Review: Ergo Adapt

Review saya:

Ini gendongan inovasi baru, dan bagus. Kelebihannya: Leg opening atau bidang dudukan kaki bisa diubah ukurannya menjadi 3 ukuran, memungkinkan menggendong bayi dari NB hingga toddler.

3 Macam ukuran leg opening: 25 cm / 32 cm / 37 cm (saya ukur sendiri).
Bagian luar leg opening ada 3 macam ukuran kancing supaya kainnya rapat (berada di bawah pantat bayi).

Pada bagian kepala ada flap yang bisa diubah menjadi 3 posisi:
1. Posisi flap dimasukkan ke bagian dalam untuk menambah padding untuk bagian kepala bayi NB (contoh pada gambar di atas komen ini).
2. Posisi flap ditekuk keluar seperti foto utama (berwarna abu muda), untuk bayi ukuran sedang.
3. Posisi flap tidak ditekuk, tapi diluruskan ke atas, lalu dikancingkan ke kancing yg lebih tinggi, untuk bayi toddler. Menambah tinggi body panel sekitar 10 cm.

Ukuran body panel:
Panjang: 36 cm dan 45 cm (ketika flap dibuka).
Lebar: 34 cm.
Bahan: canvas.

Buckle menggunakan 2 point safety. Busa padding pada bahu tebal dan lentur. Busa pada pinggang ada dua, di bagian depan dan bagian belakang (untuk menopang tulang belakang).

Kekurangan: bulky ketika dilipat. Khususnya karena ada busa di pinggang belakang.

Harga cukup mahal: 2,2jt.

Review Beberapa Baby Carrier

Diposting di TUM pada: 2013-12-16 02:10:03

Moms, aku mau review baby carrier nih. Sekarang anakku udah 6 bulan.

Pas lahir, dapet kado Hanaroo Wrap dan Pupsik Sling. Oke, ini jenis wrap yang stretchy (melar) dan sling (ada ukurannya, aku dapet ukuran #2, yang besar). Jarik sudah aku lupakan karena gagal melulu makenya. Disarankan model jarik tapi pakai ring, aha, namanya Ring Sling, beli deh merk Obayiku. Sempet beli juga Wrap Bobita (bahan fleece) , beda bahan sama Hanaroo (bahan jersey, 2 lapis).

Aku mulai beranikan gendong pakai baby-carrier ketika anakku umur 1 bulan. Maksud hati mau ‘digendong kemana-mana’ di seputaran rumah aja. Berhubung aku terbiasa menggendong tangan anakku dengan model berdiri (maksudnya sambil disendawakan), jadi anakku ngga begitu suka digendong tiduran ala NB. Percobaan pertama pada Bobita Wrap. Oke, nyaman, anakku nyaman, tidur. Tapi aku mulai kegerahan. Lalu di posisi tertentu Bobita terlalu stretchy, jadi aku pegangin anakku, takut jatuh. Mungkin aku kurang kenceng ngiketnya, tapi ngga berani kenceng karena baru 1 bulan.

Hanaroo Wrap, dingin di kulit, stretchy tapi tidak semolor Bobita. Tapi lama-lama aku kepanasan. Anakku sih nyaman-nyaman aja, tidur juga. Berarti pakainya kalau ngemol doang nih..

Umur anakku 2 bulan, baru aku diajarin enaknya pakai Ring Sling. Ooo baru tau caranya. Posisi tegak, tiduran, sambil menyusui tipe a, menyusui tipe b. Tapi leherku pegal. Ternyata setelah googling, salah taruh penyangga. Harusnya di bahu, bukan di samping leher. Otot samping leher tidak sekuat otot di bahu. Sedangkan model Ring Sling Obayiku ini ngga bisa ditaruh di bahu karena bidangnya sempit. Jadi lari-lari terus ke leher. Ring Sling Sakura Bloom baru bener nih, bidang untuk di bahunya lebar jadi ngga mudah bergeser. Tapi harganya alamakjang. Oke lewat.

Flea TUM ada Manduca? Racun memang. Beli deh. Anakku masih 3 bulan aja udah punya Manduca. Cobain Manduca ke anakku, kyknya kakinya masih kurang lebar untuk posisi ngangkang. Tapi kalau pakai infant insertnya, ngga muat (paha anakku gede). Huft.. belum sukses juga pencarian baby carrier ini.

Berhubung masih beranggapan bahwa carrier yang nyaman adalah bentuk wrap, maka.. racun kedua = Baby K-Tan. Beli yang half mesh biar ngga kepanasan. Sukses dipakai hampir tiap hari, tiap bepergian, mantap, nyaman, praktis, simpel, ringan, tapi mahal. Habis beli, baru liat website yang bilang kalo Baby K-Tan itu kejelekannya adalah: MELAR. Ternyata, umurnya hanya sampai anakku umur 5 bulan. Karena bahan kaosnya molor sampai aku ngga bisa cium kepala anakku lagi (tadinya bisa).

In the mean time, aku akhirnya mencoba Sling Pupsik yang sejak awal sudah punya karena dapet dari kado. Awalnya ngga tertarik sama gendongan ini, tapi ternyata menyenangkan juga. Dan bagusnya, bisa dikaitkan di bahu, bukan di samping leher! Jeleknya, bagian kantong tempat anakku duduk rada ngablak, jadi kudu agak hati-hati. Atau akunya yang salah pakai? Haha.

Ring Sling Obayiku masih dipakai, gantian dengan Sling Pupsik, kalau di rumah.

Setelah TUM meracuniku 2 baby carrier mahal.. apakah berhenti sampai di sini saja? Hahaha. Padahal mata suami udah melotot aja tiap aku browsing baby carrier.

Yang bikin penasaran sejak anakku umur 2 bulan adalah: Mei Tai. Kenapa di Indonesia ini sulit sekali mencari yang jual Mei Tai. Setelah banyak waktu aku habiskan untuk mencari The Ideal Baby Carrier *tsahhh*, menurutku Mei Tai jenis woven dengan bagian bahu yang melebar pasti nyaman! Pilihanku jatuh pada Baby Sachi, buatan Malaysia. Tapi belinya lewat mana?

Hari berganti, saatnya anakku sudah muat di Manduca. Yay, gendong sana gendong sini.. hmm.. gendongan mahal nih, mestinya nyaman.. gendong sana gendong sini.. koq pegel ya? Aaak! Ternyata pegelnya ada di bahu. Walaupun kaitan di belakang SSC ini bentuk X ataupun H, tetep aja pegel. Kenapa? Karena busa pada bahunya relatif sempit (dibanding wrap yang bisa menyebar lebar di bahu). Sedih bener deh. Tapi Manduca (atau jenis SSC lainnya) memang praktis untuk dibawa kemana-mana. Mulai dari mall megah sampai pasar tradisional. Tinggal CLAP di pinggang belakang, taruh anak di dada, kalungkan penyangga bahu kiri dan kanan, CLAP di bagian belakang (model H), siap jalan. Pengalaman bersama Manduca, .. lebih dari sejam = pegal. Selain sakit pada bahu, sendi lutut juga pegal. Ups, anakku sudah 8 kilo.

Di tengah kegalauan, akhirnya aku memberanikan diri beli.. Mei Tai Bebe Sachi. Baru bilang ke suami setelah transaksi, hiks (jangan ditiru, Moms). 2 minggu paket sampai, langsung dicoba. Aaak, ringan, nyaman, my first woven baby carrier (maklum, woven wrap termasuk tipe baby carrier yang mahal dan eksotis). Tipenya mirip wrap jadi berasa ‘menyatu’ sama anakku. Selamat tinggal bahu yang pegal karena penyangga bahunya lebar seperti wrap. Dari semua baby carrier, sepertinya anakku paling terlihat ceria ketika bersama Bebe Sachi Mei Tai ini. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa dia akhirnya menemukan kenyamanan, aku juga nyaman, suamiku juga ‘nyaman’ (ngga melotot lagi). *peluk suami*.

Oia Moms, hormon oksitosin ngga boleh dijadikan alasan pembenaran untuk belanja kalap ya. *pengalaman pribadi*, hihi.

Sekian dulu. Mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan buat Moms sekalian.

DIY Insektisida Ramah Lingkungan

Jaman sekarang pestisida jenis racun ada di mana-mana. Tiap beli brokoli (misalnya), suka ragu-ragu, kalau tidak menemukan ulet, langsung curiga petaninya pakai pestisida. Tapi kalau menemukan ulet, geli dan jijik, malah jadi parno (paranoid) saat mencuci, sampai harus dibongkar kecil-kecil (membutuhkan waktu yang lama), padahal sudah direndam dengan garam dan cuka apel. Dampak konsumsi pestisida ke tubuh kita cukup fatal. Belum lagi dampak pada lingkungan. Bisa dibaca di sini.

Mari beralih ke bahan yang aman dan alami. Indonesia kita ini benar kaya alam dan segala jenis flora fauna. Apalagi sekarang jaman internet, mudah mendapatkan informasi, essential oil sedang rame, mari kita kenalkan.. Neem Oil. Pertama kali dengar Neem Oil saat mencari mosquito repellent yang aman untuk anak. Ketemu website ini. Tidak hanya menjual cairan yang sudah dicampur untuk aman kita gunakan pada kulit sebagai mosquito repellent, tapi juga menjual variasi ekstrak dari pohon neem untuk pengendalian hama pada pertanian.

