Akhirnya Ketemu Juga!

Aarrhhhggg… surat babtis ku ketemu! Sialan banget deh. Gini gini.. aku ceritakan secara kronologis gmana ktemunya.

2 minggu lalu, telah disetujui bahwa rumahku yang lama di daerah Rempoa terjual sudah. Seminggu kemudian pembeli rumah (seorang pasutri yang belum dikaruniai anak) mentransfer DP-nya sebagai tanda jadi. Berhubung aku ngga ngerti jual beli rumah, persoalan ini ditangani oleh Tante Anne sebagai pengganti my mom. Sudah dari sebulan yang lalu tante tanya-tanya tentang akte kelahiran adikku yang sangat diperlukan dalam jual beli rumah ini, karena rumah ini atas nama adikku. Entah bagaimana surat-surat berharga mom hilang saat pindahan dari rumah Rempoa ke rumah yang sekarang, 4 tahun yang lalu. Since then, my mom tidak melakukan apapun kecuali menggunakan fotocopy dari surat-surat penting tersebut. Benar, my mom memang slebor, just like my bro. Luckly, I’m not.

Kebayang dong gimana mahalnya bagi Tante Anne untuk mengurus kembali surat-surat tersebut, membuat kembali, laporan hilang dari polisi, dsb dsb. Sampai sampai liburan kami ke Singapore kemarin juga masih terlihat ke-stres-an dari wajah Tante Anne, menghadapi my mom yang sudah ingin melupakan persoalannya di Jakarta, dan menikmati hidup barunya di Singapore. Kadang, kita kesel banget sama mom karena tidak peduli dan tidak berinisiatif membantu mencari surat penting tersebut. I mean, surat-surat penting itu termasuk akte kelahiran aku, adikku, mom sendiri. Juga IMB rumah Rempoa, dan surat-surat penting yang berhubungan dengan rumah Rempoa. Jangan ditanya bagaimana kita mengatasi itu semua selama 4 tahun tanpa surat aslinya :p

Berhubung pembeli rumah Rempoa sudah membayar DP, itu artinya kita harus singkirkan semua.. i mean.. SEMUA barang dari rumah Rempoa. My mom itu seorang yang paling malas membuang barang, apalagi barang yang penuh memory. Tiba-tiba aku menyadari, my mom tiba-tiba mirip denganku, haha. Jadi, barang-barang masih banyak tertinggal di rumah Rempoa, dari mainan dan buku adikku ketika balita, mainanku ketika masih SD-SMP, barang-barang mom yang sudah tidak menarik baginya, sofa bulukan, kulkas yg sudah tidak menarik, vacoom cleaner rusak, kasur nganggur, bunk bed yg baru dipakai sekali saja, dan masih banyak barang-barang kecil lainnya yang susah disebutkan.

Nah, berhubung senin adikku sudah mulai masuk sekolah, maka sejak seminggu terakhir ini kami sudah merencanakan untuk pindahan barang-barang tersebut ke rumah sekarang, mumpung masih ada tempat walopun akan jadi sumpek. Supir kami minta masuk hingga hari minggu, workers lainnya kami minta lembur untuk mengepak, menelpon teman yang butuh menampung barang-barang bekas yg masih layak pakai, dll.

Seperti tadi siang, dus-dus tetap masih berdatangan dengan label isi barang mom, aku, adikku, dll. Kusempatkan membongkar walking closet mom. Sejam kemudian.. kita menemukan dus yang berisi semua surat penting yang sudah kita cari-cari selama 4 tahun. Rasanya ingin teriak. Dus itu terletak dekat dengan pintu, hanya saja sudah di tumpuk dengan dus-dus lainnya. Ah sudahlah.. memang Indonesia terkenal dengan sogok menyogok, tapi sekarang kita bisa berpuas lega karena kita punya surat aslinya.

Dus-dus terakhir datang ketika hari menjelang malam. Aku tadinya ingin mencari skripsi kakaknya temanku yang harus kukembalikan karena dia perlu untuk lamaran kerja. Besok harus sudah kukasih. Tapi aku melihat dus kristal-kristal mom yang rasanya takut pecah aja kalo ditaruh di lantai begitu saja bersama dengan dus lainnya. Walopun dengan badan capek, aku siapkan air hangat dan sabun cuci piring untuk merendam gelas-gelas kristal mom. Ketika sudah kering, aku mulai menaruhnya dalam lemari dekat dapur yang tadinya adalah tempat rak bukuku. Ketika aku menaruh gelas terakhir (total gelas kira-kira 50 pcs) aku baru menyadari di rak paling atas dari lemari buku ternyata masih tertinggal 1 baris buku-buku yang belum dipak. Tiba-tiba mataku tertuju pada 1 buku putih. OH MAI GOT! Itu kan buku puisi pastor yang membabtisku. DAN DIDALAMNYA KUTARUH SURAT BABTISKU. Aku teriak! Sungguhan!

Ah dasar sial. Gajah di depan mata koq ngga kelihatan. Ya mungkin itu rasanya mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Makin dicari, makin panas suhu kepala.. makin susah menemukan dengan akal sehat. Toh akhirnya ketemu juga.

Gaun = Ribet!

