dengan membaca itu jadi agak tenang. Karena tidak selamanya kamu sabar menghadapi keresahanku.

Kadang aku bingung berpikir tentang hubungan kita. Kita kembali lagi kepada hubungan saling sayang saling cinta, tanpa future. Ya benar kita saling cinta, ingin bersama, ingin menikah. Lalu aku bertanya, apakah kamu mau mewujudkan hal tersebut? Kalau mau, kenapa tidak berusaha? Kenapa tidak melakukan sesuatu?

Bingung aku. Tidak mengerti!

Ketidak mengertian ku membuat aku marah, kesel, nangis, kecewa. Aku tidak mengerti apa maumu. Aku tidak mengerti apa tujuan hubungan kita. Aku tidak mengerti musti bagaimana. Aku sumpek dinasehati oleh mama, atau oleh tante. Aku bingung dengan sikap apa yang harus ku ambil. Meninggalkanmu? Aku terpuruk, aku menderita.

Hatiku tidak mau berpisah. Hatiku masih menginginkanmu. Hatiku bingung harus bagaimana. Otakku marah karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Otakku marah dan ingin meninggalkanmu. Diriku tambah bingung menghadapi semua emosi dan pikiran ini. Bisa kamu lihat sendiri, aku menerima, aku minta putus, aku bingung, dan kita bareng lagi.

Kamupun mungkin juga bingung. Kamu sulit memutuskan. Kamu juga nangis dengan keadaanmu yang susah untuk mengambil keputusan yang benar. Kamu sendiri punya masalah yang tidak mudah.

Kita sempat berdiskusi. Mengenai masalahmu secara overall. Aku mencoba membantu.

Dua hari aku berpikir (ah, kalau ‘berpikir’ sih setiap saat). Ya aku mencoba menerima. Aku mencoba beradaptasi. Aku bukan dinosaurus yang punah karena tidak bisa beradaptasi. Kemampuan adaptasi ku pun tidak selamanya ada. Ada keinginan dari diriku yang membuat aku bisa beradaptasi. Maksudnya, bila ada kasus serupa, belum tentu aku mau bertahan, bisa saja aku memilih mundur dan mencari yang lain. Aku masih punya keyakinan akan dirimu. Itu yang membuatku bertahan. Tidak tahu dari mana datangnya.

Orang disekitarku mulai tidak sejalan dengan pikiranku. Mungkin mulai mencerca, tapi aku tidak peduli. Ya, aku memang terbiasa memilih jalanku, meskipun kupingku panas mendengar mereka. Tapi aku yakin, sampai kapanpun mereka tidak akan berhasil merubah keinginanku. Aku memang keras kepala, dan inilah hasilnya.

Aku masih ada keyakinan, keinginan, harapan, optimis. Tapi aku harus me-reduce nya sedikit. Tidak sebanyak kemarin. Kalau tidak, jatuhnya akan sakit. Apa sih yang aku hadapi di singapore? Sama halnya dengan saat kamu akan pergi ke singapore. Menghadapi hal baru, lingkungan baru, suasana baru (bahwa tidak serumah dengan mama lagi), dll. Semua itu exciting!

Kejadian kemarin membuatku berpikir kembali. Ah, yang namanya berpikir mana pernah berhenti?! Ya kan?

Kamu gelisah, kamu marah, kamu sms terus, bahkan sampai menelpon. Tidak, aku tidak mengeluh sedikitpun. Tidak juga ‘menikmati’ dalam hal konotasi (bahwa aku menyiksa kamu, sehingga kamu gelisah), tapi membuat aku merasakan bahwa kamu membutuhkan aku. Kamu mencari aku.

Secara umum aku menilai, hubungan kita baik-baik saja. Jealous, hal biasa. Mencari-cari, normal. Saling membutuhkan, sehat. Apa yang kita jalani persis seperti orang bisa pacaran, berhubungan. Aku membelikan kamu sesuatu, kamu pun juga begitu.

Keadaan kita ini, kita sendiri yang membuat. Kita yang mengatur. Kita yang mendesain. Kita yang menjalani. Dan hanya kita yang mengerti.

“Seperti apa arah tujuannya?” Tidak tahu. Yang penting kita saling cinta, saling sayang.
“Sampai kapan?” Sampai kita tetap saling cinta dan saling sayang.
“Bukan, maksudnya, sampai kapan hal ini terus berlangsung seperti ini?” Ngga tau deh. Lho.. bukan aku yang tahu. Hal ini hanya tergantung kamu.

Nah, sekarang, apa yang bisa aku lakukan, selain tetap mencintai, menyayangi, memberikan perhatian ke kamu? Kesabaran.

Itu kuncinya. KESABARAN. Aku mencintai, menyayangi, memberikan perhatian, semuanya.. tidak terbatas. Tidak ada batas waktu sampai kapan. Tidak ada deadline. Tidak tergantung apapun. Jalani saja seperti air mengalir.

Tidak berharap? Enggak juga, aku punya harapan. Aku ingin bersamamu. Mungkin saat ini hanya itu yang bisa aku inginkan. Tidak, aku tidak ingin menikah denganmu dalam watku dekat. Ah, aku masih muda. Ngga mau punya buntut dulu.

Sekarang, bagaimana menanggapi statusmu? Ah, bingung aku. Disatu saat aku ingin cuek dan tidak peduli, disaat lain aku ingin tahu untuk memuaskan keingin tahuanku. Aku bukan orang yang akan menyesal untuk tahu semua hal, baik atau jelek. Tidak perlu menyembunyikan dariku. Aku akan marah bila disembunyikan. Yah, beri saja jawaban bila aku menanyakan. Aku toh sudah tahu konsekwensinya, jadi buat apa menyesal? Tidak ada gunanya.

Aku membingungkan? Tidak juga. Bagiku, aku adalah paling mudah dimengerti. Lho, ada apa-apa, tanya saja. Aku akan buka mulut kapanpun, dimanapun, saat apapun, dalam senang, marah, sedih, dll. Aku tidak akan diam.

Sampaikan apa maksudmu. Keinginanmu. Pandanganmu. Ceritakan ke aku. Buat aku mengerti. Buat aku memahami kamu. Menulislah lagi padaku. Luangkan waktumu. Aku butuh kamu, butuh tulisanmu, butuh curahanmu.

You Might Also Like

One thought on “Blast From The Past

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *