Serial Desperate Housewives

Desperate Housewives

Udah nonton seri Desperate Housewives? Setahuku di Star Movies udah disiarkan etah jam berapa. Aku tidak menontonnya di sana. Seperti biasa, membeli DVD bajakan-kualitas-asli-(BKA)-nya di Ratu Plaza langganan mama. Beli 9 CD yang First Season dan aku habiskan dalam waktu 1 hari 1 malam in a row. Gila memang.

Menonton DVD-BKA itu enaknya: bahwa kita bisa mengaktifkan subtitle bahasa inggrisnya. Jadi kita tetap membaca subtitle sesekali sambil tidak tertinggal semua teks skenario-nya. Enaknya lagi? Sekalian belajar bahasa inggris! 😉

Jesse MetcalfeCeritanya tentang 4 ibu rumah tangga (housewives) dengan keseharian dan problem mereka. Ada yang kerepotan punya 4 anak balita, ada yang single parent, ada yang tidak mau punya anak tapi selingkuh, ada yang terlalu strict sama anaknya sampai stress. Belum lagi persoalan para laki-laki mereka (suami, pacar, maupun selingkuhan) yang banyak beraneka macam. Dan ada 1 masalah utama, yaitu sahabat mereka yang di episode pertama bunuh diri dan dengan rahasia dibaliknya. Temukan rahasianya di ending dari First Session! Dijamin film ini sangat menghibur dan memberi inspirasi.

Oh ya, bagi yang sudah nonton, bisa ikutan kuiz nya untuk menentukan, kalian itu tipe housewife yang mana disini.

FYI, ini foto si Jesse Metcalfe yang jadi John. Tatapan matanya.. aduh! Tajam!

Belum Jadi Orang Jakarta Kalo Belum Ke PRJ

Sudah berapa lama sih kalian tinggal di Jakarta? Ya, kota yang katanya metropolitan, juga ibukotanya Indonesia. Sumpek, sesak, macet, kotor dan penuh dengan berbagai macam lapisan masyarakat. Sudah merasa menjadi orang Jakarta? Berlogat Jakarta? Tahu seluk beluk jalan di Jakarta? Merasa nyaman untuk tinggal di Jakarta?

Kemarin, baru saja kota Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-468. Setiap Jakarta berulang tahun akan diadakan sebuah acara rutin yang kebetulan bersamaan dengan datangnya libur sekolah. Sebelum diadakan di daerah Kemayoran, sempat diadakan di daerah Monas. Dan masih bernama Jakarta Fair. Secara orang Indonesia tidak mau susah menyebut kata-kata seperti itu, maka dengan lidah melayu, menyebut Jakarta Fair dengan Jakartaper. Masih ingat? Hehehehe… 😀

Sejak pertama kali tinggal di Jakarta, tiap musim liburan aku habiskan untuk pulang kampung ke Malang, dan PRJ lewat begitu saja. Apa itu PRJ? Seperti apa isinya? Ada apa saja didalamnya? Tidak terbesit untuk datang ke sana. Sama siapa? Rasanya teman-temanku pun tidak ada yang membicarakan tentang PRJ. Beberapa tahun belakangan barulah aku mulai melihat iklan PRJ, seperti apa isinya, membaca ulasannya di koran, melihat cuplikannya di TV. Jadi penasaran!

Kamu ngga perlu kasih aku hadiah ulang tahun berupa barang. Aku mau minta hadiah lain dari kamu. Aku mau kamu ajak aku ke PRJ berdua saja,” begitu kataku kepadanya yang masih saja kuingat tanggalnya, 23 Juni 2005. Padahal dia sudah menyiapkan hadiah kaos hasil kreasinya khusus untukku yang bertuliskan “Beri Jejak Langkah Mudamu – 25 Juni 2005?, dan aku menyukainya. Hari Jumat kemarin, kutagih janjinya. Dan malam itu juga kita pergi ke PRJ.

Sesuai rencana, kita naik bis PPD dengan nomor P10 dari Sudirman ke Senen. Dia melihat aku seperti anak kecil, melihat kiri kanan.. indahnya lampu-lampu Jakarta. Melewati Thamrin, Harmoni.. entah kemana lagi .. sampailah ke terminal Senen. Kita lanjutkan untuk naik bis Metromini P10 jurusan Kemayoran – Sunter. Saat itu jam menunjukkan pukul 8 malam.

Sesampainya di jalan yang lebar (kalo tidak salah dulu bekas tempat pacuan kuda) kita turun dan mulai jalan kaki untuk sampai di pintu masuknya. Dia membayar tiket masuk sebesar 20 ribu untuk dua orang. Di dalamnya luas sekali, bisa tersesat! Ada yang indoor, ada juga yang outdoor. Stand-stand berjualan macam-macam. Dari makanan ringan, produk pembersih rumah, sampai motor dan mobil. Pengunjungnya juga bermacam-macam. Dari masyarakat bawah, menengah, sampai yang sipit-sipit pun banyak. Serasa membaur. Inikah orang-orang Jakarta?

Kita mulai melihat-lihat kiri kanan. Mencari camilan dan minuman yang harganya lebih terjangkau daripada di Mall-Mall. Pilihannya pun banyak. Kita jalan ke semua pelosok, melihat-lihat, berburu gratisan. Banyak stand yang ramai dikunjungi karena permainan, karena gratisan, karena toak-nya yang berisik. *pusing deh*

Ada arena tempat bermain anak-anak (Fun World) yang menyediakan carousel dan wahana lainnya seperti di Dufan. Ada panggung yang saat itu menampilkan Andien dengan lagu Gemintang-nya. Sempat pula menyanyikan Midnite At The Oasis, dan aku ikut berjoget (hanya sedikit). Kita menemukan tempat pijat refleksi dengan harga 20 ribu selama 15 menit. Hey, aku tidak pernah dipijat refleksi, boleh juga nih. Kita menemukan stand-stand binatang peliharaan dan aku puas melihat berbagai macam imutnya hamster mungil, little puppy dan little kitten. Ada juga yang menjual ular (cantik banget warnanya!) tapi harganya .. 2 juta – 3 juta!

Sepatu Adidas 35 rebuAkhirnya kita menemukan stand sepatu persis seperti di Taman Puring. Sepatu kets yang semua dibandrol harga 35 ribu! Aku beli, dia juga beli! Kapan lagi cari sepatu murah macam begini? Harga murah, model oke, walaupun kadang kualitas tak bisa dibandingkan dengan merek-merek mahal, tapi tak menjadi masalah buat kami.

Aku senang sekali hari itu. Aku merasakan arti dari datang ke PRJ, apalagi datang bersamanya. Aku melihat pembauran masyarakat yang aku ngga pernah lihat. Aku melihat berbagai iklan persis seperti semua yang di TV. Aku senang sekali bahwa dia bisa mewujudkan keinginanku untuk sekedar melihat, datang, dan menikmati PRJ. Memuaskan rasa penasaranku, menikmati keramaian itu, berdua. Terimakasih ya..

Last word, sudahkah ke PRJ tahun ini? Karena, belum jadi orang Jakarta kalau belum datang ke PRJ.

Lebih or Kurang

Entah kenapa ada 1 topik ini lumayan sering berseliweran di pikiranku beberapa tahun belakangan ini. Sepertinya ada kejadian belakangan ini yg membuatku mencoba menulis, mengulas, dan meminta pendapat kalian pembaca.

Sudah pernah merasakan yg namanya naksir? Good. Sudah pernah dilanjutkan dengan jadian (baca: komitmen pacaran)? Great. Kalau begitu sudah tahu yang namanya putus cinta? Ok then. Kali ini yang dibahas adalah “after broke up”. Khususnya bagi yang pernah ‘diputuskan’!!!

Coba bayangkan.. kalian jadian/pacaran cukup lama (more than 6 bulan deh..) trus somehow (dengan alasan apapun) kamu diputuskan. In a jiffy, si mantan tersebut sudah punya pacar ajah. Nah.. (ini yang berat).. kamu lebih suka yang mana:

  • Menyadari bahwa si pacar baru-nya mantan LEBIH dari kamu. Lebih ganteng, lebih cantik, lebih manis, lebih berambut panjang, lebih cocok kriterianya, lebih perhatian, lebih kaya, lebih populer, lebih beruntung, lebih pintar, lebih seksi, lebih bahenol, lebih besar ‘anu’nya (buset.. ngomongin ‘anu’ melulu!) dan lebih-lebih lainnya. (Q: kita merasa minder?)
  • Menyadari bahwa si pacar baru-nya mantan KURANG dari kamu. Kurang ganteng, kurang cantik, kurang manis, kurang berambut panjang, kurang cocok kriterianya, kurang perhatian, kurang kaya, kurang populer, kurang beruntung, kurang pintar, kurang seksi, kurang bahenol, kurang besar ‘anu’nya, dan kurang-kurang lainnya. (Q: kita merasa seakan-akan terbang di awan?)

Bila kamu memilih point pertama, well.. “Dia pasti memilih yg lebih dari gw dong.. normal.. *sambil dongkol banget*
Bila kamu memilih point kedua, “Jheezz, koq dia malah milih yg begitu sih? Apa dia ngga PUAS sama gw???

Hehe.. silahkan jawab sendiri! Mana yang kamu pilih?