Puddy

Tepat tanggal 29 Mei kemarin seusai pulang dari warnet yang sempat chatting dengan sedih, ketika aku jalan kaki tiba-tiba terdengar suara menangis seekor anak anjing di dalam basket sepeda yang sedang bersandar di depan toko. Anak anjing itu kedinginan dan gemetar sambil nangis. Kasihan memang. Tanpa kupikir panjang, segera aku hangatkan badannya dengan tanganku. Sambil mencari-cari yang punya, aku menoleh kiri kanan, lalu datanglah seorang ibu muda yang punya sepeda. Dengan sedikit bicara, (dia malah sempat mengajak aku ngomong bahasa Serbia yang aku tidak ngerti sama sekali) akhirnya anjing itu jadi milikku. Rupanya dia juga baru menemukan anak anjing itu setengah jam yang lalu entah dimana. Uh.. apa kata nenek nanti kalau anjing di rumah bertambah 1 lagi?

Di perjalanan pulang aku berpikir, bagaimana menghadapi nenek, bagaimana menghangatkan anak anjing, memberi makan apa, ras apakah, bagaimana membersihkan kotor kaki anak anjing dari jaketku (uh.. di sini gak ada laundry), dan.. mau dikasih nama apa? Hihihi.. Ku beri nama dia Puddy.

Setelah melewati nenek (Puddy berhasil membuat nenek kasihan dengan tatapan memelas penuh berkaca-kaca dan lucunya lompat sana lompat sini), mulai mengajari Puddy untuk tidak boleh masuk dapur atau dalam rumah lainnya. Ketika besoknya aku ingin pergi pun dia mengikutiku jalan sampai gerbang, dan ketika ditutup dia malah menangis memanggilku (uh..).

Puddy mulai berteman dengan Bobby (anjing betina dewasa yang sudah dipunyai nenek selama 3 tahun) dan tidak selalu mengikutiku, sambil mengekspolrasi seluruh taman nenek. Entahlah, sepertinya Puddy adalah anjing jantan, dan beruntunglah Bobby dengan daun mudanya (kelak). Puddy bisa bermain gigit leher dengan Bobby, dan sebaliknya, atau berkenalan dengan ke-6 kucing nenek, atau suka ngikutin nenek ketika keluar dari dapur. Puddy juga suka menapakkan kedua kaki depannya ke kakiku, kaki nenek, akibatnya celanaku jadi kotor karena telapak kakinya. Iya, aku harus mengajari yang satu ini.

Sepertinya Puddy anjing kampung eropah biasa (walopun nenek insist dia adalah jenis Fox-Terrier) dengan bulu agak panjang dan moncong berjenggot sedikit. Jadinya, Puddy sering terlihat menggaruk lehernya. Uh, termites, parasites, dan semua kutu anjing! Kasihan juga kecil-kecil sudah menderita untuk garuk sana sini.

Pagi tadi aku ingat untuk mampir ke pet shop, aku beli dog shampoo seharga 260 dinar. Sebelum aku ke warnet siang ini, aku curi-curi waktu saat nenek tidur untuk memandikan Puddy di kamar mandi (kalau nenek sampai tau, dia pasti ngamuk dan ngomel sepanjang sungai Danube!). Oke, siapkan pemanas ruangan kamar mandi (udara di luar masih dingin sekitar 20 Celcius), hair dryer, shampoo, copot jam tangan. Aku tidak menemukan kain yang tepat untuk Puddy, yasudah harus puas hanya dengan hair-dryer.

Aku yakin tidak satupun anjing (maupun kucing) suka dimandikan, seperti halnya Garfield selalu punya seribu akal untuk kabur dari Vet. Puddy cukup diam ketika dimandikan. Pertama, basahi lehernya dan langsung beri shampoo di bagian leher. Garuk-garuk leher hingga busanya banyak. Cukup lama sekitar 5 menit aku menggaruk dan aku sudah mendapat banyak kutu yang masuk dalam sela-sela kuku tanganku *yuck*. Mulai menyabuni bagian badannya, aku juga dapat banyak kutu di bagian dadanya. Kenapa leher dulu yang disabuni? Supaya kutu yang sedang pesta pora di bagian badan tidak kabur ke arah telinga Puddy.

Pokoknya sambil menyabuni sambil menggosok, sambil menyabuti kutu yang mati dan muncul di permukaan bulunya. Huh, banyak banget! Sekitar 50 kutu ada mungkin. Mau jijik bagaimana lagi, aku mesti tanggung jawab dengan Puddy yang kubawa ke rumah, mau tidak mau. Dan proses menyabuni-membilas dilakukan sampai tiga kali, sampai aku tidak melihat ada kutu lagi di badan, leher, kepala, atau permukaan bulu lainnya. Ketika mengeringkan bulu-bulu, tetap ada kutu-kutu yang satu persatu jatuh dari bulu keringnya.

Ketika aku balikkan ke luar (bulu di kepala, leher, badan dan punggung sudah kering, kecuali kaki-kakinya) Puddy langsung menuju tembok yang kebetulan tidak rata, untuk menggaruk. Uh-oh, masih ada kutu rupanya. Dia menggaruk bagian telinga (Ha!). ketika ku cek telinganya sih tidak terlihat ada kutu, tapi aku rasa beberapa kutu (sedikit mungkin) sudah masuk cukup dalam untuk menyelamatkan diri, dan aku tidak tahu harus bagaimana kecuali melihat sedih dan kadang tertawa karena cara dia menggaruk sampai berputar badannya.

Syukurlah sebentar kemudian Puddy sudah normal lagi dan bermain-main lari-larian. Mudah-mudahan Bobby cukup rajin membersihkan diri sehingga tidak memproduksi kutu juga. Ketika aku jalan kaki menujur gerbang, Puddy masih mengikutiku. Tapi ketika aku ingin menyentuh kepalanya, dia sudah kabur jauh-jauh. Hahaha.. Puddy takut padaku.

Berikut foto Puddy yang ternyata lihay bergaya ketika di foto.
Puddy

Csaba Gulyás

Gara-gara sudah kecanduan internet, selama liburan sebulanku di Senta (Serbia) aku tidak tahan untuk tidak menyentuh internet. Tanya mantan, dia bilang si Csaba (baca: Chaba) yang aku kenal 3 tahun yang lalu punya internet cafe (warnet) di dekat piac (pasar). Sambil bersiul riang, tiap siang (dari jam 2-6) aku datang ke warnetnya Csaba, Cybergate.

Sejak ktemu Csaba 3 tahun yg lalu, aku ngerasa koq dia pdkt ma aku. Tapi aku masih menganggap itu hanya main-main. Ketika ktemu Csaba tahun ini, pdkt nya tidak berubah dan makin gencar. Walopun dia sibuk dengan kerjaannya, dia masih menyempatkan diri untuk datang ke Cybergate dan bertemu denganku di sela-sela aku ngejunk, arisan ataupun ceting.

Hah.. Csaba itu punya cewek, namanya Livia. Baru 3 bulan, seorang nurse (yearite). Sebelumnya dia pacaran dengan Monika selama 7 tahun dan baru putus Januari tahun ini. Dia bilang, dia inget 3 tahun lalu aku pernah bilang ke dia, bahwa aku gak mau jadi pacar kedua nya. Dan Csaba bilang, kalo dia tau aku akan dateng, dia gak akan jadian sama Livia, which is menurut dia pacaran dengan Livia (yang menurut dia kurang smart) hanya untuk supaya dia punya seseorang yang memperhatikan dia, daripada kosong.

Jelas, 3 tahun yang lalu aku gak mau mengganggu hubungan mereka, gak mau juga dijadikan pacar keduanya, sekarang pun juga tidak. Tapi berhubung aku dapat akses gratis internet (top member) gak enak kalo gak melayani dia ngobrol (ngobrol doang gak ada salahnya kan?). Nemenin Csaba ngobrol aku jadi sedikit tau banyak tentang dia.

Csaba (24thn) anak kedua dari berdua doang dengan kakaknya, Zoltan (26thn) (panggilannya Zoli). Ketika bapaknya meninggal skitar 4 tahun yang lalu, mau gak mau kedua anak ini mesti ngurusin warisan, kerjaan dan duit yang di tinggalkan. Kalo 3 tahun yg lalu Csaba punya kapal untuk tempat tinggalnya, sekarang kapal itu harus di jual karena bisnis Zoli yang sempet ambruk. It seems like Zoli lebih cekatan dalam hal teknikal, dan Csaba sudah terbukti lihay dalam hal bisnis. Csaba punya 6 tempat kerja (aku tidak hafal semua) dari Cybergate, 2 toko baju di Subotica, some transportation office, lainnya aku gak tau, dan yang terakhir yang sedang dia kerjakan adalah dia membeli sebuah tempat di dekat rumahku (karena rumahku dekat dengan tengah kota, good location) untuk dibuat sebuah resto pizzeria yg dia beri nama Jail.

Jail ini ceritanya mau dibuka tanggal 2 Juni, tapi sepertinya molor jadi 9 Juni. Makanya setiap hari dia sibuk berada di Jail untuk mengatur semua interior dan peralatan dan segalanya. Well, he’s the boss. Aku sering dia ajak ke toko ini itu untuk beli perlengkapan Jail. Dari peralatan toilet tamu, dishes, sampai resep segala. Iya, dia mau taruh chinese food dalam menu nya.

Ngomong-ngomong tentang chinese, jadi teringat kenapa dia pdkt aku abis-abisan. Dia bilang gini. Dulu dia punya impian, ingin punya istri asian girl, tinggal di Senta dengan rumah kecil dan nyaman, punya mobil Ford Mustang 2 pintu (aku lupa tipe nya apa), dan punya kerjaan dimana-mana. Ketika mau ke kota besar, tinggal nyetir sekitar 1-3 jam (tergantung kota yang mana, Beograd atau Budapest sama saja jaraknya). Tapi tinggal di kota kecil, suasana tenang, area yang tepat untuk membersarkan anak, bla bla bla. Yang sudah dia punya hanya Ford Mustangnya saja. Calon istri, sedang mencoba mendekati.. aku.

Duh.. aku bilang berkali-kali padanya, aku punya pacar. Lagian masa mau LDR lagi dengan jarak Jakarta-Senta (oh tidak). Aku bilang, nonsense *dengan tertawa*. Aku bilang, kamu hanya ingin ‘mencoba’ aku, bukan serius. Entahlah, dia cukup pd dengan menawarkan diri sebagai calon suami yang berpendapatan +/-3000 Euro (sekitar 40juta) per bulan, sama agamanya, bisa ngasi Serbian & Hungarian Citizenship. Duh..

CsabaKalo kemarin-kemarin aku sibuk menghindar darinya, hari ini aku ditemani olehnya untuk mengurus Serbian Citizenship untukku. Telpon hp nya tidak berhenti berdering! Persis seperti bisnismen super sibuk. Tampangnya pun jadi serius, saat itu aku baru perhatikan, tatapan matanya tajam (hihihi). Secara fisik, Csaba termasuk tambun, mirip Isdah. Tapi dia punya dada dan bahu yang besar karena olahraga kickboxing, katanya. Dia juga sering bilang padaku “aranyos vagy”, “szep vagy”, dan merayu ingin jadi suamiku, bla bla bla. Hahaha.. begini toh cara European Guy flirting. Dia tidak pede ketika aku minta fotonya dia, apalagi ketika aku bilang foto itu ingin ku publish ke websiteku. Aku berhasil motret dia sedikit dengan kamera hp (yah, seadanya).

Tidak, aku tetap tidak tergoda, walopun Hendro sudah mendorong-dorong aku untuk menerimanya atau kalau tidak diberikan saja untuk dia. Hahaha.. *menepis dorongan Hendro* Hus.. malu ah sama orang bule, tauk :p

Tadi pagi aku melihat keponakan Csaba (anak dari Zoli dan istrinya), namanya Emma. ADUH CUTE BANGET! Masih umur 1.5thn. Damn, kalo aku menikah sama Csaba, aku bisa dapet bayi bule bermata biru dan berambut pirang kyk Emma gak yah? Hehehe.. tempting! < < demi pemirsa blogku, nanti aku mencoba mendapatkan foto Emma >>.

Gosip paling update: Csaba cerita kalo dia denger gosip tentang Kori, bahwa Kori sudah tau kalo Csaba mendekati aku dan mungkin dia berpikir aku jadian dengan Csaba. Dan, Kori kesal sekali. Hihihi.. -end of gossip-