Mimpi

Mimpi:

Ceritanya lagi di kantor, kedatangan Mr Korea, vendor kami yang memang udah lama kerjasama dengan kantorku. Bel berbunyi lagi, aku membukakan pintu, ternyata ada beberapa polisi datang untuk menanyakan apakah Mr Korea ada di dalam, dan aku ragu untuk menjawabnya. Di satu sisi, aku tau Mr Korea ini memang agak aneh (sebenernya normal, tapi aneh karena kehidupannya tertutup. Beda dari orang Indonesia kebanyakan), tapi aku juga tidak mau kalau dia ditangkap polisi. Aku berusaha menahan, tapi juga takut bila dipersalahkan oleh yang berwenanng.

Mr Korea terlihat shock ketika kedua tangannya diborgol di belakang tubuhnya. Baru kali itu aku melihat wajahnya yang memang sudah putih jadi pucat pasi. Aku berkali-kali bilang minta maaf dan mencoba membantu dari segi apapun. Dia sempat menjatuhkan serenteng kunci, dengan bahasa indonesia yang terbatas, Mr Korea seakan berkata “tolong saya, kamu tau apa yang harus kam lakukan”.

Sepanjang 6 tahun aku kenal Mr Korea, aku memang tidak banyak tahu dengan cerita tentang dirinya. Apakah dia punya keluarga di sini, apakah dia menikah dengan wanita Indonesia, apakah dia punya anak, apakah dia punya keluarga di Korea, atau bahkan dia punya kantor + pabrik seperti vendor kami yang lain yang juga orang Korea. Berhubung Mr Korea bukanlah vendor peganganku, jadi aku jarang ngobrol dengannya. Tapi teman kerjaku pernah cerita bahwa dia pernah tanya-tanya ke staff adminnya by phone, bahwa Mr Korea ini seperti hidup sendiri, tidak ada istri dan anak. Tidak juga punya simpanan, dan juga bukan gay. Cukup misterius, cukup aneh (tidak biasanya). Tapi, bisa jadi staff admin ini memang tidak tahu.

Jadi, sebelum Mr Korea dibawa pergi dengan mobil polisi, sambil memegang kunci yang dia jatuhkan, aku bilang “aku akan mengabari orang terdekatnya yang perlu kukabari. I’ll find a way”. Lalu raut wajahnya seakan bilang “terima kasih”.

Jadi Mr Korea ditangkap karena membuka usaha tapi tidak bayar pajak. Sudah berkali-kali mendapat surat panggilan, teguran, tapi tidak diurus.

Hari sudah menjelang sore. Aku bingung harus kemana. Kantornya berada cukup jauh dari kantorku. Kalau tidak salah Bekasi Jakarta Timur. Sedangkan aku tidak tahu dimana rumahnya. Petunjuk kunci dan orang terdekatnya pasti ada di rumahnya. Aku bisa membayangkan polisi akan mengobrak abrik kantornya untuk mencari bukti tentang usaha tanpa membayar pajak. Bisa jadi rumahnya belum tersentuh. Dengan pikiran yang juga kalut, aku mulai mengendarai mobilku menuju rumahnya.

Ternyata beberapa teman kerjaku sudah sampai duluan. Waduh, pintu depan sudah didobrak oleh mereka. Sepertinya mereka berpikiran yang sama, tapi tanpa perencanaan dan kunci. Aku melihat Ira sudah menemukan semacam laci safe deposit box yang terkunci. Sudah terlihat tanda-tanda hendak dibobol, tapi belum berhasil. Segera kuhentikan supaya tidak menambah kerusakan yang akan mengakibatkan masalah bagi kami bila ditemukan oleh Mr Korea maupun polisi.

Tanganku mulai memilih anak kunci yang agak kecil dan memasukkan kunci ke lubang kunci pada laci tersebut. Cocok. Laci terbuka, kami mendapati tumpukkan kertas-kertas yang tidak beraturan. Bagian bawah terasa berdebu, bagian atas seperti kertas yang baru ditaruh. Ada kertas dengan namaku, hasil pertemuan kami di kantor yang membahas tentang kerjaan. Aku tidak tahu kenapa hasil meeting ini sampai perlu dia letakkan ke laci. Sepenting itukah? Atau dia lupa menaruhnya di sini, karena setelah meeting itu, dia tidak lagi membahas / mem-follow-up. Kulihat tumpukkan kertas dibawahnya, seperti tulisan tangannya, berbahasa indonesia campur sedikit inggris seperti terbata-bata. Mulai kubaca, seperti surat penting terhadap seorang perempuan, bahwa dia kangen sekali dan ingin kembali berhubungan tapi terganjal etnis dan agama. Lalu ada foto yang menjelaskan. Seorang perempuan memakai kerudung, sambil mengajak main anak dengan wajah setengah asia, sekitar umur 6 tahun. Mr Korea menjelaskan bahwa kondisi dia sampai saat ini single, tidak dengan siapapun, hanya menunggu untuk bisa menjadi satu dengan wanita ini dan anak mereka. Aku makin sedih melihat foto ini. Aku merasa harus memberitahu wanita ini akan kondisi Mr Korea dan kalau bisa juga menyatukan mereka.

Di atas meja terdapat 1 gelas bekas dan 1 botol red wine yang sudah habis 2/3 nya. Sepertinya semalam (atau mungkin hampir tiap malam) Mr Korea galau memikirkan bagaimana untuk bisa bersatu dengan wanita itu dan anak mereka. Tumpukkan kertas kulihat lagi, beberapa surat-surat biasa, foto-foto wanita dan anak itu lagi yang sudah berdebu, tanda sudah disimpan lama.

Aku berpikir, polisi akan segera kemari untuk mencari bukti kesalahannya. Polisi juga pasti akan membuka laci safe deposit ini. Apakah aku lebih baik mengembalikan kertas-kertas ini lalu menguncinya kembali, atau menyiapkan kertas-kertas ini untuk diperiksa oleh polisi (toh tidak berhubungan) dan lanjut mencari wanita ini? Aku juga takut bila dipersalahkan karena telah mengobrak abrik properti milik seorang yang sedang ditahan. Mungkin polisi menganggap semua yang ada dalam rumah ini adalah barang bukti.

Aku tidak mendapatkan petunjuk apapun tentang keberadaan wanita ini. Besar kemungkinan tidak di Jakarta, kalau melihat foto-foto tadi. Mungkin di kampung halaman si wanita. Tapi aku tidak tau sedikitpun informasi mengenainya. Mungkin aku akan menemukan petunjuk lagi di meja kerjanya di kantor. Tapi itu berarti aku harus segera berangkat dari rumahnya. Jadi, apa sebaiknya kertas-kertas tadi dikembalikan ke laci dan dikunci kembali, atau dibiarkan sudah terbuka? Atau lebih baik kertas-kertas itu kuambil supaya rahasia Mr Korea masih tetap aman?

Fakta: Mr Korea ini memang vendor di kantorku sudah cukup lama. Teman kerjaku pernah mendengar gosip bahwa dia memang punya keluarga dari hubungan dengan wanita Indonesia. Karena itulah dia bisa berbahasa indonesia walaupun terbata-bata.