Kemarin aku ke Mangga Dua ceritanya mau jahitin kain untuk acara kawinan bos ku. Aku dapat posisi jadi pager ayu. Anehnya, kain yang dikasi bukan kain seragam, tapi beda-beda tiap orang, yang penting tema-nya romantic. Bahkan modelnya pun beda-beda. Ada yang dibelikan sudah jadi, ada yang hanya dikasih kain lalu bikin sendiri. Aku kedapetan kain warna ungu. Pertama aku tidak suka warna ungu, walopun ungu-nya warna muda. Kesannya janda gitu. Kedua, kainnya lemes banget, beda dengan kain untuk Ririn atau Dhiana yang dari bahan satin. Ternyata kainku bahan sifon.

Setelah muter-muter di Mangga Dua ITC lantai 3 dan 4, aku melihat beberapa model yang aku suka. Berhubung rata-rata baju gaun bermodel kemben dengan rok panjang, ya aku mencocokkan kedua syarat tersebut. Di salah satu toko yang jual gaun jadi, ada 1 yang aku naksir abis. Warnanya kuning-putih. Roknya jatuh ke bawah A-line yang tidak lebar. Manis sekali. Pas aku coba, rok-nya tidak muat, padahal ukurannya L. Kembennya muat karena bagian belakang dibuat tali-tali silang, jadi ukuran dada sebesar apa pun bisa muat, tapiii.. bagian toket terlihat jelek karena ngga pas dengan boostie (tulang baju untuk pas di toket) yang aneh, jadi terlihat jelek. Yang membuat bagus itu paduan kain dalam berwarna putih dan kain sifon tipis warna kuning. Fyi, dulu aku pernah punya baju Barbie yang mirip seperti ini, dan aku suka banget :p. Ririn menemukan baju jadinya di toko ini, jadi dia ngga akan jahit kainnya yang berwarna biru.

Akhirnya kita ke toko King, yang menjual gaun jadi maupun bikin. Nah, berhubung rekomendasi Junjun bahwa jahit di toko ini berkisar seharga 150-200 ribu, aku ok saja. Setelah aku kasi kain ke nCik-nya, nCik-nya bilang kalo kainku itu nanggung. Nanggungnya karena warna ungunya pekat (seharusnya transparan sedikit) supaya bisa di aplikasikan dengan warna dasar yg biasanya berbahan satin. Jadi kalo kain ungu dijadikan dasar, tidak bisa karena lemes. Dan kalo dijadikan lapisan luar, warna dari kain dasar tidak akan terlihat (mau itu ungu, putih maupun hitam). Aneh kan? Apalagi ketika dia tanya.. “ongkos jahitnya ditanggung ngga?” er…

Apaa?? ongkos jahit ternyata 300ribu. Entah gmana, si Junjun salah informasi. Duh.. Belum lagi asesoris, sepatu, make up. Bukannya dibayarin malah aku yang mesti keluar banyak. Apalagi ketika si nCik-nya bilang berapa harga kain ungu tsb. Hanya 10ribu semeter. WHATT?? Ibu-nya bos ku cuman modal 30ribu tapi pesta perkawinan di Mulia? Get real!!

Lemes sudah .. mukaku langsung pucat.. kesel.. pesimis. BT banget deh. Si Ririn dan Junjun yang nemenin aku pun sampe bengong. Tapi mereka sih sudah tenang, karena Junjun sudah ada baju dan Ririn pun sudah beli di toko sebelumnya.

Aku disarankan mencoba baju yang sudah jadi karena harganya sekitar 120-150 ribuan. Beberapa kali mencoba, aku kurang sreg. Aku tidak suka berpayet (yang ada manik-manik). Aku tidak bisa pakai yang terlihat perut gendutnya. Aku tidak suka yang rame dengan bahan organdi.. pasti gatel. Pokoknya segalanya aku komentarin. Memang, pilihan baju jadi yg murah di toko King bisa dibilang tidak sebagus yang di toko sebelumnya tempat Ririn beli baju jadi. Tapi toh di toko sebelumnya itu aku sudah coba baju dan tidak muat, dan yang lainnya pun tidak menarik. So.. tambah stress.

Gak heran, Carrie Bradshaw super stress ketika mencari-cari gaun untuk pernikahan yang cocok, sampai akhirnya malah putus dari Aidan (duh Aidan itu cowok perfect!) dalam serial Sex n The City. I mean, mencari gaun itu repot.. kecuali buat cewek yang bodynya perfect, tentu saja.

Nah, akhirnya aku memutuskan jahit saja. Biar deh, ongkos jahit 300ribu aku yang tanggung asal bajunya bisa dipakai tidak hanya sekali. Akan aku buat yang bagus, biar yang lain iri.. huh. Aku minta lapisan dalamnya warna putih dari bahan kain untuk baju pengantin (aku lupa namanya) karena bahan ini kaku tapi silky. Lalu ditimpa dengan warna ungu sifon.. gak papa deh, yang penting jatuhnya bagus, seperti contoh model gaun jadi di toko sebelumnya. Lalu diberi efek lipit-lipit yang natural, tidak pakai payet, pakai tambahan kain sebagai sabuk (seperti Obi pada pakaian jepang) untuk efek menguruskan perut. Pokoknya minimalis elegan.

Done, nCik-nya mengukur badanku. Nah, aku tinggal beli bando lebar yang nanti dilapisi kain senada dengan gaun, lalu tidak perlu beli sepatu lagi karena aku sudah punya sepatu putih hak 5 cm. Lalu, aku pikir-pikir, aku minta tali spaghetti di bahu untuk kembennya, supaya jangan ada tragedi kemben jatuh :p

Moral of the story: 2 minggu lagi setelah gaunnya jadi, baru akan ada skrinsyutnya 🙂