The best part is: murah.

Saya beli Neem EO (essential oil) yang pure, 110ml hanya Rp.
Penggunaannya hanya 10-20 tetes dalam 1 botol semprot (sekitar 500ml), cukup dicampur air.
Tidak hanya mengusir serangga dewasa, tapi juga membunuh telur dan larva. Tapi harus diperhatikan, dosis Neem Oil harus kecil karena bisa berdampak pada manusia. Khususnya ibu hamil, menyusui dan bayi dan anak-anak jangan sampai terpapar Neem Oil.

Jangan lupa, selalu mengocok botol kuat-kuat semprot tiap mau memakai.

Selain Neem Oil, masih ada:

  • Rosemary Oil: mengusir nyamuk, lalat, kutu, ulat daun
  • Peppermint Oil: mengusir aphids, squash bugs, lalat putih, semut, kepik, kutu, laba-laba, curut, tikus)
  • Thyme Oil: mengusir chiggers, kutu, kecoak
  • Clove Oil: mengusir serangga terbang
  • Tea Tree Oil: untuk menanggulangi jamur pada tanaman (dosis: 1 sdm per 1 cup air, semprot pada tanaman yang terkena jamur atau 1-2 kali per minggu)
  • Pine Oil: mengusir bekicot, slug

..dan oil favorit adalah Citronella Oil. Citronella Oil diambil dari daun dan batang dari tanaman sejenis sereh dapur (lemongrass). Bedakan dengan lemongrass (sereh dapur / Cymbopogon). Walau dilarang untuk digunakan sebagai insektisida secara massal, tapi untuk menanggulangi serangga pada taman di rumah cukup ampuh. Citronella Oil menanggulangi jamur pada tanaman (antifungal), dan insektisida

Saya sudah lebih dari 5 tahun tidak lagi menggunakan obat semprot nyamuk yang dijual bebas mengandung racun (DEET). Saya menggunakan kombinasi tirai nyamuk (kasa nyamuk), lilin citronella, raket nyamuk, diffuser dengan Lavender Oil (saya tidak begitu suka wanginya), dan mosquito repellent alami:

Citronella Mosquito Repellent:

  • 2 oz (60 ml) air
  • 30 tetes Citronella Oil

Selain Citronella Oil, untuk mengusir nyamuk juga bisa menggunakan: Lavender Oil, Lemongrass Oil, Rosemary, Tea Tree, Cajeput (Kayu Putih), Eucalyptus, Cedar, Catnip, Mint. Perbandingan EO dengan carrier oil atau air atau Witch Hazel adalah 10-20 tetes untuk 2 oz air (atau 1 oz air dan 1 oz Witch Hazel). Perbandingan ini tidak mutlak, tapi EO bisa ditambah untuk variasi aroma dan juga segi kekuatan daya kerja. Jangan lupa kocok kua-kuat sebelum memakai.

Perlu diperhatikan, selalu campur EO dengan carrier oil atau air sebelum digunakan pada tubuh kita (dihirup, diminum maupun dioles).

Resep Mosquito Repellent ada banyak, bisa dicari di internet. Beberapa yang sudah saya kumpulkan: sini, sini, dan sini.

DIY Masker Wajah Mochaccino

Nemu resep masker DIY mudah, bahan bisa didapat dari dapur saja. Sumber dari sini. Takaran aku ubah supaya sesuai dengan sekali pakai.

Mochacinno Face Mask

1/4 sdt kopi bubuk
1/4 sdt coklat bubuk
1/8 sdt madu
1 sdt plain yoghurt

Untuk menakar, saya campurkan 2 sdm kopi bubuk dan 2 sdm coklat bubuk dalam 1 tempat kecil, lalu dikocok hingga bercampur rata. Tiap pakai, saya tinggal ambil 1/2 sdt dari campuran kedua bubuk tersebut. Madu tinggal colek (hihi).

Khasiat:
Kopi & coklat kaya banget antioksidan. Secara alami mengandung kafein yang bisa mengurangi kemerahan dan mengencangkan kulit (sifatnya vasodilator = mengerutkan pembuluh darah). Yoghurt, mengandung asam laktat yang secara alami mengelupas sel kulit mati secara lembut. Kalau manfaat madu, banyak banget. Melembutkan, menenangkan kulit, anti bakteri, melembabkan.

Digunakan setiap pagi, rasa dingin dari yoghurt membuat wajah tambah segar.

← Newer posts

Older posts →